Paradigma Baru Penyediaan Benih Bagi Petani | Villagerspost.com

Paradigma Baru Penyediaan Benih Bagi Petani

Ilustrasi panen padi hasil pemulian benih mandiri oleh petani (villagerspost.com/runatin)

Oleh: Azwar Hadi Nasution, Sekretaris Jenderal AB2TI dan Pegiat INAGRI (Institut Agroekologi Indonesia)

“Mereka Pejuang Pangan Sejati” demikian judul yang tertera pada halaman media massa tanggal 30 September lalu. Berita tersebut mengulas tentang kiprah para petani pemulia benih di Indramayu, Jawa Barat, yang berbuah beberapa penghargaan dari pemerintah. Salah satu petani pemulia tanaman yang memperoleh penghargaan adalah Darmin (59 tahun).

Pria yang akrab disapa Wa Darmin ini, adalah seorang pemulia tanaman padi yang rela menjual lahannya untuk membiayai sendiri pengembangan benih padi. Geliat peliputan tentang para petani pemulia benih Indramayu tersebut sangat indah, terjadi pergeseran peliputan dari sukses produktivitas beralih ke “dapur” para petani, yaitu soal pemuliaan tanaman.

Mencari Sumber Benih Baru

Konsep perbenihan tidak boleh lagi tergantung pada tiga hal yakni ketepatan waktu distribusi, jumlah sesuai permintaan dan harga terjangkau (subsidi). Selain usang, konsep ini juga malah menjadi persoalan dalam distribusi benih dan kerap kali ketiga hal itu tidak dapat dipenuhi. Alhasil, petani terlambat menanam atau malah membeli benih lain untuk ditanam.

Sumber benih harus digeser dari penyediaan besar oleh pemerintah menjadi penyediaan oleh petani. Tiga pekerjaan besar yang harus dipenuhi untuk mewujudkan arah baru perbenihan petani yakni: Pendidikan Petani, Penguatan Organisasi Tani dan Peraturan dan Perundang-undangan yang ramah terhadap petani. Ketiga hal ini disebut sebagai pondasi dasar perbenihan petani.

Garcia Lopez (2019), seorang peneliti perbenihan di Kolombia membuktikan bahwa pondasi dasar perbenihan petani telah mendorong pemulihan benih-benih karya petani, pemeliharaan galur-galur harapan, membentuk sistem perbenihan sendiri dan meningkatkan jaminan mutu perbenihan petani. Petani tidak lagi kesulitan mendapatkan benih bermutu karena jaminan mutu yang benar-benar dikontrol baik oleh organisasi mereka Red de Semillas Libres de Colombia (RSLC)/Free Seed Network of Colombia.

Perbedaan mendasar dari konsep RSLC dengan penjualan benih oleh perusahaan adalah penghargaan terhadap benih. Organisasi tani RSLC memperlakukan benih sebagai sumber kehidupan, sedangkan perusahaan memperlakukan benih sebagai komoditas dagang.

RSLC menggunakan hasil perputaran benih untuk meregenerasi kehidupan baru dan mendorong petani menghasilkan benih sendiri. Sebaliknya, perusahaan benih menginginkan keuntungan yang besar dan ketergantungan petani terhadap benih yang dihasilkan untuk melipat gandakan keuntungan.

Sekolah Pemuliaan Tanaman

Pendidikan petani pemulia tanaman bukanlah hal baru, Non Government Organization (NGO) sudah banyak memberikan sentuhan berarti. Sebut saja Yayasan Field Indonesia (FIELD), Aliansi Petani Indonesia (API) dan Serikat Petani Indonesia (SPI) yang telah lebih dahulu ikut membidani lahirnya petani pemulia–pemulia tanaman di era 1990-2000an. Petani pemulia tanaman era 90-an inilah yang yang berupaya keras melakukan safari ilmu pengetahuan pemuliaan tanaman ke beberapa lokasi. Cikal bakal petani pemulia tanaman tumbuh bak cendawan di musim hujan.

Inilah modal dasar gerakan daulat benih. Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) yang lahir tahun 2012 turut serta meneruskan perjuangan gerakan daulat petani atas benih ini. Bagi AB2TI, pendidikan pemuliaan tanaman adalah praktik menghidupkan kembali pusaka ilmu pengetahuan yang menjadi warisan petani. Setiap penyelenggaraan pendidikan pemuliaan tanaman selalu diikuti 50-an petani dan akan rutin dilakukan setiap 2 kali setahun.

Sekolah Pemuliaan Tanaman mendorong keberhasilan upaya pendidikan untuk membentuk kader gerakan sebagai pemikir kritis yang memahami tindakan kolektif dalam kerangka sistem perbenihan komunal. Kader petani yang membangun kapasitas mobilisasi untuk menghasilkan benih sendiri, perjuangan reformasi agraria, serta untuk membangun sistem pangan yang sehat dan berkeadilan.

Pendidikan di akar rumput sekarang bukan hanya tentang pemuliaan tanaman, tetapi banyak materi dan pemahaman baru yang didapatkan petani. Materi pendidikan tentang Mitigasi perubahan iklim, pengukuran curah hujan, pemasaran, pendampingan hukum dan paralegal, teknik dan teori konsolidasi organisasi tani, sistem perbenihan dan sistem pangan berseliweran di basis-basis pelatihan petani. Menganggap petani sebagai objek sudah bukan zamannya lagi.

Petani sudah sadar bahwa petanilah pejuang pangan sejati sehingga perlawanan dari kaum tani juga sudah mulai beragam. Perlawanan petani yang awalnya selalu diidentikkan dengan unjuk rasa dan unjuk massa mulai bergeser menjadi gerakan perlawanan diam-diam (silent movement). Diam-diam petani menghasilkan pupuk hayati sendiri, benih sendiri dan konsolidasi petani secara mandiri.

Ini Fenomena perlawanan serupa dengan yang ditulis oleh Peter Rosset (2019) dengan artikel yang berjudul “Agroecology and La Via Campesina II. Peasant agroecology schools and the formation of a sociohistorical and political subject“. Proses transformasi pertanian akan matang bila petani dan organisasinya siap. Jika kematangan di akar rumput ini tidak diindahkan oleh pemerintah maka hukum dan perundang-undangan yang berkaitan dengan pertanian sekarang akan berhadapan dengan petani. Petani melawan Pemerintah atau Kriminalisasi terhadap petani semakin sering terdengar.

Lari dari UU SBPB

Undang-Undang Sistem Budidaya Pertanian Berkelanjutan (UU SBPB) baru seumur jagung. Namun, organisasi tani sudah memberikan aba-aba akan di-Mahkamah Konstitusi-kan. Lahir “prematur” dari “orang tua” yang kejar tayang menjadikan UU SBPB ini di-bully hampir seluruh pegiat pertanian kritis dan organisasi tani. Pasal yang mengatur tentang plasma nutfah, peredaran benih dan sanksi pidana dituduh bertentangan dengan Putusan MK nomor 99 tahun 2012, Hak Asasi Petani, semangat anti penjajahan dan anti monopoli serta sosiokultural petani.

Melihat adalah mempercayai (Seeing is Believing) menjadi kunci dasar petani dalam memutuskan sesuatu yang berhubungan dengan hajat hidupnya. Begitu petani melihat benih yang “bagus” maka ia menjadi hakim di lahannya sendiri dan memutuskan untuk menggunakannya. Ke depan yang harus didorong adalah penguatan organisasi tani untuk mengeluarkan sertifikat jaminan komunal.

Sertifikat inilah yang menjadi jaminan peredaran benih di tingkat organisasi tani lintas wilayah. Sertifikat ini menjamin kesehatan, mutu dan cara produksi benih. Bila prasyarat arah baru perbenihan dapat dipenuhi maka perputaran ekonomi pertanian benar-benar menjadi milik petani. Petani sebagai produsen benih dan organisasi tani sebagai penjamin dan distributor benih

Sosiokultural petani yang berdampingan antar kabupaten akan menyulitkan pemerintah dalam implementasi UU SBPB terutama dalam hal peredaran benih antar kabupaten. Petani akan lari dari UU SBPB dan inilah awal kejar-kejaran hukum antar pemerintah dan petani.

Selain tidak ramah terhadap petani, UU SBPB juga tidak memuat peran organisasi tani. Berserikat dan berkumpulnya kaum tani untuk mewujudkan kesejahteraan petani sudah menjadi kemutlakan untuk difasilitasi dan disokong penuh oleh negara.

Situasi sekarang sudah matang di tingkat akar rumput, perlawanan petani akan terus berlangsung. Bila arah baru perbenihan petani tidak disokong rasanya tidak berlebihan mengutip pepatah lama “Semut pun akan melawan bila diinjak” apatah lagi petani.

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *