Pestisida Nabati untuk Petani di Kawasan Pinggiran Hutan | Villagerspost.com

Pestisida Nabati untuk Petani di Kawasan Pinggiran Hutan

Tanaman padi di lahan milik Sudargo yang lebih sehat, karena dirawat menggunakan pestisida nabati yang ramah lingkungan (villagerspost.com/sudargo)

Oleh: Sudargo Ronggo, Petani dari Kecamatan Jaken, Pati, Jawa Tengah

Perkembangan pertanian saat ini menuju pada masa-masa yang mengkhawatirkan, dimana banyak petani mengambil cara singkat untuk mendongkrak hasil pertanian dengan penggunaan pupuk dan pestisida kimia tanpa memikirkan dampaknya terhadap lingkungan. Mulai dari proses semai, penanaman atau proses lanjutannya, petani sudah sulit mengurangi ketergantungan pada pupuk dan pestisida kimia, apalagi meninggalkannya.

Hal ini jelas mengkhawatirkan. Padahal, kalau kita mau berpikir sediri saja, maka kita, para petani sebenarnya bisa menjalankan tata laksana pertanian secara lebih ramah lingkungan dengan setidaknya mengurangi –jika tidak bisa meninggalkan sama sekali– penggunaan pupuk dan pestisida kimia. Petani pun bisa ikut melestarikan lingkungan dan mengurangi dampak perubahan iklim dengan praktik-praktik pertanian yang ramah lingkungan.

Sudargo menunjukkan produk pestisida nabati hasil karyanya (dok. villagerspost.com)

Misalnya, mengurangi penggunaan pupuk kimia yang mengandung unsur amoniak, ini akan membantu merawat kesehatan tanah dan mengurangi dampak perubahan iklim. Seperti diketahui, kelebihan unsur amoniak pada tanah akan membuat tanah menjadi kacel (keras). Tanah yang keras ini akan membuat suhu udara cepat naik jika terkena pantulan sinar matahari, karena bakteri yang berfungsi melakukan pembusukan (dekomposi) hilang sehingga tidak ada rongga pada tanah dan unsur hara tanah akan berkurang.

Itu baru contoh kecil dari kerusakan yang terjadi akibat penggunaan bahan-bahan kimia sintetis secara berlebihan pada pertanian. Belum lagi dampak panas matahari yang tidak diserap tanah yang keras, dipantulkan langsung ke atmosfer dan mempercepat pemanasan global, yang tentu bisa membawa dampak lebih merugikan pada petani.

Meski begitu, bukan berarti petani harus meninggalkan pestisida dan pupuk kimia sama sekali. Hanya saja jangan berlebihan. Dari pengalaman saya keliling daerah, petani dalam penggunaan pupuk kimia misalnya, sering kali berlebihan. Misalnya, ada petani yang untuk lahan 1 hektare saja, bisa menggunakan sampai 12 kuintal pupuk, atau dalam 1,4 hektare penggunaannya hingga 3 kuintal pupuk.

Senthe atau talas-talasan, salah satu bahan pembuat pestisida nabati (dok. villagerspost.com/sudargo)

Selama saya bertani, dengan lahan 1/4 hektare, menggunakan pupuk kimia separuh dari itu saja tidak pernah, tetapi toh hasilnya tetap baik. Memang mengkhawatirkan jika ada petani yang sampai “kecanduan” pupuk kimia padahal dengan penggunaan yang tepat pun hasil panennya baik.

Selain pupuk kimia, penggunaan pestisida atau racun sintetis pada pertanian pun sama dampak buruknya, khususnya pada terjadinya pemanasan global. Tak hanya meracuni dan mematikan bakteri yang bertugas melakukan pembusukan dan pengkayaan unsur hara tanah, udara juga menjadi tercemari. Hasil panen pun sudah pasti terkontaminasi.

Kita bisa jadi sehari-hari mengkonsumsi makanan baik itu beras, cabai, bawang merah yang tercemar unsur kimia sehingga kesehatan terganggu, mudah stres, demam dan penyakit lainnya yang juga bisa menurunkan produktivitas kerja petani.

Karena itu, saya selalu mendorong para petani untuk setidaknya mengurangi penggunaan bahan-bahan kimia sintetis. Untuk pupuk kita bisa mengurangi penggunaannya hingga 70-80 persen, sementara untuk pestisida, kita bisa meninggalkan sama sekali dengan cara memanfaatkan kekayaan alam yang ada untuk memproduksi pestisida nabati yang ramah lingkungan.

Untuk petani di kawasan pinggiran hutan seperti saya, banyak bahan yang bisa dipakai untuk membuat pestisida nabati dari tanaman yang tumbuh di sekitar hutan. Misalnya, tanaman tuba, senthe (Alocasia Macrorrhiza Schott–jenis talas-talasan), kunyit, brotowali, kecubung, daun landep, daun sukun, dan lain-lain yang cukup melimpah.

Daun tuba atau akar tuba, sangat ampuh untuk membunuh hama secara alami (dok. villagerspost.com/sudargo)

Cara mengolahnya pun mudah. Untuk membuat pestisida nabati bagi hama seperti walang sangit, kutu loncat, wereng dan sebagainya, cukup sediakan 0,5 kh daun senthe kemudian dicacah atau ditumbuk halus dan hasil cacahan/tumbukan itu dimasukkan ke dalam tabung ukuran 10 liter. Cacahan itu kemudian ditambahkan akar tuba 1/8 kilogram, urin sapi 3 liter, dan 0,5 kg kunyit ditumbuk halus lalu diambil airnya kira-kira 3 liter ditambah air 2 liter, dan disatukan dalam tabung lalu ditutup rapat.

Setelah tiga hari, tabung penyimpanan formula tadi dibuka selama beberapa menit sekadar untuk mengeluarkan gas penguapannya, kemudian ditutup kembali dan terus demikian selama minimal satu minggu. Semakin lama formula difermentasi, maka hasilnya akan semakin bagus. Setelah itu, pestisida nabati tadi siap untuk diaplikasikan ke tanaman yang terkena hama.

Formula tersebut sangat baik untuk membasmi hama walang sangit, kutu loncat, wereng lodoh, dan lain-lain, khususnya pada tanaman padi, cabai, tomat dan bawang merah. Formula itu mengandung berbagai jenis racun alami yang tidak merusak lingkungan. Senthe misalnya, berdampak sangat gatal pada hama sehingga hama tidak akan betah berada di area tanaman yang disemprot formula tersebut.

Kemudian, tuba berdampak melumpuhkan sel saraf hama itu sendiri. Kunyit memiliki senyawa yang mudah masuk ke dalam hama penyakit. Urin sapi berdampak memberikan rasa perih pada luka hama selain mengembalikan kestabilan pertumbuhan daun pada tanaman itu sendiri.

Meski belum pernah diujicoba secara ilmiah di laboratorium, formula ini sudah saya terapkan untuk membasmi hama di lahan saya sendiri, dan juga beberapa sudah dipakai oleh kawan-kawan petani lainnya. Sejak tahun 2011 saya menggunakan formula pestisida nabati ini alhamdulillah, hasil panen saya selalu bagus dan juga tentu lebih sehat karena tidak ada residu pestisida kimia. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *