Heri Setiawan: Dari Kebun Nanas ke Bangku Parlemen | Villagerspost.com

Heri Setiawan: Dari Kebun Nanas ke Bangku Parlemen

Heri Setiawan berfoto bersama keluarga usai dilantik menjadi anggota DPRD Jawa Timur (dok. pribadi)

Sejak lulus sekolah menengah atas, cita-cita Heri Setiawan (35) sebenarnya sederhana saja. Bertani. Heri ingin meneruskan profesi yang diwariskan dari ayahnya yaitu berkebun nanas, yang memang merupakan komoditas andalan petani di Desa Sempu, Kecamatan Ngancar, Kediri, Jawa Timur. Selain bertani, pria kelahiran 25 Maret 1984 ini, juga membuka usaha event organizer sebagai sampingan.

Lewat bertani, usaha EO kegiatan otomotif dan usaha jasa pengamanan untuk menyediakan tenaga security untuk kegiatan pameran lewat perusahaan Sujud Sukur Tigad NMT, sejatinya sudah cukup bagi Heri untuk bisa menghidupi istri dan kedua anaknya. Tetapi suratan nasib memang berkata lain, bakat Heri mengelola lembaga kemasyarakatan lewat Rantai Kelud yang bergerak di bidang pendampingan dan advokasi masalah-masalah pertanian, telah membawanya melangkah ke dunia politik.

Petualangannya di dunia politik itu kemudian membawanya dilirik menjadi penguruh PDIPerjuangan Kabupaten Kediri di tahun 2015. Heri dilirik partai berlambang banteng bemoncong putih itu lantaran secara tidak terduga berhasil mendongkrak perolehan suara pasangan Jokowi-JK di tahun 2014 lalu.

Puncaknya, pada tahun ini, Heri yang awalnya berkebun nanas berhasil melenggang menjadi anggota DPRD Jawa Timur. Dia berhasil lolos ke kursi parlemen berkat perolehan suara yang moncer di daerah pemilihan 8, Jawa Timur.

Bagaimana perjalanan anak ke-3 dari 4 bersaudara pasangan almarhum Sugiyanto-Jumi ini dari kebun nanas ke kursi parlemen, simak perbincangannya dengan Ferri Styabudi yang mewawancarai Heri untuk Villagerspost.com.

Bagaimana ceritanya dari bertani hingga melenggang ke kursi DPRD Jatim?
Jadi sebenarnya awalnya saya memang bertani, saya sejak SMA sudah bertani, tahun 2002, bertani nanas. Saya belajar bertani dari orang tua. Namun selain bertani saya juga mengelola lembaga swadaya masyarakat yang kebetulan bergerak di bidang pendampingan dan advokasi terkait masalah-masalah tani, namanya Rantai Kelud.

Jadi Rantai Kelud ini menjadi embrio langkah Mas Heri menuju dunia politik?
Ya, embrio kita awal memang dari situ. Dari Rantai Kelud, saya yang tadinya murni petani nanas, terus kenal dengan dunia politik. Kemudian, awalnya tahun 2014 kemarin, kita mulai bermain di dunia politik.

Ada pengaruh juga dari orang tua untuk terjun ke politik, khususnya terkait pilihan ke PDIP?
Kalau saya pribadi lho ya, kakek dan orang tua saya itu orang Marhaen. Orang PNI murni. Terus saya mengikuti garisnya orang tua dan garisnya kakek. Karena disini yang berbasis Marhaen dan PNI ideologinya itu adalah PDIPerjuangan.

Bagaimana awal mula terlibat di PDIP?
Awal itu 2014, kita menggarap salah satu calon legislatif di kabupaten, itu Alhamdulillah di Dapil 4 sukses. Terus setelah itu kan pemilu presiden, Pemilu Presiden kita menggarap Jokowi-JK ketika itu, dengan kawan-kawan Rantai Kelud juga tentunya. Kita mengadakan deklarasi, itu non parpol awalnya. Deklarasi terus sampai bikin gerakan sablon gratis. Ketika itu kita keliling se-Kecamatan Ngancar, ke desa-desa, ke dusun-dusun untuk mengadakan sablon gratis Jokowi-JK.

Waktu itu magnet dari ketokohan Jokowi yang luar biasa tahun 2014, masyarakat sampai mau memberikan kaosnya untuk kita sablon. Itu salah satu kemenangan kita ketika itu, karena kita nggak punya apa-apa untuk memenangkan Jokowi karena kontribusi kita ya cuma niat, terus kita saweran sama teman-teman.

Akhirnya tahun 2014 persentase kemenangan Jokowi-JK di Kecamatan Ngancar tertinggi se-Kabupaten Kediri, sampai 77%. Pasca itu, karena yang muncul itu adalah ketokohan saya yang memimpin Rantai Kelud, terkait Jokowi-JK itu, saya dibidik oleh pimpinan PDIP Kabupaten Kediri. Tahun 2015 saya dimasukkan ke dalam kepengurusan PDIPerjuangan, kebetulan saya pegang di Wakil Ketua Bidang Ekonomi.

Jabatan terakhir sebelum berhasil nyaleg ini apa mas?
Ya, di Wakil Ketua Bidang Ekonomi sama pegang badan sayap, di badan saksi pemilu nasional yang menangani terkait saksi dan apa namanya mengawal perolehan pemungutan suara yang ada di TPS sampai tingkat KPUD.

Secara pribadi, kenapa tergerak dari yang tadinya petani, ke dunia politik, apa motivasinya?
Ketika kita masuk ke dunia politik praktis, keinginan kita sama teman-teman itu, adalah bisa mengawal kepentingan teman-teman petani. Salah satu contoh program yang ada di Kabupaten Kediri, provinsi maupun pusat, melalui partai kita bisa mengakses kepada minimal ke wakil kita di DPRD atau pun kepala daerah-wakil kepala daerah. Itu kemungkinan Insya Allah lebih mudah untuk mengakses terkait program-program pertanian yang ada di dinas terkait. Jadi motivasinya membantu petani melalui kebijakan-kebijakan.

Banyak yang bilang politik itu kotor, bagaimana tanggapan Mas?
Saya rasa nggak juga. Tergantung bagimana cara kita, politik itu kan dinamis. Kudu bisa membaca peluang, mengambil keputusan atau kebijakan di saat-saat, momentum yang tepat. Saya akui, cost politik itu gede banget kalo dilihat. Contohnya sosialisasi melalui baliho, itu satu ukuran 2×3 meter, itu ongkos pemasangannya hampir habis 300 ribu. Itu berapa kali pasang, kan ongkosnya gede. Dan itu dampaknya nggak signifikan, cuma 10% kalo menurut saya. Jadi saya melakukannya dengan model pendekatan, turun ke bawah, membangun jaringan, membangun silaturahmi, membangun akses, lha ketika lima tahunan ya ini kita unduh, hasilnya.

Alasan kemarin daftar caleg itu apakah permintaan dari atasan partai, atau ada alasan lain?
Awal itu dedikasi dan loyalitas saya ke partai, awal memang tidak ada niat untuk caleg karena saya masuk ke partai itu junioritas. Sangat junior banget karena masuk tahun 2015. Tapi karena niat saya ingin belajar, seluruh kegiatan partai, baik kaderisasi, kaderisasi pratama, madya, dari diklat-diklat itu saya ikuti semua karena saya ingin belajar. Lha ketika ada peluang untuk mengisi di Dapil 8 Provinsi mewakili PDIPerjuangan Kediri, saya ditugaskan pimpinan untuk mengisi posisi tersebut, seperti itu. Saya juga membaca peluang, di Dapil 8 itu meliputi Kabupaten Kediri dan Kota Kediri, dan itu sangat berpotensi untuk mendapatkan 2 kursi. Nah peluang itulah kita ambil kita garap.

Ada yang bilang, politisi sering seperti kacang lupa kulit begitu terpilih, rakyat kemudian dilupakan, apa pendapat Mas?
Ya memang sebagian besar seperti itu, tapi saya tetap berkomitmen. Karena pondasi saya itu dari seorang petani, dari organisasi yang mendampingi petani. Saya tetap kembali ke rohnya, seperti itu. Memang image yang terbangun seperti itu, tapi Insya Allah saya tetap komitmen.”

Bagaimana caranya membela kepentingan pemilih, apa yang dapat dilakukan terutama yang terkait di dunia pertanian?
Ya kita sering diskusi dengan kawan-kawan petani yang ada di bawah. Jadi kendalanya apa, masalahnya dimana, nah itu yang harus kita akomodir. Jadi kita kan sebagai pendengar. Jadi ketika kita menjadi pendengar, otomatiskan kita bisa mengaplikasi dan kita sampaikan kepada pemangku kebijakan, seperti itu.

Pemuda makin kesini makin jarang yang melirik jadi petani, nah mereka yang melirik pertanian apakah juga harus melek politik?
Kalau menurut saya iya sih. Makanya, kawan-kawan di BSPN ini saja pasukan saya ada 40 lebih dan notabene pendidikannya 80 persen S1, tapi mayoritas nggak paham tani gitu lho. Lha, ini ke depan memang cita-cita saya sama teman-teman di Rantai Kelud bagimana caranya bisa kawan-kawan khususnya pemuda bisa menjadi petani muda. Semacam itu. Lha dari kebijakan politik inilah nanti kita gunakan untuk bisa mengawal temen-temen yang ada di bawah.

Ada pesan khusus bagi pemuda yang tertarik ke dunia pertanian?
Jadilah petani yang baik dan benar. Artinya gini, selama ini petani itu kan dibuat, pemuda itu semacam gengsi. Ketika jadi petani gengsi, padahal nggak. Kalo menurut saya, hampir mayoritas 60 persen katakanlah, penghasilan saya ataupun aset itu dari tani.

Tergantung gimana kitanya bisa menerapkan ilmu menjadi petani yang baik. Petani juga harus bisa belajar untuk berorganisasi, mengorganisir orang, memupuk ketokohan. Untuk menjadi tokoh itu memang dengan jalan, minimal belajar organisasi dulu lah.

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *