Perempuan Indonesia Berperan Besar dalam Mengamankan Produksi Pangan di Tengah Ancaman Perubahan Iklim

Perempuan Tani dan Nelayan Pangkep Mengikuti Pelatihan Adaptasi Perubahan Iklim (Do. Oxfam)
Perempuan Tani dan Nelayan Pangkep, Sulsel, Mengikuti Pelatihan Adaptasi Perubahan Iklim (Dok. Oxfam)

Oleh: Cecilia Keizer

Sungguh mengagumkan melihat bagaimana perempuan di Indonesia mampu menunjukkan peran dalam menjamin keamanan pangan bagi keluarga mereka dan juga masyarakatnya di tengah tantangan akibat perubahan iklim. Jarak yang selama ini mereka tempuh telah membuat pencapaian mereka bahkan lebih menginspirasi lagi.

Contohnya pada kasus Sitti Rahmah (41) dari Desa Pitu Sungu di Pangkep, Sulawesi Selatan. Intrusi air laut membuat wilayah pertanian di sepanjang pantai tempatnya tinggal sangat sulit ditanami, dan hal itu memaksa penduduk mengubah lahan pertanian mereka menjadi tambak udang dan rumput laut.

Setelah menerima pelatihan tentang pertanian oleh Mangrove Action Project, salah satu partner Oxfam, Rahmah menyadari adalah sangat mungkin untuk tetap bercocok tanam padi di air asin. Selain itu, Rahmah, juga menyadari dia juga bisa mengajak kaum perempuan lokal dan meyakinkan mereka untuk berpartisipasi. Ketika tanah mereka menjadi produktif Rahmah dan kaum perempuan setempat mulai untuk menanam sayuran organik yang mereka jual di pasar terdekat.

Ketika cuaca tidak mendukung untuk pertanian, para perempuan itu mengalihkan hasil laut menjadi produk olahan seperti kripik. Cuaca, suplai makanan dan perempuan terhubung dengan sangat kuat. Dampak perubahan iklim terhadap pangan sangat dirasakan oleh perempuan yang bekerja di bidang pertanian, perikanan dan rumah tangga. Perubahan iklim membawa dampak terjadinya kelangkaan air, kegagalan panen dan meningkatnya harga pangan.

Di Indonesia, jutaan orang telah mengalami dampak perubahan iklim, mengancam kehidupan mereka sebagai petani dan nelayan. Dengan pendapatan yang semakin menurun, mereka rentan menjadi korban para rentenir, mengubur mereka lebih dalam dengan utang sementara mereka berjuang mendapatkan alternatif pendapatan. Hal itu akan semakin bertambah buruk.

Berdasarkan laporan terkini dari PBB, pemanasan global diprediksi akan mengganggu suplai makanan, melambatkan pertumbuhan ekonomi dunia dan mungkin telah menyebabkan kerusakan alam yang tak dapat diperbaiki. Asia, termasuk jutaan orang yang tinggal di sepanjang kawasan pantai Indonesia adalah termasuk di antara mereka yang rentan terhadap dampak perubahan iklim.

Terlepas dari masalah itu, beberapa kaum perempuan di seluruh Indonesia, telah menjadi teladan yang patut dicontoh dalam menunjukkan betapa kaum perempuan dapat berperan signifikan dalam mengamankan produksi pangan di tengah ancaman perubahan iklim, khususnya ketika mereka diberi haknya secara tepat dan diberdayakan.

Di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, Marlina Rambu Meha (39), juga memperjuangkan gerakan kecukupan pangan secara mandiri di komunitasnya. Banyak lahan di Provinsi dimana Meha tinggal sebenarnya tidak ideal untuk menanam padi secara konvensional. Meha bersama perempuan tani lainnya saat ini merencanakan untuk menanam tanaman pangan lain seperti umbi-umbian, sorgum dan sayuran yang lebih cocok dengan iklim setempat untuk mendapatkan penghasilan tambahan bagi keluarga mereka.

Ketika diberikan dukungan yang memadai, keterampilan dan pengetahuan membuat mereka mampu untuk beradaptasi dengan perubahan iklim, para perempuan telah membuktikan mereka bisa menjadi pejuang adaptasi terhadap perubahan iklim untuk masyarakat mereka.

Kaum perempuan berjumlah 43 persen dari keseluruhan tenaga kerja pertanian di negara berkembang, mereka memainkan peran penting dalam produksi dan pengolahan pangan di dunia. Efek berganda dari melibatkan perempuan dalam konteks adaptasi perubahan iklim dan upaya pengurangan risiko bencana tidak dapat diperkirakan. Sayangnya, meyakinkan suara perempuan dalam merencanakan kebencanaan dan penghidupan masih sangat sulit.

Meskipun kesetaraan gender sering disebutkan dalam kebijakan pengurangan risiko bencana, masih banyak hal yang perlu dilakukan. Hal ini merupakan salah satu temuan dalam paparan teknis Oxfam bertajuk “Tak Bisa Lagi Menunggu” (Can’t Afford To Wait) yang diluncurkan baru-baru ini. Laporan itu menggarisbawahi mengapa program pengurangan risiko bencana dan adaptasi perubahan iklim di Asia masih gagal menyelamatkan jutaan orang.

Sangat banyak kisah dan model adaptasi perubahan iklim berbasis komunitas yang diperjuangkan oleh perempuan Indonesia. Hal ini, bersama dengan pengalaman dan kebutuhan kaum perempuan, harus menjadi bagian utama yang harus dipertimbangkan dalam menyusun kebijakan pengurangan risiko bencana dan adaptasi perubahan iklim di kawasan. Ketika perempuan dilibatkan dalam perbincangan ini, keluarga dan masyarakat akan ikut mendapatkan keuntungan.

*) Penulis adalah Country Director of Oxfam in Indonesia

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *