#OmahDesa: Leuit Jajaka, Lumbung Pangan di Tengah Ladang Beton Kota Bogor | Villagerspost.com

#OmahDesa: Leuit Jajaka, Lumbung Pangan di Tengah Ladang Beton Kota Bogor

Bogor, Villagerspost.com – Tersembunyi di antara kepungan bangunan beton jalan tol, sepetak tanah kosong seluas hampir 1 hektare, di kawasan Kampung Pabuaran, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, seolah menjadi pertahanan terakhir bagi kawasan pertanian di wilayah itu. Di lahan itulah sekelompok anak muda yang menamakan diri Kelompok Tani Leuit Jajaka, menanam sebuah harapan untuk masa depan: menjadi petani milenial.

Leuit Jajaka sendiri secara harfiah berarti lumbung pemuda (leuit=lumbung). Ini bisa berarti lumbung tempat berkumpulnya anak muda, atau boleh jadi berarti lumbung (pangan) yang dibangun oleh anak-anak muda. Ketua Umum Kelompok Tani Leuit Jajaka Aditya Pratama mengatakan, Leuit Jajaka terbentuk tidak terlepas dari kondisi ekonomi yang berat di masa pandemi ini.

“Krisis ekonomi, ada kekhawatiran apakah bisa bertahan di masa pandemi ini, apa yang bisa dimanfaatkan, apa yang bisa dibantu?” kata Adit kepada Villagerspost.com, saat berkunjung ke lahan yang digarap Leuit Jajaka, Minggu (20/12) lalu.

Maka, melihat ada lahan tidur dengan luas hampir 1 hektare, para pemuda yang kebanyakan terpaksa menganggur karena PHK atau putus sekolah atau kuliah inipun, mulai belajar bertani, menggarap lahan tersebut. “Kita terdiri dari 37 anggota, ingin bertahan dari krisis lewat pertanian, supaya bisa punya uang jajan setiap hari di masa pandemi ini,” kata Adit.

Maka sejak tanggal 23 Agustus 2020, Leuit Jajaka pun mulai beraktivitas menggarap lahan tidur tadi untuk ditanami sayuran. Mula-mula yang ditanam adalah cabai. Kemudian, jenis sayuran yang ditanam semakin beragam mulai dari bayam, kangkung, tomat, timun, dan kacang panjang.

“Selain itu kita juga kita ada budidaya ikan, ada ikan nila, bawal, ikan patin. Ada juga gurame, cuma karna gurame kena hama jadi kita jual. Kita juga melakukan budikdamber (budidaya ikan dalam ember), isinya lele, dan di atasnya ditanami kangkung,” papar Adit.

Meski sudah beraktivitas, namun secara legalitas, Leuit Jajaka baru mendapatkan surat peneguhan dari pihak kelurahan dan kemudian Dinas Ketahanan Pangan dan Produksi Kota Bogor, pada 1 September 2020. Dari semula, Leuit Jajaka memang mencoba untuk mandiri dalam menjalankan usaha mereka.

“Kami kolektif, swadaya, sisihkan uang untuk membeli bibit, pupuk, setelah panen kita jual untuk modal kembali meski menjualnya masih di bawah harga pasaran,” jelas Adit.

Mulanya, para pemuda berusia antara 15-25 tahun itu memang sama sekali tak mengenal dunia pertanian. “Nggak ada yang paham awalnya. Tapi orang tua banyak bantu bagaimana cara menanam, mengatasi hama, semua secara organik,” kata Adit.

Pilihan bertani organik ini, selain karena produknya lebih menyehatkan, juga ramah lingkungan dan biaya. Untuk pupuk misalnya, mereka membuat pupuk kompos dari daun-daunan yang terdapat di sekitar lahan. Mereka juga memanfaatkan air cucian beras untuk dijadikan pupuk cair.

Namun, bertani secara organik juga memiliki tantangan tersendiri, khususnya dari sisi pasar. Karena lingkungan sekitar kebanyakan masyarakat menengah ke bawah, maka pasar belum merespons positif produk anak-anak Leuit Jajaka.

Adit mengakui, cukup sulit mengedukasi masyarakat yang belum paham tentang pertanian organik. “Ini tantangan bagi kita agar mereka paham. Harga masih sama dengan non organik, pasar belum peduli kesehatan, belum paham produk sayuran yang sehat buat mereka ke depan, kalau paham, produk organik harusnya memang di atas harga pasar sayur non organik,” terangnya.

Meski begitu, anak-anak muda ini tak menyerah. Selain mengedukasi pasar, mereka juga berupaya meningkatkan kapasitas mereka sebagai petani organik melalui program ‘Kelas Petani Milenial’ yang sudah dirintis. Saban hari Minggu, mereka belajar tentang teori dan praktik pertanian organik, dibimbing oleh para ahli.

Leuit Jajaka bercita-cita, agar anak-anak muda mau terjun ke pertanian. “Kita ingin ubah gambaran petani itu tua, nggak punya masa depan, kucel, hitam, miskin, petani nggak seperti itu, petani itu justru hebat karena menjadi penjaga tatanan negeri, bertanam di negeri agraris, ini juga jadi tantangan,” kata Adit.

Anak-anak muda ini berkomitmen, meski pandemi berlalu, ekonomi bergeliat lagi dan lapangan kerja terbuka, mereka tidak akan meninggalkan pertanian. “Setelah pandemi, kami berkomitmen untuk berkembang dengan pertanian. Kami ingin membuka pekerjaan untuk kami dan masyarakat, juga membantu orang tua kami,” kata Fajar Khumaedi, salah seorang anggota Leuit Jajaka.

Sebelum pandemi, Fajar adalah seorang kasir di sebuah perusahaan ritel. Dia terpaksa dirumahkan karena toko tempatnya bekerja tak lagi banyak dikunjungi pelanggan. “Akhirnya saya banting setir jadi petani. Mulanya nggak mudah, garap tanah, mencangkul, awal-awal badan pada sakit, tetapi berlangsung terus menerus, lama-lama terbiasa, tidk terasa lagi badan pegal dan sakit,” pungkasnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *