Panen Padi Dua Kali Setahun di Lahan Kering dengan Padi Singgang | Villagerspost.com

Panen Padi Dua Kali Setahun di Lahan Kering dengan Padi Singgang

Padi yang ditanam dengan metode singgang dengan pemberian pupuk yang tepat dan mikroba alami untuk menjaga kesuburan tanah, membuatnya tetap tumbuh baik di lahan tadah hujan meski hujan tak turun sama sekali (dok. villagerspost.com/sudargo)

Oleh: Sudargo, petani asal Desa Ronggo, Kecamatan Jaken, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Jurnalis Warga untuk Villagerspost.com

Kabupaten Pati, Jawa Tengah, dimana sata tinggal dan melakukan usaha cocok tanam, sebenarnya bukan wilayah pertanian yang terlalu subur. Terlebih di wilayah Tenggara, yang terletak di pinggir pegunungan kapur yang panas. Bagi petani di wilayah ini, bisa berhasil panen satu kali saja dalam setahun sudah menjadi kebanggaan.

Pasalnya, dengan sistem sawah tadah hujan yang jauh dari pengairan dan jauh dari sumber pengairan termasuk embung, sangat sulit untuk bertanam padi. Terlebih di musim kemarau dimana hujan sangat jarang turun. Tetapi saya sebagai petani padi, selalu berpikir bagaimana caranya untuk tetap bisa panen dua kali dalam setahun dalam kondisi tersebut.

Akhirnya saya menerapkan metode bertanam padi singgang. Singgang adalah padi yang tumbuh kembali setelah dipanen dengan sabit. Biasanya antara 30 hari sampai 40 hari setelah panen. Singgang tersebut bisa menghasilkan bulir padi yang bernas. Semakin lama umur singgang maka semakin baik kualitas gabahnya. Namun ukuran dan jumlah bulirnya tidak sebanyak padi dari penen biasa.

Dengan metode ini, selesai panen musim tanam 1 (MT1), lahan sawah saya airi, namun setelah 1-2 hari air saya buang. Setelah 3-5 hari, padi yang sudah dipanen tersebut, saya potong lagi tunggaknya, kira-kira tinggal tersisa 4-7 cm.

Meski kering, padi yang ditanam dengan metode singgang dan diberi pupuk seimbang serta mikroba alami, malainya tetap tumbuh dan berisi, produktivitas tak kalah dengan padi tanam benih (dok. villagerspost.com/sudargo)

Biaya memotong tanaman pad yang sudah dipanen ini untuk areal seluas 1/4 hektare butuh tenaga antara 2-5 orang. Setelah dipotong, dalam umur satu minggu, saya melakukan pemupukan pertama dengan 4 kg urea + 2 kg za, + 4 kg tsp 363.

Setelah umur 15-25 hari setelah dipotong, kemudian disemprot dengan plant growth promoting rhizobacteria atau PGPR (bakteri yang memacu pertumbuhan akar) dan mol atau mikroorganisme lokal buatan sendiri. Saya berusaha menyeimbangkan tanah dengan pemberian pupuk dan juga mikroba.

Setelah umur 1 bulan, tanaman kemudian saya beri pupuk susulan kedua. Namun sayangnya setelah pemupukan kedua hingga panen tidak ada hujan sama sekali. Tetapi di sinilah mulai ada titik terang sebagai petani tadah hujan. Meski tanpa hujan dengan pemupukan dan pemberian mikroba, padi tetap bisa tumbuh.

Metode singgang yang bisa menghasilkan panen berkali-kali dengan hanya menanam sekali (salibu) ini ternyata bisa berhasil meski tak ada hujan. Sawah saya yang hanya seluas 1/4 hektare bisa menghasilkan 15 zak gabah kering giling (GKG) dengan berat per zak rata-rata 50 kilogram. Padahal yang tanam dari benih hanya dapat sedikit lebih banyak yaitu 17 zak GKG saja.

Alhasil ujicoba metode singgang atau salibu yang saya lakukan di lahan kering tadah hujan ini akhirnya mulai dilirik petani lainnya di wilayah saya. Di wilayah lain tanam salibu dengan metode singgang ini mungkin hal yang biasa. Tetapi untuk daerah tadah hujan seperti di wilayah saya, metode ini sangat membantu.

Selain bisa panen dua kali, sistem ini juga membantu menghemat biaya perawatan, pemupukan dan lain-lain. Setelah dihitung, dengan luas lahan 1/4 hektare, jika tanam dari benih membutuhkan biaya Rp1,8 juta dengan metode singgang atau salibu ini hanya membutuhkan biaya sebesar Rp250 ribu.

Padahal selisih produktivitasnya hanya kurang lebih dua zak GKG saja atau paling banyak 200 kilogram, untuk lahan 1/4 hektare, di daerah kering tadah hujan dengan umur panen padi singgang 70 hari.

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *