Agroekologi dan Resolusi Pertanian 2019 | Villagerspost.com

Agroekologi dan Resolusi Pertanian 2019

Petani Dusun Takala, Pinrang, Sulsel, beristirahat usai memanen padi ( villagerspost.com/suharjo)

Oleh: Azwar Hadi Nasution, Pegiat INAGRI dan Pangan di KRKP

Catatan pertanian 2018 hampir rampung. Dialektika, silang pendapat tentang impor dan harga pokok pembelian (HPP) beras menjadi perhatian utama tahun 2018. Impor dan harga tentu berhubungan dengan ketersediaan pasokan beras dalam negeri dan panen petani. Lalu panen petani berhubungan dengan kesehatan tanah, iklim, serangan hama dan ketersediaan benih. Bagaimana dengan proyeksi tahun 2019?

Musim tanam di penghujung tanam 2018 mundur. Tentu penyebab utamanya adalah air hujan yang tidak kunjung turun awal September dan bahkan terjadi kekeringan. Lalu bagaimana dengan “wadukisasi”? lupakan saja karena airnya tidak ada. Musim tanam mundur menjadi lampu kuning akan bergeraknya harga beras ke atas. Lalu apakah sebenarnya yang dibutuhkan petani untuk mampu menopang kebutuhan pangan nasional? Modal petani tak berubah, petani butuh tanah/lahan, benih, pupuk, obat-obatan, alsintan dan biaya tenaga kerja.

Tanah

Hasil Sensus Pertanian 2013 melaporkan bahwa luas lahan petani belum beranjak dari luas 0,2 Ha per Rumah Tangga Petani. Ketimpangan agraria terjadi, dimana 0,2% penduduk menguasai 56% aset nasional. Lahan pertanian pangan untuk menghidupi 91,9 juta jiwa petani kecil hanya bertambah 2,96 % (1986-2012) sedangkan, lahan perkebunan yang dimiliki sedikit orang bertambah 144%.

Penurunan jumlah Rumah Tangga (RT) Pertanian juga terjadi. Rumah Tangga Pertanian dari 31,170 juta (2003) menjadi 26,126 juta (2013) dan mencerminkan kekhawatiran dengan hilangnya 5 juta Rumah tangga pertanian. Padahal untuk hidup layak petani membutuhkan sedikitnya 0,5 Ha tanah.

Benih

Desa Daulat Benih yang digagas dan dibangun belum memberikan pengaruh yang signifikan. Jumlah yang dicanangkan belum mampu untuk menyangga kebutuhan benih seluruh desa di Indonesia. Desa daulat benih juga tidak mencirikan secara jelas kebutuhan benih nasional dan strategi pencapaiannya, padahal diversifikasi benih menentukan diversifikasi pangan.

Desa Daulat Benih yang dikembangkan selama ini tidak merujuk kebutuhan keragaman benih nasional dan rencana diversifikasi pangan sehingga Desa Daulat Benih hanya penghasil benih pangan utama saja terutama benih padi. Selain sebagai penghasil benih padi, desa daulat benih juga tidak merubah sturuktur pengusaan benih. Berdasarkan kajian Third World Network bahwa 90 % penguasaan benih padi hibrida, 90% benih jagung hibrida dan 70 % benih hortikultura adalah perusahaan transnasional.

Penggunaan pupuk sintetis

Pengurangan penggunaan pupuk sintesis sedikit menggembirakan. Perjalanan penulis mengunjungi saudara tani di 20 Kabupaten Jawa-Bali Maret dan September 2018 menunjukan bahwa sebagian besar petani sudah mengurangi dosis pupuk rekomendasi hingga 50%.

Kreatifitas petani semakin banyak. Petani di beberapa tempat sudah mahir membuat dan menggunakan kompos, merakit biopestisida dan biofungisida dan bahkan ada beberapa keahlian dan peralatan laboratorium mini untuk produksi pupuk hayati. Pengamatan penulis Jawa Tengah dan Jawa Timur tergolong maju dalam agensi hayati.

Gerakan Agroekologi

Pertanian masa depan adalah pertanian yang mampu membalik keadaan sekarang. Pertanian harus ditopang dengan proses ekologis yang baik, sistem sosial dan budaya setempat, berbasis pengetahuan petani dan menjungkirbalikkan struktur penguasaan tanah. Sistem ini disebut sistem agroekologi. Gerakan agroekologi sudah banyak dan menjamur. Ada pesantren Agroekologi di Garut, ada Institut Agroekologi Indonesia ada juga Agreokologi Learning Farm.

Beberapa pekerjaan petani juga sudah banyak masuk dalam kerangka agroekologi. Sebut saja  gerakan petani yang bergabung dalam Asosiasi Pengukur Curah Hujan Indramayu (APCHI). Bagi pegiat curah hujan, Mengamati curah hujan, bukan sekadar mengukur curah hujan untuk mengamati pola cuaca, tetapi juga sejatinya berkontemplasi terhadap hubungan diri dan alam sekitarnya. Petani memahami iklim, inilah yang digiatkan.

Pemenuhan pangan adalah pemenuhan prasyarat agroekologi

Pertama, pupuk dan benih diproduksi petani. Benih bukan komoditas. Benih adalah urat nadi bagi petani. Melalui benih terjadi gotong royong sesama petani, pertukaran ilmu pengetahuan dan benih itu sendiri. Petani diberikan hak dan kemampuan untuk menghasilkan benih sendiri sebab tidak ada benih super yang mampu tumbuh di semua jenis tanah dan semua jenis iklim lokal.

Pengembangan benih yang adaptif terhadap perubahan iklim dan ekosistem setempat hanya dapat dilakukan bila menggandeng petani. Prinsip agroekologi mensyaratkan bahwa pupuk bagi agroekologi adalah kompos. Selain pengadaan peralatan pembuatan kompos maka pemerintah juga harus memberikan insentif bagi petani produsen kompos.

Kedua, Reforma agraria. Pembukaan hutan sebagai lahan baru bukan solusi. Menjungkirbalikkan struktur penguasaan tanah sekarang yang harus dilakukan. Butuh kepemimpinan besar dan daya juang yang lebih untuk memutus rantai penguasaan lahan ini sebab reforma agraria selalu diidentikkan dengan darah dan kepiluan.

Ketiga, pasar yang adil. Variabel perhitungan harga dan kebijakan ekonomi pangan seharusnya berdasarkan pekerjaan petani. Harga yang layak dan mengaktifkan pasar tradisional adalah jalan lama yang efektif untuk menghidupkan ekonomi marhaen.

Keempat, kedaulatan pangan. La Via Campesina dan Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) adalah organisasi yang paling gesit untuk mengembangkan kedaulatan pangan. Kedaulatan pangan adalah hak setiap bangsa dan setiap rakyat untuk memproduksi pangan secara mandiri dan hak untuk menetapkan sistem pertanian, peternakan, dan perikanan tanpa adanya subordinasi dari kekuatan pasar internasional.

Terdapat prasyarat utama untuk menegakkan kedaulatan pangan, antara lain: 1) Adanya hak akses rakyat terhadap pangan; 2) Penggunaan sumber daya alam secara berkelanjutan; 3) Pangan untuk pangan dan tidak sekadar komoditas yang diperdagangkan; 4) Pembatasan penguasaan pangan oleh korporasi; 5) Melarang penggunaan pangan sebagai senjata; 6) Pemberian akses ke petani kecil untuk perumusan kebijakan.

Pergantian tahun bukanlah sekedar selebrasi berubahnya penanggalan tapi media kontemplasi tentang kehidupan berperikemanusiaan dalam berbangsa dan bernegara. Lalu maukah kita segenap komponen bangsa mulai merajut resolusi pertanian baru secara nasional dengan agroekologi? Tahun depan adalah waktu yang tepat walaupun sudah terlambat.

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *