Pertanian Berkelanjutan dan Pertanian Ramah Lingkungan, Jalan Keluar Asean Hadapi Perubahan Iklim | Villagerspost.com

Pertanian Berkelanjutan dan Pertanian Ramah Lingkungan, Jalan Keluar Asean Hadapi Perubahan Iklim

Petani memanen padi di sawah (temanggung-kab.go.id)

Petani memanen padi di sawah (temanggung-kab.go.id)

Oleh: Riza Bernabe and Maya Quirino *)

Petani miskin yang mengembangkan pertanian skala kecil adalah pengambil risiko terbesar. Bayangkan seorang petani (perempuan) miskin yang memiliki sepatak sawah kecil. Dia membeli bibit secara tunai yang uangnya dia pinjam dari pedagang dan harus mencari cara untuk mengontrol hama tanpa membunuh sayuran yang ditanamnya. Dia harus mampu memperkirakan kapan waktu untuk menanam dan kapan untuk tidak menanam karena pola cuaca tidak lagi bisa diprediksi.

Dia tetap menanam meskipun dia tahu jika dia menanam, maka hasil produksi tetap harus bersaing bahkan kalah murah dari produk impor dari negara-negara indsutri yang pertaniannya disubsidi negara dan mengembangkan pertanian monokultur di berbagai belahan dunia. Di usia antara 50-60 tahun (usia rata-rata petania Asia Tenggara) dia berjudi setiap musimnya, sebab pertanian adalah penghidupannya dan satu-satunya penghidupan yang dia tahu.

Asia Tenggara adalah rumah bagi petani miskin skala kecil seperti cerita si petani (perempuan) yang terlepas dari kesulitan yang dihadapi tetap menopang sektor pertanian di kawasan itu. Bagaimanapun laporan terbaru Oxfam bertajuk “Harmless Harvest” atau “Panen Tanpa Menyakiti” menegaskan bahwa perubahan iklim telah merusak keberlangsungan hidup pertanian di kawasan Asia Tenggara dan menempatkan penghidupan para petani miskin skala kecil dan nelayan tradisional dalam risiko tinggi.

Laporan itu menemukan, bahwa peningkatan temperatur berkaitan dengan penurunan hasil panen padi. Menurut International Rice Research Intitute (IRRI), panen padi menurun sebanyak 10 persen setiap kenaikan temperatur sebesar 1%– sebuah angka yang menggelisahkan bagi kawasan yang menjadikan beras sebagai makanan utamanya.

Mengutip temuan SK Redfern dan kawan-kawan yang dipresentasikan di workshop FAO/OECD di Roma, Italia tahun 2012, laporan Oxfam menemukan bahwa di Kamboja, Laos, Thailand, Myanmar dan Vietnam, curah hujan sudah berada pada titik di bawah rata-rata sejak tahun 2009 mengakibatkan kekeringan yang berkorelasi dengan menurunnya hasil panen dan meningkatnya persebaran hama dan penyakit.

Turunnya curah hujan yang berdampak pada ketersediaan air bagi irigasi yang juga sangat rendah, kecenderungan ini menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan. Meningkatnya permukaan air laut juga menyebabkan merembesnya air asin ke sumber-sumber air dan lahan pertanian di Indonesia dan Vietnam, dan berdampak buruk pada produksi beras dan pangan lainnya, seperti dikutip dari studi yang dilakukan Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank).

Cuaca ekstrim yang terus menerus menghampiri kawasan Asia Tenggara juga menjadi kutukan tersendiri bagi pertanian. Laporan dari Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) menyatakan bahwa di Kamboja, banjir yang kerap terjadi dan kekeringan bertanggung jawab atas kehilangan 90% produksi pangan sepanjang tahun 1996-2001. Di 2013 serbuan topan Haiyan menghancurkan lebih dari 30 juta tanaman kelapa tempat dimana ratusan ribu keluarga miskin di Filipina Tengah menggantungkan hidupnya.

Di sisi sebaliknya, kontribusi pertanian terhadap emisi gas rumah kaca (greenhouse gas–GHG) juga meningkat. Menurut IPCC, pertanian bertanggung jawab atas 14% dari total emisi gas rumah kaca, level emisi yang sama dengan yang dilepaskan sektor industri dan transportasi. Industri pertanian skala besar menjadi penanggung jawab utama dari emisi gas rumah kaca dari bidang pertanian ini.

Berdasarkan latar belakang ini, apa yang bisa dilakukan the Association of Southeast Asian Nations (Asean) untuk membuat petani skala kecil dan pertanian memiliki daya lenting yang baik dalam menghadapi perubahan iklim? Jawabannya adalah pada pengembangan pertanian berkelanjutan dan pertanian ramah lingkungan. Praktik pertanian berkelanjutan adalah termasuk diversifikasi tanaman, pemupukan kompos, manajemen air yang bertanggung jawab dan rehabilitasi lahan terdegradasi.

Pertanian ramah lingkungan termasuk daur ulang biomasa untuk menambah nutrisi tanah, manajemen air secara efisien, sistem tumpang sari, dan penggunaan bibit lokal warisan tradisi. Pertanian ramah lingkungan menegakkan prinsip hubungan yang menguntungkan antara tanaman, serangga, hewan, tanah dan lingkungan sekitar untuk menjaga ekosistem tetap baik. Keduanya, baik pertanian berkelanjutan maupun pertanian ramah lingkungan mengutamakan kesejahteraan dan kelangsungan hidup petani skala kecil.

Praktik pertanian berkelanjutan dan pertanian ramah lingkungan juga merupakan cara efektif untuk beradaptasi dengan perubahan iklim dan memitigasi terhadap dampak perubahan iklim. Praktik-praktik tersebut akan membantu petani menumbuhkan tanaman pangan dalam situasi iklim yang berubah (adaptasi iklim) tanpa lebih jauh mengemisi gas rumah kaca (mitigasi iklim). Bagi pertanian, untuk bisa berkembang dalam krisis iklim yang tak pasti, Asean harus berubah ke arah pertanian berkelanjutan dan pertanian ramah lingkungan yang bisa dilakukan secara konkret dalam beberapa cara.

Pertama, Asean harus menduplikasi pertanian berkelanjutan dan pertanian ramah lingkungan di kawasan. Program seperti SRI atau System of Rice Intensification yang mengoptimalkan panen tanpa merusak nutrisi tanah dan menggunakan varietas padi yang mampu bertahan pada situasi banjir maupun kekeringan. SRI telah diterapkan di Kamboja, Vietnam dan Filipina.

Perempuan yang juga merupakan produsen pangan harus disertakan dalam program ini. Perempuan seringkali secara salah tidak dimasukkan sebagai aktor ekonomi dan karenanya seringkali ditinggalkan dalam proyek-proyek pembangunan.

Kedua, Asean harus mengembangkan pusat pengetahuan secara terpusat untuk adaptasi dan mitigasi yang memungkin negara-negara anggota untuk berbagi dan mengakses informasik seperti dampak perubahan iklim pada pertanian dan praktik yang baik adaptasi iklim dalam pertanian.

Ketiga, Asean harus mempelajari kemungkinan dibentuknya Pendanaan Asean untuk adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Kehancuran pertanian akibat bencana menimbulkan kerugian miliaran dolar AS. Sistem peringatan dini dan prakiraan cuaca lokal serta pengumpulan data iklim akan dapat menyelamatkan hasil pertanian dari kehancuran.

Terakhir, pemerintah nasional di Asean harus memberikan insentif kepada petani skala kecil untuk terus dapat mengadopsi praktik pertanian berkelanjutan dan pertanian ramah lingkungan. Taruhannya memang begitu besar bagi petani skala kecul di era perubahan iklim. Asean harus bertaruh kepada petani miskin dan pertanian berkelanjutan serta pertanian ramah lingkungan untuk menghadapi risiko tersebut.

*) Riza Bernabe is the policy coordinator and Maya Quirino, the media, advocacy and communications lead, of Oxfam’s Grow campaign in East Asia.

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *