#OmahDesa: KTD Abimantra, Bertani Organik di Tengah Kota | Villagerspost.com

#OmahDesa: KTD Abimantra, Bertani Organik di Tengah Kota

Bogor, Villagerspost.com – Bertani tidak harus identik dengan desa dan hamparan lahan yang luas. Bertani ternyata juga bisa dilakukan di tengah kota, di tengah lahan yang relatif sempit di kawasan kompleks perumahan. Hal itulah yang saat ini tengah dibuktikan oleh Kelompok Tani Dewasa (KTD) Abimantra, Kelurahan Kencana, Tanah Sareal, Kota Bogor.

Berlokasi di dalam kompleks perumahan Perum Griya Kencana, dengan anggota yang tidak berlatar belakang petani, 18 anggota KTD Abimantra, mengolah lahan seluas 300 meter persegi untuk ditanami berbagai jenis sayuran mulai dari jagung, kacang panjang, talas, hingga beternak lele. Kegiatan ini dimulai sejak Agustus lalu, sebagai upaya warga mengisi kegiatan di tengah pandemi, sekaligus sebagai upaya pemenuhan kebutuhan pangan lokal di masa pandemi.

Irwansyah, Ketua RT03/08, Perum Griya Kencana, yang sekaligus menjadi Ketua KTD Abimantra mengatakan, kegiatan ini bisa berjalan berkat dukungan dari seluruh warga. “Saya hanya memotivasi sebagai penggerak utama, disamping itu sebagai ketua RT, saya melihat ada semangat teman-teman ke arah sana, ke pertanian, peternakan lele,” ujarnya kepada Villagerspost.com.

Memanfaatkan lahan kosong milik warga yang tidak terurus, setelah mendapatkan izin pemanfaatan lahan, para anggota langsung bekerja membabat lahan, membuat bedengan, dan juga 3 areal kolam terpal untuk beternak lele. “Kita kerja bakti sampai dengan lahan seluas 300 meter, saat ini warga masih konsisten, kita juga sudah ada SK sebagai kelompok tani dewasa kita beri nama Abimantra, yang artinya keberkahan, mudah-mudahan berkah buat kita semua,” ujar Irwan.

Saat ini anggota KTD Abimantra berjumlah 18 orang, namun kata Irwansyah, tidak menutup kemungkinan semua warga bisa menjadi anggota. “Saya tekankan kepada para anggota, jangan lihat hasil, kita kerja saja dulu, tunjukkan bahwa kita bisa, ada kemauan dulu melakukan ini,” tegasnya.

Sementara itu, Yamin, warga RT 03/ RW 08 yang juga seorang penggerak pertanian organik mengatakan, aktivitas ini tidak hanya untuk sekadar mengisi waktu luang di masa pandemi, tetapi juga sebagai upaya pemenuhan pangan di wilayah RT. “Ini sekaligus mematahkan image, perumahan orangnya individualis, sendiri-sendiri, kita bisa bergerak bersama, berkolaborasi memanfaatkan lahan sempit untuk memenuhi kebutuhan pangan di lingkungan RT,” paparnya.

Yamin menegaskan, keterlibatannya di KTD Abimantra juga untuk mendorong tewujudnya komunitas pertanian organik di beberapa wilayah mulai dari warga kompleks, pengajian, untuk mendorong masyarakat mengoptimalkan lahan-lahan kosong yang belum produktif untuk dimanfaatkan sebagai areal bertani. “Harapannya ketika kelompok terwujud, komunitas ada, bisa saling memberikan subsidi dan bersubstitusi dari produk yang dihasilkan dan membentuk skala pasar bersama,” jelasnya.

Yamin juga menjelaskan, bertani bukan sekadar kegiatan mengerjakan lahan tetapi juga manajemen. Petani harus mampu menghasilkan produk sekaligus memasarkan produknya dengan harga yang menguntungkan, dengan cara memotong rantai pemasaran yang terlalu panjang. “Ketika komunitas bisa mewujudkan pasar ini bisa memotong rantai pasar dengan harapan kesejahteraan petani bisa lebih baik,” ujarnya.

Kegiatan bertani organik di tengah kota ini mendapatkan dukungan positif dari warga. Misalnya, Sugito, yang kini menjadi sekretaris di KTD Abimantra. Sugito mulanya adalah karyawan di perusahaan garmen, namun di masa pandemi ini, dia terpaksa dirumahkan. “Karena kondisi pandemi imbasnya saya tidak lagi aktif di garmen, dalam masa ini saya ikut dengan teman-teman dalam kegiatan pertanian,” ujarnya.

Sugito sendiri mengaku pertanian bukanlah hal yang asing baginya. “Dulu saya lahir dari keluarga petani, tetapi saya lama hidup merantau di Jakarta, kemudian ke Bogor,” ujarnya. Karenanya, dia mengaku senang bisa terlibat kembali di dunia pertanian. “Kita bisa bercocok tanam dengan lingkungan yang lebih asri,” tambahnya.

Sugito mengaku, kegiatan ini mampu mengubah pandangannya terhadap pertanian. “Kesan saya pertama, pertanian itu luas. Kedua, improvisasi pertanian lebih mudah tidak seperti di masa kecil saya bertani harus berpanas-panas ria, di sini bisa lebih santai, hasilnya bagus,” ujarnya.

Sugito berharap kegiatan pertanian ini ke depan bisa dikembangkan dengan adanya peternakan untuk meningkatkan kesejahteraan warga di lingkungan RT. “Kedua dari dinas terkait agar memperhatikan usaha dari bapak-bapak ini, mencoba dari lahan yang sangat kecil, memberikan hal positif bagi kesejahteraan warga,” pungkasnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *