Berinvestasi Pada Usaha Skala Kecil, Kunci Hentikan Kabut Asap?

Petani sawit skala kecil menerapkan pertanian sawit berkelanjutan (dok. wwf.or.id)
Petani sawit skala kecil menerapkan pertanian sawit berkelanjutan (dok. wwf.or.id)

Oleh: Erinch Sahan, Senior Policy Adviser on Business and Markets Oxfam GB Asia

Jakarta, Villagerspost.com – Kita membutuhkan minyak sawit untuk membuat buskuit dan mie instan, lipstik dan deterjen. Tetapi kebakaran hutan dan lahan gambut telah menodai industri tersebut. Isu kabut asap telah mendominasi percakapan di seluruh Asia Tenggara dan tentu saja–jutaan orang telah terdampak, dan ratusan ribu orang harus dirawat.

Kehausan kita aakan kebutuhan minyak sawit sangat mudah dimengerti. Pertumbuhan kelas menengah mengkonsumsi lebih banyak biskuit, mie instan, lisptik dan deterjen. Dan sawit adalah cara yang sangat efisien (tentu saja menguntungkan)untuk bisa memenuhi permintaan itu.

Tetapi kita memiliki masalah. Upaya untuk terus menumbuhkan sawit berarti kita membutuhkan lebih banyak lahan. Tragisnya, upaya ini menuntut kita ke arah mengekspansi lahan gambut dengan cara mengeringkan lahan lewat pembangunan kanal-kanal. Setiap tahun, lebih banyak lahan gambut kering terbakar dan bencana asap yang mengerikan terjadi.

Tetapi kemudian ada cara lain dan itu tidak perlu menjauhkan diri dari minyak sawit. Jika kita ingin meningkatkan produksi, meluaskan lahan ke wilayah hutan atau lahan gambut bisa kita hindari.

Di Indonesia dan Malaysia, petani skala kecil menyumbang 35-40 persen produksi. Kini mereka menyumbang lebih banyak dalam kerangka penggunaan lahan untuk minyak sawit. Ini memberikan kita petunjuk kritis–ada potensi besar untuk meningkatkan panendan produksi petani skala kecil.

Jadi berinvestasi pada petani skala kecil adalah jawaban untuk bencana kabut asap? Jawabnya tentu saja Iya!

Kita tidak bisa melihat ini semata murni masalah teknis meningkatkan produktivitas. Benar bahwa petani skala kecil dapat menerapkan teknik bertani yang lebih efisien dan menggunakan input lebih efektif untuk meningkatkan panen. Tetapi kuncinya bukanlah untuk mengajari mereka untuk bisa lebih produktif (kebanyakan proyek gagal karena mereka berpikir untuk mengajadi petani untuk menjadi petani yang baik)– kuncinya adalah memberi mereka peluang untuk mendapatkan pemasukan yang bagus dengan bertani secara berkelanjutan.

Sawit telah membuat banyak orang menjadi kaya dan tidak ada alasan bagi petani skala kecil untuk tidak bisa mendapatkan penghasilan saat mereka menerapkan sistem pertanian berkelanjutan. Dengan pendapatan yang baik, mereka bisa berinvestasi pada ladangnya dan meningkatkan produktivitas.

Esensinya, adalah pada bagaimana nilai disebarkan diantara para petani, pemroses, pedagang dan pemegang merek. tetapi hal ini membutuhkan upaya keras untuk mendiskusikan siapa yang akan menikmati kekayaan dari minyak sawit. Jika anda menggali lebih dalam, anda akan menemukan bahwa yang akan menikmati bukan petani skala kecil.

Dapatkah kita memiliki pandangan ke depan dimana petani skala kecil bisa memiliki bagian saham dari pabrik penggilingan dan penyulingan yang memproses apa yang mereka produksi? Dapatkan mereka mendapat bagian keuntungan dari pemain tengah yang sangat menguntungkan dalam rantai suplai? Ini adalah pertanyaan yang akan menentukan apakah petani skala kecil dapat meningkatkan produksi, mengembangkan dan mempraktikkan pertanian berkelanjutan.

Dibalik minyak sawit, kepemilikan petani atas perusahaan adalah kuncinya. Skandal terkait harga telah menggoyahkan petani di seluruh dunia. Di tahun 1980 petani kakao akan mendapatkan 16 persen nilai dari produk coklat batangan. Hari ini, angka itu turun ke 6 persen.

Jika harga terus menggoyahkan petani, bagaimana bisa mereka melanjutkan untuk menanam pangan kita dan bahan-bahan utama dalam produk pangan favorit kita? Usia rata-rata petani semakin menua, dengan rata-rata usia di atas 50 tahun di banyak negara di seluruh ASEAN.

Bagi banyak anak muda, untuk bekerja di ladang, mereka perlu untuk mendapatkan lebih dari pekerjaan mereka, itu mengharuskan mereka keluar dari kejenuhan komoditas dan menjadi bagian dari gambar yang lebih besar dan lebih menguntungkan. Ini membutuhkan visi yang jelas dan investasi nyata dari pemerintah dan juga sektor swasta.

Kasus dalam berinvestasi kepada pertanian skala kecil sangat umum diketahui. Secara umum, pertanian kecil menciptakan pekerjaan, makanan dan pembangunan bagi sebagian masyarakat termiskin di planet ini. Faktanya 500 juta pertanian kecil mendukung hampir 2 miliar orang. Komunitas petani skala kecil ini telah memberikan gambaran pada kita bahwa mereka dapat berkembang secara komersial dengan kebijakan yang tepat dan dengan sistem pasar yang benar.

Akankah pemilik merek mengaspirasi untuk memprioritaskan keberlanjutan sumbernya dari perusahaan yang dimiliki petani? Akankah kebijakan pemerintah bisa dengan sengaja berpihak pada jenis usaha itu (misalnya dengan memberikan jaminan kredit)? Apakah investor terdampak akan fokus pada kepemilikan perusahaan, membuka kunci pendanaan untuk bisnis model yang memberikan kesejahteraan pada komunitas perdesaan?

Jika jawabannya iya, maka kita bisa melihat ke depan akan sebuah masa depan pertanian yang lebih baik–dimana petani menghasilkan pendapatan yang adil dari mempraktikkan pertanian berkelanjutan. Dan mungkin masa depan berarti kita hidup tanpa kabut asap–seiring kehausan kita akan minyak sawit terpenuhi dengan mengembangkan lebih banyak petani skala kecil yang produktif. (*)

Facebook Comments
One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *