Kekuatan Perempuan dalam Menghadapi Bencana | Villagerspost.com

Kekuatan Perempuan dalam Menghadapi Bencana

Bencana topan Haiyan di Filipina (dok.oxfam.org.au)

Bencana topan Haiyan di Filipina (dok.oxfam.org.au)

Oleh: Mayling Chan, International Program Director, Oxfam Hong Kong

Setibanya di Sendai untuk menghadiri pertemuan Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam Pengurangan Risiko Bencana (disaster risk reduction–DRR), hal pertama yang saya perhatikan adalah sebuah gambar besar di sebuah surat kabar ternama Sendai yang menampilkan gambar seorang petani tengah tersenyum sambil memegang buah strawberry yang terlihat sangat enak yang dipanen dari ladangnya dan diklaim bebas radiasi. Upaya ini, untuk membangun daya tahan, membantu masyarakat untuk mengatasi bencana yang menghancurkan penghidupan mereka saat tsunami menghantam Jepang, Maret 2011 lalu.

Di arena konferensi DRR, saya mengetuai sesi kerja dalam membangun daya tahan pada area pedesaan. Enam pembicara panel dari Asia, Africa dan Amerika Latin berbagi pendekatan inovatif dalam soal ini. Inovasi tersebut mencakup perlindungan atas sumber kekayaan alam dan mengelolanya secara berkelanjutan; membangun kemitraan diantara komunitas lokal, kewenangan pemerintah dan masyarakat sipil; dan yang paling penting menyangkut ketentuan soal sumber pendanaan agar memungkinkan masyarakat untuk mempersiapkan diri dengan lebih baik untuk menghadapi bencana dan mengurangi risiko yang mereka hadapi setiap hari.

Sesi kerja “Membangun Masa Depan Daya Tahan untuk Wilayah Pedesaan” memperlihatkan beberapa perempuan yang bekerja dengan penduduk lokal, saling berbagi pengalaman mereka. Para perempuan ini diantaranya adalah Godavari Dange, Grace Balawag and Haydee Rodriguez.

Godavari, President of Maharashtra Agricultural Producer, membicarakan tentang jaringannya yang terdiri dari 75.000 perempuan dan mekanisme yang telah mereka terapkan yaitu pembentukan Dana Komunitas untuk membangun Daya Tahan untuk memerangi risiko perubahan iklim yang sering mereka hadapi seperti kekeringan.

Grace adalah deputy coordinator Tebtebba (Indigenous Peoples’ International Centre for Policy Research and Education) di Filipina. Dia menekankan pada riset partisipasi komunitas untuk menambah pengetahuan masyarakat adat pada pendidikan antar generasi, khususnya terkait reservasi air dan pertanian berkelanjutan.

Terakhir, namun tak kalah penting adalah Haydee, president dari Las Brumas Cooperativas, sebuah jaringan dari 22 koperasi yang anggotanya terdiri dari 1320 perempuan di Nicaragua. Dia berhasil mengidentifikasikan tiga hal penting terkait pembangunan daya tahan menghadapi bencana. Pertama, praktik pembangunan daya tahan harus terpusat pada perempuan dan harus mempromosikan proses jangka panjang. Kedua, mendemonstrasikan hasil yang terukur yang dapat terus dilaksanakan sepanjang waktu. Ketiga, mendemonstrasikan kemampuan adaptasi yang tinggi pada situasi lokal.

Mendengarkan suara para perempuan ini berbagi pengalaman terkait cara mereka membangun daya tahan pada komunitas yang mereka bina, mengingatkan saya bahwa kita tidak perlu lagi etalase bicara. Yang kita perlukan sekarang adalah aksi nyata! (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *