Panen Efisien, Lewat Bertanam Bawang Merah Dari Bijinya | Villagerspost.com

Panen Efisien, Lewat Bertanam Bawang Merah Dari Bijinya

Menyemai biji bawang di tempat pembibitan (dok. villagerspost.com/rahmat hadinata)

Bunga dari daun bawang, sumber biji untuk bibit tanaman bawang merah (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)

Tanaman setelah disemai hingga usia 45 hari bisa ditanam di lahan luas (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)

Lima tahun lalu, kalau ada orang Sumba diminta menanam bawang merah dari biji, mereka pasti menggeleng keheranan. “Aaahh.. tau Jawa ini anga-anga saja (ada-ada saja) mana ada bawang merah pung biji (punya biji). Maklum, dulu kebiasaan orang Sumba, jika menanam bawang merah, pasti dari umbinya.

Tapi, itu lima tahun lalu. Kini, kebanyakan petani di Sumba sudah mengerti dan sudah biasa menanam bawang merah dari bijinya. Mereka pun, sudah merasakan keuntungan dari menanam bawang dengan cara ini.

Maklum, budidaya bawang merah bila dilakukan lewat tanam biji sangat efisien dibandingkan dengan tanam dari umbi. Jika ditanam dari umbi, per satu hektare membutuhkan bibit sekitar 1 ton (1.000 kg) sampai dengan 1,5 ton (1.500 kg). Bila harga bibit Rp35.000/kg, maka biaya yang harus dikeluarkan hanya untuk bibit saja sekitar Rp35 juta sampai Rp52,5 juta untuk kebutuhan satu hektare.

Akan sangat berbeda jauh bila kita tanam dengan bijinya. Kebutuhan per hektare hanya sekitar 3 kg. Harga bibit biji bawang memang terkesan mahal yaitu mencapai Rp3,5 juta per kilogram, namun karena kebutuhannya efisien yaitu hanya 3 kg untuk satu hektare, maka biaya bibit hanya sebesar Rp10,5 juta. Jelas lebih efisien dibandingkan dengan tanam dari umbi.

Keuntungan lainnya, jika kita hendak tanam dari biji harus disemaikan terlebih dahulu, baru bisa dipindah ke lahan luas, dengan demikian, petani akan tahu keturunan bibit yang asli, petani bisa menyimpan bibit untuk masa tanam berikutnya. Sedangkan jika tanam dari umbinya petani tidak tahu bibit tersebut turunan keberapa. Maka tidak mengherankan jika tanam dari umbi, kerap kali saat usia tanam baru umur 45 HST (Hari Setelah Tanam) daunnya banyak yang layu dan kering, serta busuk.

Padahal, dari sisi potensi produksi tidak jauh berbeda. Produksi bawang merah jika ditanam dari biji bisa menghasilkan antara 20-25 ton per hektare selama 70 hari budidaya, jika petani mampu mengendalikan hama ulat grayak dan penyakit bercak ungu serta bercak putih. Hasil yang kurang lebih sama, dengan penanaman dari umbi.

Jika harga sedang bagus, tentu saja penghasilan petani bawang yang menanam dari biji bisa lebih besar karena bisa menghemat dari biaya benih yang lebih kecil. Biasanya di Pulau Sumba sekitar bulan Maret-Mei harga bawang merah di pasaran relatif mahal, yaitu di kisaran harga Rp35.000/kg ke atas.

Tips dari: Rahmat Adinata, Petani Organik, Anggota Gerakan Petani Nusantara

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *