Teknologi Off-Season, Jaga Stabilitas Harga Buah Mangga | Villagerspost.com

Teknologi Off-Season, Jaga Stabilitas Harga Buah Mangga

Masyarakat melakukan panen mangga (dok. kabupaten blora)

Pengembangan teknologi off season atau membuahkan tanaman di luar musim untuk tanaman mangga sangat penting untuk memperpanjang musim panen panen mangga. Tujuannya adalah agar harga buah mangga tidak jatuh saat musim panen yang umumnya berlangsung pada bulan November hingga Desember.

Teknologi off season akan membuat masa panen mangga tidak menumpuk di satu waktu agar harga stabil. Teknologi off season sudah tersedia yaitu dengan penggunaan paklobutrazol yaitu senyawa kimia bila diberikan ke suatu tanaman akan memberikan efek penghambat pertumbuhan tunas. Namun demikian teknologi ini harus didukung dengan manajemen pengairan dan pemupukan yang baik serta pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) untuk mendukung keberhasilannya

Ketersediaan air harus diperhatikan, karena air menjadi faktor utama pembatas produksi. Meskipun nutrisi yang diberikan cukup, namun tanpa ketersediaan air nutrisi tersebut tidak dapat tersedia bagi tanaman. Ketersediaan air di wilayah kering sangat terbatas, untuk itu perlu diupayakan pemanfaatan air secara efisien.

Saat ini telah berkembang teknologi yang memungkinkan penghematan input pupuk, air dan pestisida untuk pertanian. NanoClay, biochar dan kompos batang pisang merupakan beberapa produk higroskopis yang dapat berfungsi menyerap dan melepaskan serta menyimpan air dan nutrisi tanaman dalam jumlah besar. Tujuannya adalah untuk mendapatkan teknologi produksi mangga yang efisien air yang mendukung off season mangga.

Nanoclay digunakan untuk meningkatkan produksi, dengan penggunaan air 1/3 dari kebutuhan normal air irigasi. Biochar dapat digunakan untuk memperbaiki struktur tanah, meningkatkan tambatan unsur hara esensial yang dibutuhkan bagi pertumbuhan tanaman.

Kompos Batang pisang digunakan sebagai kompos untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman. Dengan dosis 60 kg/tanaman berpengaruh terhadap efisiensi penggunaan air pada tanaman mangga di lapangan sebesar 33% yaitu 1600 liter/tanaman) dibandingkan dengan kontrol yaitu 2400 liter/tanaman dan peningkatan produksi sebesar 45-50%.

Dengan teknologi ini diharapkan, ketersediaan mangga dapat dilakukan sepanjang tahun. Hal ini sangat penting mengingat mangga adalah merupakan tanaman buah penyumbang terbesar ketiga terhadap produksi buah nasional setelah pisang dan jeruk. Indonesia menduduki urutan keempat negara penghasil mangga terbesar di dunia, dengan produksi tercatat mencapai 2,4 juta ton per tahun.

Hanya saja penerapan teknologi off season ini memang harus dilakukan secara hati-hati. Pasalnya teknologi ini salah satunya bisa berdampak pada terganggunya daur atau rantai ekologi. Dengan teknologi off season, tanaman mangga menjadi miskin daun yang menjadi makanan bagi ulat, padahal keberadaan hama ulat ini penting bagi daur hidup mangga. Ulat berfungsi memakan daun mangga sehingga pohon akan menumbuhkan tunas dan daun baru yang lebih sehat, agar tanaman siap berbuah pada musimnya.

Namun dengan teknologi off season, pertumbuhan tunas justru dihambat sehingga tidak ada cukup persediaan makanan bagi ulat. Ini memungkinkan ulat-ulat daun akan berkembang sepanjang tahun dan jumlahnya bisa berlipat kali. Serangan ulat pada mangga pada gilirannya akan melampaui daya dukung tanaman dan ulat pun bisa menjadi bencana.

Sumber: Litbang Pertanian dan sumber lainnya

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *