Ketika Petani Palestina Memanen Zaitun Tahun Ini | Villagerspost.com

Ketika Petani Palestina Memanen Zaitun Tahun Ini

Petani zaitun di Palestina merawat tanamannya (dok. oxfam.org)

Petani zaitun di Palestina merawat tanamannya (dok. oxfam.org)

Oleh: Diana Qatamesh, the West Bank Programme Policy Officer.

Jakarta, Villagerspost.com – Panen zaitun tahunan yang berakhir pekan ini, adalah satu peristiwa yang paling penting bagi petani di Palestina. Panen ini membawa para petani bersatu lagi dan bisa menghasilkan pendapatan bagi sekitar 80.000 keluarga. Saat ini petani zaitun di wilayah Tepi Barat (West Bank) tengah menghadapi tantangan berat.

Akses mereka atas tanah, air dan pasar sering kali dibatasi oleh pemukiman yang dibangun pendudukan Israel untuk warga Israel, mereka harus melewati adangan pos-pos penjagaan, pembatasan akses ke wilayah yang diduduki Israel. Tetapi terlepas dari tantangan-tantangan ini, pertanian zaitun tetap memiliki potensi ekonomi yang besar.

Industri minyak zaitun menyumbang 14 persen pendapatan sektor pertanian Palestina dan secara keseluruhan, pertanian menyumbang 25 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Palestina.

Saya mengunjungi wilayah Deir Istiya untuk bettemu dengan beberapa petani ziatun di sana. Deir Istiya adalah sebuah desa kecil di perbukitan yang mengelilingi Salift di kawasan tengah Tepi Barat. Wilayah itu sangat terkenal dengan tanaman zaitunnya.

Deir Istiya memiliki total area seluas 34.000 dunums (setara 3400 hektare). Kira-kira sekitar 6000 dunums (setara 600 hektare) ditetapkan sebagai “Area B” di bawah perjanjian Oslo tahun 1993. Artinya, wilayah itu berada dalam kontrol warga sipil Palestina, namun militer Israel mengontrol keamanan wilayah itu.

Sisanya sejumlah 28.000 dunums (setara 2800 hektare) adalah merupakan Area C. Artinya meski berada di kawasan Tepi Barat, tetapi Israel memegang kontrol terhadap keseluruhan aspek seperti perencanaan dan dan keamanan. Di Deir Istiya 83 persen wilayahnya adalah di bawah kontrol pemerintah Israel dan wilayah itu dikelilingi tujuh pemukiman Israel.

Ketika kami tiba di sana, kami bertemu dengan Yaseen Abu Hijleh. Dia berusia 88 tahun dan salah satu pendiri koperasi minyak zaitun diDeir Istiya, dimulai tahun 1976. Abu Hijleh menceritakan kepada saya tentang mesin pemeras minyak zaitun yang dibeli pertama kali oleh koperasi.

“Karena kekurangan air, kami hanya bisa membeli pemeras setengah otomatis yang hanya membutuhkan sedikit air ketimbang yang full otomatis. Saat itu sudah luar biasa sekali. Kami Desa pertama di wilayah Salfit yang memiliki mesin pemeras zaitun,” kata Abu Hijleh.

Koperasi itu memiliki 150 anggota saat ini dan mereka telah mengganti mesin setengah otomatis dengan mesin full otomatis. Mustafa Kokash, petani zaitun dari Deir Istiya menunjukkan mesin itu. “Untuk mengoperasikan secara full otomatis kami harus membeli air dari Israel–setiap membutuhkan NIS6000 (mata uang Israel New Israeli Shekel),” katanya.

Kelangkaan air adalah masalah besar bagi petani Palestina, khususnya di wilayah yang dikontrol Israel, atau Area C dimana orang Palestina sangat jarang diizinkan untuk membangun sumur-sumur baru, pipa atau waduk. Antara tahun 1988 dan 2013, mitra Oxfam, Binkom melaporkan bahwa 94 persen dari pengajuan orang Palestina untuk melakukan pembangunan di Area C di Tepi Barat ditolak.

Kebanyakan petani di sini kehilangan banyak pohon akibat pemukim Israel. Mereka membakar dan menumbangkan atau menebang–aksi yang jarang bisa digugat di Pengadilan Israel. Sejak 2010 lebih dari 60.000 pohon zaitun telah hilang di Tepi Barat. Petani juga menghadapi pembatasan pergerakan mereka, khususnya pada lahan-lahan dekat pemukiman. Untuk melakukann sesuatu pada pohon yang mereka tanam, mereka harus mendapatkan izin dari pihak otoritas Israel.

Partner Oxfam, Yesh Din melaporkan, 95 persen tindak kriminal yang dilaporkan kepada Polisi Israel ditutup, dibarkan tanpa penyelesaian.

Mustafa berkata pada saya: “Lima bulan lalu, pemukim Israel memotong dan membakar 350 pohon zaitun dari tanah saya dekat wilayah pemukiman. Pohon-pohon zaitun ini berusia tiga tahun dan seharusnya sudah mulai berbuah tahun depan. membelu bibit-bibit pohon itu, saya harus keluar uang NIS4500. Jika pemukim tidak menumbangkan pohon-pohon itu, mereka kan memcapai usia produktif dan akan memproduksi 150 kg zaitun setahun,” ujarnya.

Di tahun 2007 ini, Oxfam mulai bekerja dengan koperasi petani di Deir Istiya. Ayoub Abu Hijleh, salah satu program officer mengatakan: “Kami di Oxfam ingin membuat situasi bagi petani zaitun lebih baik ketimbang situasi saat ini. Petani di sini menghadapi masalah tanaman ditumbangkan dan pembatasan luar biasa ketika mereka ingin merawan tanaman mereka.”

Oxfam dan mitra lokal meluncurkan program “From Grove to Market” didanai oleh pemerintah Swiss untuk menolong petani Palestina meningkatkan kualitas dan kuantitas minyak yang mereka hasilkan dan bisa menjangkau pasar lokal dan internasional. Oxfam memberikan petani pelatikan bagaimana merawat tanaman dan memperkenalkan mereka teknik-teknik terbaik dalam memproduksi zaitun kualitas terbaik dan meningkatkan jumlah produksi.

Oxfam juga berupaya agar petani Palestina mampu meraih sertifikasi minyak zaitun organik yang diakui dunia internasional. Ini akan bisa membuka pasar baru di negara seperti Inggris dan Perancis, membantu mereka untuk berkompetisi secara global dan ini akan meningkatkan keuntungan mereka. Saat ini terdapat 17 petani di Deir Istiya dalam proses mendapatkan sertifikasi organik.

Saya bertemu petani lainnya di Deir istiya Azzam Salman. Azzam, berusia 41 tahun memiliki lahan dekat salah satu pemukiman Yahudi. Dia diberikan waktu empat hari oleh pihak berkuasa Israel untuk memanennya. “Lahan itu seluas 20 dunums (setara 2 hektare) dan terdapat lebih dari 100 pohon zaitun. Untuk memanennya membutuhkan waktu 15 hari,” kata Azzam.

“di awal tahun 1990, ketika pohon-pohon zaitun ini dirawat baik, mereka bisa menghasilkan 500 kg zaitun per tahun. Saat ini pohon yang sama hanya menghasilkan 4o kg minyak zaitun. Kita tidak bisa melakukan pencangkulan atau sekadar memangkas mereka.” tambahnya.

Azzam tahu uang yang dia peroleh dari 40 kg minyak zaitun tidaklah banyak, tetapi dia masih terus memanen pohon-pohon itu untuk memastikan dia masih memiliki lahannnya. Selama saya tinggal di desa itu, sata tidak dapat melakukan apa-apa untuk menolong tetapi saya melakukan sebuah refleksi soal perubahan besar yang disaksikan para petani di desa mereka.

Dalam rentang masa hidupnya Deir Istiya telah dikepung oleh pemukim Yahudi. Lahan banyak yang disita dan tak terhitung pohon zaitun yang telah dibongkar. Saya berharap para petani di sini suatu saat dapat memanen, memangkas dan mencangkul tanaman zaitun mereka tanpa harus menunggu izin pihak Israel. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *