#BajajtoParis Kumpulkan Dana Hadapi Perubahan Iklim | Villagerspost.com

#BajajtoParis Kumpulkan Dana Hadapi Perubahan Iklim

Panen gagal di kawasan Afrika akibat kekeringan (dok. tcktcktck.org)

Panen gagal di kawasan Afrika akibat kekeringan (dok. tcktcktck.org)

Oleh: Maya Quirino Maboloc, Public Engagement Lead, Oxfam-Grow-Asia Timur

Siklon. Kekeringan. Banjir. Asia Tenggara sangat familiar dengan kejadian cuaca ekstrem yang bisa berubah menjadi bencana–menghancurkan kehidupan dan penghidupan–ketika kita tak siap menghadapinya. Menurut para ilmuwan, cuaca ekstrem ke depan akan semakin sering terjadi dan semaki intens akibat perubahan iklim.

Pada akhir tahun, para pemimpin dunia akan bertemu di paris untuk membuat keputusan terkait bagaimana kita menghadapi perubahan iklim. Salah satu keputusan yang akan diambil adalah apakah mereka akan berkomitmen untuk mendanai adaptasi yang akan menolong negara berkembang untuk beradaptasi dengan perubahan iklim dari tahun 2020 ke depan–yang mereka sebut capaian adaptasi.

Perkiraan dana yang dibutuhkan untuk adaptasi bervariasi. Beberapa pihak menyebut sebesar US$150 triliun akan sangat bagus untuk permulaan, lainnya percaya angka itu baru cukup bila mencapai tiga angka angka tadi.

Gambaran ini sepertinya merupakan jumlah uang yang sangat besar. Tetapi kenyataannya, itu hanyalah harga murah bagi negara kaya untuk dibayar–negara-negara itu tentu harus bertanggung jawab atas kontribusi mereka terhadap terjadinya perubahan iklim dan mencetak triliunan dolar dari pertumbuhan industri yang cepat. Negara kaya harus mengambil tanggung jawab dan menolong negara berkembang yang adalah pihak paling menderita akibat perubahan iklim padahal tak berkontribusi signifikan atas terjadinya perubahan iklim.

Dana adaptasi akan menolong negara berkembang dengan sistem peringatan dini yang saat ini sangat buruk sehingga masyarakat miskin bisa mengevakuasi diri sebelum badai menghantam. Dana adaptasi akan mendukung pertanian berkelanjutan–praktik dimana produksi makanan dilakukan tanpa melepas emisi karbon dalam jumlah besar dan merusak planet ini– di seluruh Asia. Keuntungan bisa dibawa dari dana adaptasi ini sangat luar biasa.

Jadi inilah saatnya menyuarakan untuk Asia Tenggara–dan bagi pemimpin kita untuk membawa suara kita lagsung ke jantung pembicaraan di Paris. Mari desak menteri-menteri ASEAN untuk mendorong pemimpin dunia untuk mendukung capaian adaptasi pada pembicaraan iklim di Paris.

Seperti kita melihat krisis dengan mata kita sendiri, kita harus memimpin perjuangan ini. Ini saatnya untuk melompat ke #TutukToParis dan suarakan diri anda bagi pemimpin ASEAN untuk berjuang menggolkan pendanaan iklim dalam pembicaraan iklim di Paris Desember ini.

Kami di Asia Tengara membutuhkan dana untuk beradaptasi dengan perubahan iklim yang telah mengancam persediaan makanan kami dan penghidupan kami. Pembicaraan iklim di Paris harus mewujudkan komitmen untuk capaian adaptasi dan menyediakan dana untuk menolong kawasan ini dan negara berkembang di seluruh dunia yang paling terancam dengan perubahan iklim.

Saya mendesak menteri-menteri ASEAN untuk mendorong pemimpin dunia untuk mendukung capaian adaptasi pada pembicaraan iklim di Paris. Silakan kirim dukungan anda di: https://act.oxfam.org/indonesia/bajajtoparis

Banyak perempuan petani skala kecil telah mengalami dampak perubahan iklim terhadap penghidupan mereka di Indonesia, Filipina, Vietnam, Thailand dan Kamboja. Dari Indonesia Ibu Habibah (52 tahun) seorang perempuan nelayan di Marunda, Jakarta Utara, harus menghabiskan waktu selama 17 jam untuk mencari nafkah bagi keluarganya sejak mencari ikan semakin sulit dilakukan.

Di pagi hari, dia menjual ikan di pasar dan kembali bekerja bagi seorang pengusaha ikan menegah mengupas kulit kerang. Dia juga membuat terasi udang dan kadang-kadang membuat kue dari mangrove yang dia jual saban ada bazaar.

“Cuaca semakin tak bisa diprediksi saat ini. Ombak juga terlalu tinggi untuk bisa mencari ikan dan musim angin barat membuat musim buruk seolah tak berakhirsampai Desember ini. Tetapi kita membutuhkan uang untuk makan dan pengeluaran rumah tangga. Hidup kami makin sulit karenanya,” kata Habibah.

Cerita lainnya datang dari Filipina. Langging dari Selatan Mindanao di Filipina harus mengubur harapannya untuk bisa berkuliah karena perubahan iklim membuat keluarganya tidak bisa menghasilkan cukup uang untuk membayar biaya kuliahnya.

“Karena meningkatnya temperatur tentu sangat berat bagi kami untuk bertani, jadi kami tahu perubahan pada iklim akan sangat berdampak bagi kami. Jika kami sulit menanam saat ini bagaimana dengan dekade berikutnya?” kata Langging.

Tetapi daripada termangu menunggu pemerintah bertindak, dia menginspirasi anak-anak muda lainnya untuk berbicara kepada masyarakat soal aksi apa yang harus dibuat. “Ini penting bagi kita untuk menyuarakan kekhawatiran kita kepada masyarakat dengan tegas dan meminta bantuan dalam memerangi dampak perubahan iklim,” katanya.

Dan kita juga mendengar cerita tentang intrusi air aisn yang mengancam penghidupan Mrs. Trang dan keluarganya di kawasan Delta Mekong di Vietnam. Intrusi air laut mempengaruhi kualitas tanah untuk menanam padi sehingga hasilnya buruk saat panen–dan karenanya tidak ada cukup beras baginya untuk memberi makan keluarga atau uang untuk membayar biaya sekolah anaknya.

Dana adaptasi akan dapat menolong untuk membeli bibit atau pelatihan soal bagaimana menanam dalam berbagai cara untuk mendorong keluarga agar dapat menolong diri mereka sendiri ketika perubahan iklim menghantam semakin keras.
“Sangat penting bagi saya dan suami saya untuk mendapatkan pelatihan bagaimana menanam bibit padi tahan air asin atau cara bertanam yang baru dan opsi penghidupan adaptif perubahan iklim lainnya. Ini akan menolong keluarga kami menanam tanaman untuk konsumsi kami sendiri dan makanan yang bisa kami jual untuk mendapatkan uang sehingga kami bisa menyekolahkan anak-anak kami,” kata Trang.

Pada tahun 2007 petani di Provinsi Yasothorn Timur Laut Thailand mengalami bulan-bulan tanpa hujan yang panjang di musim penghujan dalam satu dekade. Musim kering bertahan sejak Juni hingga akhir Agustus mengurangi angka panen dan menurunkan pendapatan petani serta mengurangi keamanan pangan.

Bagaimanapun statistik dari departemen menterologi mengatakan bahwa musim kering yang terjadi di 2007 bukanlah fenomena sekali terjadi, tetapi bagian dari tren yang pelan-pelan telah terjadi di dekade sebelumnya akibat meningkatnya temperatur dan perubahan pada pola musim hujan yang disebabkan oleh perubahan iklim.

Noograi Snagsri adalah salah satu petani yang mengalami musim hujan tanpa hujan terpanjang itu. Oxfam dan mitra-mitranya bekerja membangun sistem pertanian terintegrasi dimana ada pemipaan air langsung menuju ke persawahan. Ini adalah salah satu bentuk intervensi yang bisa dibantu lewat pendanaan adaptasi iklim dan dapat diterapkan di seluruh Asia Tenggara.

Bagi Khea Sao, seorang ibu dari empat anak dari Provinsi Pursal, Kamboja, air semakin sulit didapat akibat perubahan iklim. Dia membutuhkan air untuk tanamannya dan membesarkan ternaknya–dimana dia menggantungkan penghasilannya.

Jadi untuk melawan perubahan iklim dan menjamin untuk tetap bisa memberi makan keluarga, dia mengubah tanamannya ke sayuran dan buah-buahan yang lebih tahan cuaca panas seperti nanas, tebu, nangka dan mangga. Dia juga bekerja sebagai buruh tani untuk mendapat tambahan penghasilan dan bisa menyekolahkan anak-anaknya. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *