Kisah Aylan dan Pengungsi di Eropa | Villagerspost.com

Kisah Aylan dan Pengungsi di Eropa

Keluarga pengungsi Suriah (dok. oxfam.org)

Keluarga pengungsi Suriah (dok. oxfam.org)

 

 
Oleh: Winnie Byanyima, aktivis akar rumput, advokat HAM, pelayan publik internasional senior, ahli hak asasi perempuan yang dikenal luas di dunia, dan saat ini menjadi Direktur Eksekutif Oxfam International.

Banyak tanggapan yang mengharukan atas reaksi penolakan yang dilakukan banyak negara Eropa terhadap para pengungsi yang melarikan diri dari negara mereka. Munculnya reaksi itu dipicu oleh munculnya foto seorang bocah pengungsi Suriah berusia tiga tahun Aylan Kurdi yang jenazahnya ditemukan tergelatak di sebuah pantai di Turki.

Ribuan perempuan, anak-anak dan laki-laki menemui ajalnya dalam pelarian mereka menuju Eropa tahun 2015 ini. Pekan lalu, lebih dari 100 orang tenggelam ketika kapal yang mereka tumpangi terbalik setelah berangkat dari pantai Libya sementara di Austria 71 jenazah ditemukan di sebuah truk.

Ini adalah sebuah skandal dan tak dapat diterima, bahwa membutuhkan wktu sangat lama dan banyak kematian hanya untuk membangunkan kita. Alasan ketidakpedulian ini yaitu adanya sebuah ketakutan–apa yang akan dibawa para pengungsi ini ke komunitas kita? Siapakah orang-orang ini? Sangatlah bertenaga tetapi merupakan sebuah sentimen yang salah tempat menyangkut pembangunan perbatasan, repatriasi dan migrasi ekonomi.

Perasaan saya yang berlebihan ini, adalah apa yang diingat oleh kemanusiaan. Di tahun 1978 saya melarikan diri dari kebrutalan diktator Idi Amin di Uganda, melalui Kenya, ke Inggris. Keluarga saya dan saya memilih Inggris karena sebelumnya mengetahui–seperti yang saya tahu– ini adalah negara dengan pintu yang terbuka untuk orang-orang seperti saya. Saat saya tiba di Inggris, perempuan pelarian berkulit hitam asal Afrika berusia 18 tahun ini tidak dideportasi. Saya mendapatkan kesempatan untuk tinggal.

Ini adalah negara Eropa dimana saya bisa dengan aman mendapatkan kesempatan memenuhi potensi saya. Saya belajar di University of Manchester dan bertahun kemudian kembali ke Inggris untuk mengabdi pada sebuah gerakan besar–dimulai di Inggris– bernama Oxfam.

Cerita saya bisa saja berubah sama sekali jika pintu ke wilayah aman tertutup bagi saya 40 tahun lalu. Memori tersebut secepat kilat berubah menjadi sebuah panggilan.

Saat ini, kita berada di tengah situasi krisis perpindahan yang global dan kompleks. Untuk melihat krisis global ini semata dari kacamata Eropa hanya akan membuat kita kehilangan gambaran besarnya.

Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan sejumlah 59,5 juta penduduk telah melarikan diri dari rumah mereka di akhir tahun 2014 dan ini adalah peningkatan 59% dari dekade lalu dan angka tertinggi setelah Perang Dunia II. Mayoritas pengungsi ini adalah seusia atau lebih muda dari saya ketika saya melarikan diri dari Uganda ke Inggris.

Oxfam menempatkan dirinya untuk menghubungkan titik-titik di antara sumber-sumber dan tujuan dari para pengungsi. Hal ini membantu kita untuk memahami alasan-alasan dari pengungsian dan membuat kita berusaha mencari solusi.  Kami menyaksikan penderitaan manusia yang luar biasa yang setiap hari memaksa orang-orang untuk melarikan diri. Kami memahaminya dengan baik karena kami bekerja di sembilan dari sepuluh negara yang menjadi sumber terbanyak para pengungsi.

Sangat jelas bagi kita bahwa kehancuran politik dari konflik menjadi penyumbang terbesar yang memaksa orang untuk bermigrasi. PBB baru-baru ini menemukan bahwa mayoritas orang-orang yang tiba di Eropa melalui laut adalah mereka yang melarikan diri dari perang, konflik atau penganiayaan, separuh dari mereka  berasal dari Suriah dan Afghanistan. Tentu saja, konflik tidak dapat dihindarkan. Pertanyaan kritis harus ditanyakan kepada para pemimpin politik internasional yang memulai dan memperpanjang konflik-konflik ini, namun tidak mampu atau tidak bersedia bertanggung jawab atas konsekwensi kemanusiaan yang terjadi.

Yang kedua, pendanaan adalah menjadi hal penting untuk dapat memenuhi kebutuhan dari hari ke hari bagi para pengungsi. Dalam jangka pendek ini berarti bantuan bagi program-program pengungsian yang sangat kekurangan dana; saat saya menuliskan ini, baru 32% dari total pendanaan untuk krisis Suriah yang telah dicapai. Dalam jangka panjang hal ini secara krusial berarti meletakkan investasi bagi pengembangan jangka panjang untuk menangani akar penyebab konflik, ketidaksetaraan, kemiskinan, dan perubahan iklim, dibandingkan membangun lebih banyak lagi pagar-pagar dan tembok-tembok.

Keseimbangan adalah negara-negara yang secara keseluruhan lebih kurang mampu yang saat ini menjadi penerima beban dengan menampung 86% dari total pengungsi dunia. Hal ini meletakkan dilema Eropa ke dalam konteks yang lebih tajam. Infrastruktur Eropa tidak beresiko hancur berantakan karena 340.000 orang mencari tempat berlindung di tahun ini – mereka hanya mewakili sekitar separuh dari satu persen populasi Uni Eropa yang berjumlah 500 kita.

Sementara Eropa berselisih perihal penempatan 20.000 orang pengungsi di awal tahun ini, negara Turki sendirian menampung sekitar lebih dari satu setengah juta pengungsi. Di Libanon, hampir seperempat dari populasi negara mereka saat ini adalah pengungsi, menggunakan infrastruktur dan struktur sosioekonomi negara hingga titik batasnya. Inilah yang kita sebut sebagai komitmen dari negara kaya untuk memperantarai mereka dalam menawarkan perlindungan internasional hanya untuk lima persen pengungsi Suriah – tepatnya sejumlah 200.000 orang.

Mereka yang ‘dipindahkan secara paksa’, misalnya pengungsi, sangat penting berada di pusat perhatian dari apa yang kita saksikan sekarang. Namun dalam pandangan kita, hal ini tidak mengurangi kondisi menyedihkan dari para migran ekonomi yang meletakkan resiko nyawa mereka demi melarikan diri dari kemiskinan dan ketidaksetaraan.

Kebijakan migrasi Uni Eropa harus menempatkan pada meletakkan kehidupan dan melindungi orang-orang sebagai prioritas utama mereka – terlepas darimanakah mereka datang dan mengapa. Peringatan dari konsekuensi potensial atas ditutupnya program Mare Nostrum kemudian mulai terabaikan; setelah diperkirakan sekitar 800 orang akan tenggelam di bulan April 2015, Uni Eropa bereaksi dengan melipattigakan sumber dayanya di Laut Mediterania dan lebih dari 50.000 jiwa telah terselamatkan sebagai hasilnya. Hal ini menekankan efektif dan butuhnya dilakukan operasi sejenis. Kami meyakini bahwa Eropa memiliki tanggung jawab untuk meyakinkan bahwa kebutuhan kemanusiaan dasar dari para migran – termasuk para pengungsi – dapat terpenuhi dan hak-hak mereka dihormati.

Apa yang paling mengganggu saya, bagaimanapun, adalah bahasa anti-migran yang tampaknya mendapat tempat di dalam hierarki untuk menilai jiwa seseorang, menempatkan para migran sebagai orang-orang yang tidak setara. Hal buruk yang terjadi adalah saat para pemimpin politik dan media sanggup menikmati sedikit demi sedikit dari penderitaan manusia yang tidak dapat disuarakan. Tanpa adanya rasa kemanusiaan, tentu saja intervensi kebijakan yang terjadi menjadi sangat palsu. Di Oxfam, kami meyakini tanpa keraguan, bahwa semua jiwa manusia memiliki nilai yang sama dan memiliki potensi yang penuh. Jiwa manusia yang menyeberang Laut Mediterania atau melewati negara-negara Balkan membawa nilai yang tidak lebih kurang dari jiwa manusia yang bangun di tengah gempa bumi atau situasi perang.

Kami meyakini bahwa ini adalah masa bagi solidaritas untuk para migran. Panggilan kami adalah untuk masyarakat dan kaum sipil dimanapun untuk bergabung bersama kami dalam memanusiakan suara para migran di seluruh penjuru dunia dan mengembalikan kemanusiaan kolektif kita di seluruh tingkatan masyarakat. Bagikanlah kisah-kisah kemanusiaan mereka, promosikan kampanye dari organisasi kemanusiaan dan masyarakat sipil, dan tegaslah terhadap semua usulan yang mengganggu perlindungan terhadap hidup manusia.

Kemanusiaan yang kita dambakan, yang saya tahu dari kisah saya, belum menghilang dan bukan di luar jangkauan, pengalaman yang jauh lebih tragis yang dihadapi oleh sekian banyak migran saat ini tidak kurang memanggil kita. Tepatlah jika dikatakan bahwa kita harus membawa kedamaian dan keamanan bagi negara-negara yang menjadi sumber utama dari migrasi, namun menjadikannya alasan untuk menutup pintu Anda adalah tindakan pengecut. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *