Hari Pangan Sedunia, Momentum Sejahterakan Petani Kopra dan Sawit | Villagerspost.com

Hari Pangan Sedunia, Momentum Sejahterakan Petani Kopra dan Sawit

Para petani kopra Asahan yang tergabung dalam Aspek, melaksanakan pertemuan mengantisipasi harga kopra yang kembali turun (villagerspost.com/ahmad rafi tan)

Oleh: Abdul Gafur Ritonga, Ketua Dewan Pembina Asosiasi Petani Kelapa-Kopra (Aspek) Tanjungbalai-Asahan

Momentum Hari Pangan Sedunia seharusnya dijadikan dasar bagi pemerintah untuk membuat bangsa ini berdaulat pangan. Tapi dalam kenyataannya tidak seperti yang kita harapkan bersama. Di indonesia petani belum diuntungkan baik secara ekonomi maupun sosial, sebagai penghasil hasil pangan, terkhusus para petani kopra. Petani masih saja terbelit berbagai masalah lama seperti harga pupuk pupuk yang mahal, dan pupuk bersubsidi yang sulit diakses.

Ditambah lagi harga jual kopra dan sawit yang saat ini turun drastis jauh dari ekspektasi masyarakat petani khususnya petani kopra dan petani sawit. Seharusnya pemerintah memanfaatkan sektor pertanian untuk mendorong ekonomi rakyat dengan lahan yang luas dan sumber alam yang melimpah. Jika pangan menjadi prioritas sudah tentu masyarakat petaninya makmur.

Akan tetapi kenyataannya, tidak demikian dikarenakan petani masih saja dihadapkan pada masalah tingginya biaya produksi, namun saat panen harga komoditasnya jatuh, termasuk komoditas kopra dan sawit. Seharusnya pemerintah harus serius dalam memperjuangan nasib petani sebagai produsen pangan, selain memperjuangkan harga satuan produksi pertanian yang murah, seperti pupuk, pemerintah juga harus memperjuangkan harga komoditas petani pada harga yang layak.

Jatuhnya harga kopra dan sawit, sangat buruk efeknya bagi petani, petani menanggung kerugian yang bahkan bisa menyeret mereka ke lembah kemiskinan seketika. Jatuhnya harga kopra tahun 2018 lalu, membuat banyak anak petani kopra terpaksa putus sekolah. Tak hanya petani, masa depan generasi anak petani pun ikut terancam dengan kondisi tersebut.

Kalau kita merefleksikan kembali di era Presiden Habibie, saat itu harga pangan cukup signifikan untuk dapat mendongkrak kesejahteraan petani. Di masa itu, harga jual sawit dan kopra cukup tinggi di pasaran dunia. Tidak heran, jika ketika itu, petani sawit dan kopra secara ekonominya meningkat dibandingkan sektor-sektor lain seperti pedagang emas atau pedagang kain dan sembako.

Yang di butuhkan petani saat ini sebenarnya sederhana dan mudah. Petani berharap apa yang mereka tanam sebanding hasilnya dengan apa yang mereka upayakan. Petani kopra kita ketahui, memiliki rentang masa panen 3 bulan sekali. Saat harga masih lumayan, meski ada penurunan, seperti enam bulan lalu ketika masih di angka Rp4.200 per kilogram, masyarakat memang sudah mengeluh, namun masih mampu bertahan karena masih bisa mencukupi kebutuhan meski sekadar kebutuhan pokok, di luar modal tanam.

Namun kini, harga sudah sangat jatuh di bawah angka Rp1.000 per kilogram, jelas semakin banyak petani kopra yang akan terseret ke jurang kemiskinan. Jangankan menyekolahkan anak, untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti makan saja, sudah sulit. Banyak anak petani kopra terpaksa putus sekolah dan ikut bekerja menopang perekonomian keluarga. Sementara biaya menanam justru semakin mahal seiring mahalnya harga pupuk dan sulit didapatnya pupuk bersubsidi.

Jika kondisi ini terus terjadi maka kedaulatan pangan yang kita cita-citakan tidak akan terwujud. Jika boleh dinilai, pemerintahan Jokowi-JK gagal dalam membangun sektor pangan padahal sebagian besar masyarakat Indonesia umumnya bekerja di sektor tersebut sebagai petani baik kopra, sawit, palawija, padi dan sebagainya. Besar harapan kita, di tangan Jokowi-Ma’ruf Amin di periode kedua ini, Jokowi mampu mengangkat kembali Indonesia bukan saja sebagai negara terbesar penghasil pangan dunia, tetapi juga menciptakan kesejahteraan dan pemerataan ekonomi bagi petani sebagai produsen pangan. Dengan demikian, yaitu kedaulatan pangan sejati, dapat tercapai.

Perlu ada perencanaan dan kontrol yang solid dari pemerintah agar harga komoditas pangan, khususnya sawit dan kopra membaik. Jika perlu dibuat tim khusus untuk mengatasi harga yang anjlok ini. Tim ini bisa bekerja mencari apa penyebab jatuhnya harga kopra di tingkat petani. Petani kopra dan sawit sangat berharap pemerintah punya solusi konkret dalam menyelesaikan masalah anjloknya harga secara drastis ini.

Terlebih dua komoditas itu, memiliki produk turunan yang sebenarnya berharga mahal seperti untuk bio energi, dan produk turunan lain yang tinggi harganya di pasar dunia. Harapan besar kita dengan memperingati Hari Pangan Sedunia ini petani harus berdaulat baik dari sisi harga jual produk yang menyejahterakan maupun akses terhadap pupuk dan alat produksi pertanian lainnya yang terjangkau, agar petani sejahtera.

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *