Ketahanan Pangan: Membangun Kualitas Bukan Kuantitas | Villagerspost.com

Ketahanan Pangan: Membangun Kualitas Bukan Kuantitas

Petani memanen padi di sawah. (dok. bolg.umy.ac.id

Petani memanen padi di sawah. (dok. blog.umy.ac.id)

Oleh: Terry Sunderland *)

Sebagian besar orang mungkin terkejut mengetahui bahwa produksi pangan global cukup untuk memberi makan 10 miliar orang. Jumlah ini cukup untuk menyokong estimasi pertumbuhan populasi hingga 2050. Bagaimana mungkin kita memproduksi pangan untuk 10 miliar orang, namun masih perlu berjuang memberi makan 7 miliar populasi saat ini? Jelas sekali, kelaparan dunia disebabkan oleh kemiskinan dan ketidakadilan, bukan semata karena kekurangan produksi.

Pertanyaan mendasarnya adalah: “Bagaimana kita bisa meningkatkan produksi pangan secara berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang bertambah?” Diskusi ini mengarah pada sebuah jawaban pendek: Tidak Bisa. Kita tidak hanya menghadapi masalah pertumbuhan penduduk, tetapi yang juga meningkat adalah konsumsi pada item sumberdaya intensif yang memerlukan produksi dalam proporsi yang besar.

Penelitian menunjukkan, kebutuhan daging meningkat sejalan dengan peningkatan penghasilan. Ketika uang yang didapat mulai meningkat, orang mulai makan lebih banyak daging. Pesatnya pembangunan India dan China, diiringi pergerakan menjauh dari menu sedikit daging atau atau vegetarian.

Di dua negara paling banyak penduduknya ini mendekati tingkat konsumsi Barat. Hal ini berpotensi mendorong konsumsi dunia melampaui titik keberlanjutan dan menjauh dari catatan kesetaraan di masa lalu, bagi mereka yang tidak mampu bersaing dengan daya belanja Barat.

Merujuk laporan yang dipublikasikan dalam “the Journal of Sustainable Agriculture“, sejumlah besar hasil panen industrial disalurkan untuk biofuel dan pangan peternakan besar, daripada untuk memberi makan satu miliar manusia yang kelaparan. Seruan melipat gandakan produksi pangan pada 2050 hanya berlaku jika kita tetap memprioritaskan pertumbuhan ternak dan mobil di atas orang lapar.

Fakta menyedihkannya adalah bahwa sebagian besar panen yang dihasilkan digunakan untuk biofuel dan produksi daging–hanya karena itu lebih menguntungkan daripada untuk pangan. Masalahnya kemudian, adalah bahwa orang yang berpenghasilan kurang dari 2 dolar AS per hari tidak mampu membeli hasil panen itu untuk pangan. Sementara realitas di negara paling maju dan paling kaya, harga produk tidak mencerminkan biaya asli pembuatan produk itu.

Berita lebih buruknya adalah bahwa orang dari negara maju cukup beruntung untuk dapat dan akan mengalahkan pengeluaran keluarga desa yang tinggal dengan 2 dolar AS per hari tanpa mereka menyadarinya. Masalahnya juga bukan hanya pada kuantitas pangan yang tersedia. Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), malnutrisi dialami sebanyak 2 miliar orang dibanding 1 miliar orang yang kelaparan.

Tingkat obesitas terus meninggi di seluruh negara, sementara tingkat malnutrisi tidak cukup cepat menurun. Cara kita berpikir mengenai menu makanan harus berubah.

Kaitan hutan

Dari penelitian yang dilakukan ilmuwan CIFOR Amy Ickowitz dan Terry Sunderland terkait hubungan antara hutan dengan pola makan terungkap, anak yang tinggal di masyarakat yang memiliki tutupan pohon lebih rapat memiliki menu makanan lebih beragam dibanding anak-anak yang di daerah tutupan pohon lebih sedikit. Masyarakat yang tinggal dekat hutan memiliki akses pada beragam buah, kacang dan daging yang dapat dicari atau diburu. Kondisi ini memberi alternatif pilihan menu dibanding dominasi tanaman pokok di tempat lain.

Selalu ada ruang perubahan yang dapat dilakukan setiap orang agar hidup lebih adil dan memilih gaya hidup lebih berkelanjutan. Berdasarkan sebuah laporan terbaru United Nations Environment Programme (UNEP) mengenai dampak lingkungan dari konsumsi dan produksi, PBB merekomendasikan kita semua harus bergerak menuju menu bebas daging dan olahan susu untuk meningkatkan kesetaraan akses pangan dan memerangi dampak perubahan iklim.

Bagi sebagian orang upaya ini merupakan langkah besar. Namun, kita bisa pahami bahwa kebutuhan kita adalah suara kita, setiap pilihan kita untuk setiap pembelian, baik itu pangan, bahan bakar atau teknologi, adalah suara dukungan kita terhadap produk tersebut. Sederhananya, jika kita membeli, produsen akan terus membuatnya.

Masalah utamanya adalah kurangnya kesadaran mengenai gaya hidup tidak berkelanjutan. Tidak banyak yang bisa dilakukan pengambil kebijakan dan pejabat pemerintah untuk mengurangi kebutuhan itu. Sejatinya, tanggungjawab ada pada setiap kita. Inilah mengapa perlu mendiskusikan masalah ini secara terbuka dan inklusif dalam media seperti Twitter dan Facebook.

Media seperti ini dapat menjangkau lebih luas, tidak peduli dengan tempat mereka berada. Jika kita ingin mengubah pandangan dan perilaku masyarakat luas, media sosial memberi ruang bagi setiap orang berdiskusi secara terbuka mengenai kekhawatiran mereka dan bertanya secara langsung pada orang yang dapat menjawabnya.

Pada akhirnya, kekuatan untuk mengubah dunia dan memberi makan masyarakat yang lapar ada di tangan dan dompet kita –dan ruang perubahan itu mungkin ada di dunia daring.

*) Penulis adalah ilmuwan Bentang Alam Berkelanjutan dan Sistem Pangan CIFOR

**) Opini ini diberikan dalam sesi langsung Tanya-Jawab Twitter membahas keamanan dan keberlanjutan pangan dalam rangka Hari Pangan Dunia yang digelar oleh Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR), bekerjasama dengan Kelompok Konsultasi Pusat Penelitian Pertanian Internasional (CGIAR).

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *