Membangun Komunitas Bisnis yang Lebih Baik di ASEAN | Villagerspost.com

Membangun Komunitas Bisnis yang Lebih Baik di ASEAN

Petani perempuan di Sudan, Afrika (dok. oxfam.org)

Petani perempuan di Sudan, Afrika (dok. oxfam.org)

Oleh: Erinch Sahan, penasehat kebijakan senior untuk bisis dan pasar Oxfam GB Asia. *)

Buah dari pertumbuhan ekonomi harus dibagi seluas mungkin untuk menghambat laju tumbuhnya ketidakadilan di kawasan Association of Southeast Asian Nations (ASEAN). Kebiasaan kita dalam berbisnis membentuk kehidupan kita–dan ini khususnya sangat nyata bagi mereka yang tinggal dalam kemiskinan.

Apakah anda pekerja yang menggantungkan hidup pada gaji, petani yang menjual produk, konsumen pembeli makanan atau komunitas berbagai sumber air dengan perusahaan, tindakan bisnis dapat menuntun pada semakin dalamnya jurang kemiskinan atau membuat jalur menjauhi hal itu.

DNA perusahaan di seluruh ASEAN bisa saja pro orang miskin, inklusif dan secara fundamental adil. Tetapi untuk itu mengharuskan kita bertanya tentang tipe dunia bisnis apa yang ingin kita buat.

Saat pemimpin ASEAN semakin sering mencari investasi dari dunia bisnis untuk menciptakan lapangan kerja yang dibutuhkan, tantangannya adalah bagaimana kebijakan membentuk investasi dan perubahan dunia bisnis di kawasan itu agar bisa bekerja untuk kaum miskin.

Lebih Banyak Investasi Dibutuhkan, Tetapi Bisnis Yang Lebih Baik Juga Penting

Untuk menciptakan lebih banyak lagi komunitas bisnis yang bertanggung jawab, tidak ada sektor yang lebih penting ketimbang pertanian. Sektor itu terus menyediakan penghidupan untuk jutaan (lebih dari 30 persen pada umumnya dan 50 persen di beberapa negara ASEAN), kebanyakan masih berjuang untuk keluar dari jerat kemiskinan.

Sektor ini memberi makan pada jutaan orang di seluruh ASEAN mendorong keamanan pangan di kawasan. Sementara orang muda meninggalkan dunia pertanian secara massal.

Usia rata-rata petani meningkat secara tajam di seluruh kawasan dengan rata-rata usia berada di atas 50 tahun di banyak negara. Petani Asean harus menghasilkan lebih dari pekerja mereka yang membutuhkan rantai suplai yang lebih adil semetara masyarakat ASEAN membutuhkan petani untuk menumbuhkan pangan mereka.

Membangun Bisnis Inklusif

Itu sebabnya menciptakan dan mendorong kemajuan sektor agribisnis yang menguntungkan bagi petani dan komunitas mereka memegang peranan kunci dalam menciptakan masa depan aman pangan bagi ASEAN. Tetapi apakah makna dari semua ini bagi pembuat kebijakan? Singkat saja, hal ini membutuhkan visi pada dua sisi.

Pertama visi dunia bisnis yang bertindak adil, inklusif dan berkelanjutan. Ini artinya bisnis yang menunjang produktivitas dan kesejahteraan petani, menghargai hak asasi manusia dan memenuhi upah pekerja.

Ini juga membutuhkan bisnis yang menggunakan sumber daya alam secara berkelanjutan. Ini secara esesial menyangkut adab kebiasaan berbisnis bagaimana mereka memberikan insentif bag karyawan untuk bertindak–terlepas mereka memberikan tekanan pada keputusan mereka untuk memaksimalkan setiap rupah, ringgit, peso, baht atau dong keuntungan untuk merawat petani, pekerja dan komunitas menjadi lebih baik.

Pada titik minimal, hal ini menyangkut perusahaan memenuhi kewajiban mereka untuk menghormati hak asasi manusia dan pemerintah melindungi hak ini dan sebanyak mungkin aktor menyediakan akses untuk pemulihan. Hal ini diatur dalam Petunjuk Prinsip Bisnis dan Hak Asasi Manusia yang diterbitkan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Tetapi hal ini juga lebih dari sekadar hak asasi manusia. Ini menyangkut tentang bagaimana bisnis bekerja untuk kepentingan terbaik bagi masyarakat, beroperasi dalam budaya mereka, nilai yang mereka dukung, tujuan yang mereka pegang dan sistem manajemen dan pemerintahan yang mendorong keputusan itu.

Kedua, hal ini membutuhkan visi bisnis yang mau membagi keuntungnnya secara lebih besar dengan pekerja, komunitas dan petani.

Tidak Semua Bisnis Diciptakan Setara

Secara umum hal ini membutuhkan pembuat kebijakan untuk menyadari bahwa tidak semua bisnis diciptakan setara–dimana-mana terdapat perusahaan dan model perusahaan dengan perbedaan DNA.

Beberapa bisnis diperlengkapi dengan sifat untuk lebih bertanggung jawab dan dirancang untuk bisa berbagi profit secara lebih luas. Bagi pembuat kebijakan, saatnya untuk mempromosikan model dan bentuk bisnis yang memiliki rasa sosial.

ASEAN saat ini tengah menyaksikan pertumbuhan jenis bisnis seperti ini dari perusahaan berwatak sosial di Filipina, sampai usaha yang dimiliki petani di Indonesia, hingga bisnis yang dijalankan komunitas di Thailand, kita melihat banyak perusahaan didesain secara berbeda. Bisnis-bisnis ini bertindak lebih bertanggung jawab kepada pekerja, petani dan komunitas dan menyebarkan keuntungan yang mereka peroleh secara lebih luas.

Dalam sejarahnya, bisnis yang didominasi oleh bisnis keluarga membuat komunitas bisnis ASEAN selalu dipandang berbeda oleh dunia. Ini menciptakan cara sendiri bagi ASEAN dalam menjalankan bisnisnya. Ketika tiba saatnya untuk berbisnis dan berivestasi secara lebih bertanggung jawab model ini juga membentuk caranya sendiri membuangun bisnis yang berakar dalam pada komunitas dan petani untuk menegaskan hal itu merawat DNA bisnis yang secara alamiah bertindak adil, inklusif dan berkelanjutan.

Dan dengan ASEAN berada pada awal masa memasuki era pertumbuhan ekonomi dan kerjasama, ini bisa lebih diarahkan dan ditargetkan dalam membentuk dunia bisnis yang lebih bertanggung jawab. Ini adalah saatnya untuk memikirkan seperti apa nantinya dunia bisnis di masa depan yang cerah itu.

*) Sejak 2011 Erinch telah bekerja di Program Oxfam dan berkampanye pada program terkait pangan dan keadilan iklim. Dia mengkhususkan diri dalam hubungan antara bisnis dan kemiskinan, dengan fokus pada pertanian dan ekonomi pedesaan.

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *