Menilai Kinerja Agroekologi | Villagerspost.com

Menilai Kinerja Agroekologi

Petani bawang di Anjatan Baru, Indramayu sedang melakukan penyemprotan pada lahan bawang untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman (villagerspost.com/rini wahyuni)

Oleh: Azwar Hadi Nasution, INAGRI/Institut Agroekologi Indonesia

Prasyarat Pembangunan Berkelanjutan adalah pembangunan yang memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan kemampuan generasi masa depan untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri (Brunel, 2004). Prasyarat ini menjadi pijakan dasar dalam pertemuan tingkat dunia untuk masa depan Bumi. Perhelatan internasional seperti KTT Bumi di Rio de Janeiro pada tahun 1992 dan KTT Bumi pada tahun 2002 di Johannesburg membahas betapa pentingnya transisi pembangunan dunia menuju pembangunan yang berkelanjutan (UNCED, 1992).

Konsep pembangunan dunia harus meliputi meliputi seperangkat pendekatan yang diidentifikasi dengan tiga pendekatan tema utama yakni: pertama, lebih produktif. Kedua, distribusi yang adil untuk memerangi kemiskinan. Ketiga, melestarikan alam.

Prasyarat pembangunan pertanian lalu diderivasi menjadi prasyarat pertanian berkelanjutan. Dalam konteks ini, pertanian berkelanjutan didasarkan pada tiga fungsi penting: memproduksi barang dan layanan, mengelola lanskap, dan berperan dalam dunia pedesaan (Francis, 1990). Konsep Pertanian berkelanjutan tidak melulu mengenai produktifitas lahan (ekonomi) tapi harus memasukkan faktor sosial dan politik, kesehatan ekologi dan kesehatan manusia. Agroekologi menerima posisi keseluruhan ini dan salah satu indikator penting dalam pertanian berkelanjutan bertujuan untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan penggunaan pestisida dan pupuk kimia.

Kehendak kuat petani untuk mengurangi penggunaan produk beracun (pestisida) didasari keingingan untuk memperkuat pelestarian lingkungan dan kesehatan manusia. Salah satu solusi yang mungkin adalah transisi menuju sistem produksi agroekologi. Sistem agroekologi harus bermanfaat secara ekonomi, sosial, dan kesehatan lingkungan dan manusia. Lalu bagaimana menilai kinerja agroekologi sebagai salah satu solusi sistem pertanian?.

Metode IDEA: Metode Penilaian Agroekologi

Metode IDEA (Indicateurs de Durabilité des Exploitations Agricoles) atau Indikator Pertanian Berkelanjutan) didasarkan pada penelitian yang dilakukan sejak tahun 1998 dan merupakan salah satu cara memberi ekspresi praktis terhadap konsep pertanian berkelanjutan. Berdasarkan 41 indikator keberlanjutan meliputi tiga dimensi keberlanjutan, metode ini dirancang sebagai metode penilaian diri (self assessment) tidak hanya untuk petani tetapi juga untuk pembuat kebijakan untuk mendukung sistem pertanian berkelanjutan.

Pendekatan ilmiah didasarkan pada pengidentifikasian tiga skala keberlanjutan yang berbeda. Metode IDEA dikembangkan pertama kali di Perancis (Copyright © 2008 John Wiley & Sons, Ltd and ERP Environment). Indikator metode IDEA berfungsi sebagai panduan ketika membuat keputusan (Gras, 1989). Indikator-indikator IDEA bertujuan untuk mengkarakterisasi konsep-konsep kunci yang diambil dari definisi pertanian berkelanjutan (Landais, 1998) yakni:

  1. Kelangsungan hidup (viability). Secara ekonomi, sistem produksi agroekologi harus efisien dan sumber-sumber pendapatan dari sistem agroekologi aman terhadap gejolak dan ketidakpastian pasar.
  2. Mampu menghidupi (Livability). Sistem agroekologi harus mampu menjamin kehidupan yang layak untuk petani dan keluarga tani.
  3. Reproduksibilitas lingkungan (The Environmental reproducibility) Indikator ini untuk mengukur dampak agroekologi terhadap lingkungan Hidup.

Skala Penilaian Metode IDEA

Skala penilaian metode IDEA ada tiga yakni skala sistem agroekologi, skala keberlanjutan sosial dan teritori dan terakhir skala keberlanjutan ekonomi. Pertama, Skala praktik dan teknik pertanian terdiri dari tiga komponen (keragaman produksi, organisasi petani dan praktik pertanian). Masing-masing skala memiliki bobot yang sama yakni 33 atau 34 poin dari total 100 poin. Skala praktik dan teknik pertanian mengacu pada prinsip-prinsip agronomi dari sistem pertanian terintegrasi (Viaux, 1999).

Skala ini menganalisis kecenderungan sistem teknis untuk membuat penggunaan lingkungan yang efisien di biaya ekologis serendah mungkin. Indikator-indikator tersebut menggambarkan kemampuan lahan pertanian untuk menjadi lebih mengurangi ketergantungan penggunaan energi dan bahan yang tidak terbarukan dan menghasilkan lebih banyak atau lebih sedikit polusi dari praktik pertanian. Keanekaragaman produksi mempertimbangkan sifat saling melengkapi dan proses pengaturan alami yang diizinkan oleh pertanian ekosistem.

Kedua, Skala keberlanjutan sosial mencirikan integrasi pertanian dalam bentang alamnya dan dalam masyarakat. Indikator ini menilai kualitas hidup petani dan bobot pasar serta layanan non-pasar yang diberikan ke masyarakat. Skala ini memungkinkan untuk melihat masalah yang melampaui pertanian itu sendiri. Di praktik, skala ini menggabungkan dan menimbang praktik dan perilaku yang pada dasarnya kualitatif (kualitas arsitektur lanskap, kualitas lingkungan).

Indikator tertentu, seperti intensitas tenaga kerja atau kualitas kehidupan, ditentukan berdasarkan kondisi petani. Beberapa indikator menyangkut keluarga tani dengan diluar praktik dan teknik pertanian itu sendiri, karena pengalaman menunjukkan pentingnya hubungan keluarga-praktik dan teknik pertanian dalam keberlanjutan sistem pertanian.

Ketiga, Skala Keberlanjutan Ekonomi. Skala Keberlanjutan ekonomi sangat penting untuk sistem pertanian dalam jangka pendek dan menengah, tetapi harus ditempatkan dalam tiga perspektif kriteria yaitu:

  1. Kemandirian ekonomi. Kemandirian ekonomi menjamin jangka menengah masa depan pertanian dengan memungkinkan sistem produksi untuk memiliki kapasitas yang efektif dan mengurangi subsidi;
  2. Transferabilitas menganalisis kemampuan jangka panjang sistem pertanian untuk dilanjutkan dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya;
  3. Efisiensi proses produksi menilai kemandirian sistem pertanian. Kemandirian sistem pertanian berarti kapasitas sistem produksi yang dibangun harus menggunakan sumber daya sendiri seoptimal mungkin sebagai input pertanian.

Indikator praktik agroekologi dibagi kedalam dua hal, pertama praktik dan teknik agroekologi sebagai konteks penjaga bentang alam (kemiringan lereng, plot irigasi, tipe tanah, ketersediaan air, dan lain-lain), kedua praktik dan teknik agroekologi sebagai faktor produksi. Metode penilaian agroekologi ini merupakan penilaian diri (self assessment) petani terhadap empat hal yakni produksi, ekologi, sosial dan politik. Empat hal tersebut harus berlanjut dan selaras dengan kebutuhan dan cita-cita petani.

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *