Polusi Tanah: Lampu Kuning Kesehatan Tanah | Villagerspost.com

Polusi Tanah: Lampu Kuning Kesehatan Tanah

Para petani belajar cara mengolah tanah tanpa mencangkul keseluruhan permukaan tanah (villagerspost.com/rahmat adinata)

Oleh: Azwar Hadi Nasution, Pegiat INAGRI, peserta diskusi pangan KRKP dan Peneliti Kesehatan Tanah.

Perayaan Hari Tanah Sedunia (World Soil Day) tahun 2018 mengangkat tema “Solusi Polusi Tanah”. Tema yang mengingatkan semua pihak bahwa polusi tanah sudah menjadi alarm akan kesehatan tanah, tanaman dan manusia. Perkiraan global pencemaran tanah yang unik dilakukan pada tahun 1990-an oleh Pusat Referensi dan Informasi Tanah Internasional (ISRIC) dan United Nations Environment Program (UNEP) memperkirakan 22 juta hektare tanah telah terpolusi (Oldeman, 1991).

Merujuk pada defenisi yang dikeluarkan oleh Food and Agriculture Organization (FAO) polusi tanah mengacu pada keberadaan bahan kimia atau zat yang tidak pada tempatnya dan/atau berada pada konsentrasi yang lebih tinggi dari biasanya yang memiliki efek buruk bagi organisme yang bukan target.

Sumber Polutan Tanah

Polutan tanah tidak selamanya dari luar atau bahan yang dimasukan ke dalam tanah. Ada beberapa polutan tanah yang merupakan simpanan dari tanah itu sendiri yang tersingkap ke permukaan. Beberapa bahan induk tanah adalah sumber alami dari logam berat tertentu dan elemen lainnya, seperti radionuklida, dan ini dapat menimbulkan risiko bagi lingkungan dan kesehatan manusia pada konsentrasi tinggi.

Kontaminasi arsen (As) adalah salah satu penyebab masalah lingkungan utama di seluruh dunia. Sumber alami As termasuk dari letupan gunung berapi (Albanese et al., 2007) dan pelapukan mineral yang mengandung As (Díez et al., 2009), tetapi juga zona alami mineralisasi arsenopirit (Gossans), dibentuk oleh pelapukan batuan sulfida (Scott, Ashley dan Lawie, 2001).

Banyak dari mineral ini menyajikan variabilitas spasial yang tinggi dan banyak dari mineral-mineral ini dapat ditemukan dalam konsentrasi yang lebih tinggi di lapisan yang lebih dalam di dalam tanah (Li et al., 2017). Namun, polutan yang sering dijumpai adalah polutan dari aktivitas manusia.

Sumber polutan dari aktivitas manusia yang menjadi sumber utama dari pencemaran tanah adalah bahan kimia yang digunakan dalam atau diproduksi sebagai olah-produk dari kegiatan industri, limbah domestik dan perkotaan, termasuk air limbah, agrokimia, dan produk turunannya. Bahan-bahan kimia dilepas ke lingkungan secara tidak sengaja dan sengaja, misalnya dari tumpahan minyak atau pencucian dari tempat pembuangan sampah, penggunaan pupuk dan pestisida, atau irigasi dengan air limbah yang tidak diolah.

Polutan dari Praktik Bertani

Mesin dan alat pertanian juga merupakan sumber polusi tanah. Bahan bakar mesin pertanian seperti traktor yang tumpah secara tidak sengaja merupakan hidrokarbon. Begitu juga dengan kandang yang tidak memiliki tempat pengomposan, feses dan urin ternak juga merupakan polutan bagi tanah.

Aplikasi pupuk dan pupuk yang berlebihan atau penggunaan yang tidak efisien dari pupuk N dan pupuk P adalah kontributor utama untuk masalah lingkungan (Kanter, 2018). Kelebihan N juga bisa hilang ke atmosfer melalui gas rumah kaca emisi, dan kelebihan P berkontribusi terhadap eutrofikasi pada sumber air.

Penggunaan pupuk yang berlebihan dapat menyebabkan salinitas tanah, logam berat akumulasi, eutrofikasi air dan akumulasi nitrat, yang bisa menjadi sumber pencemaran lingkungan tetapi juga ancaman bagi kesehatan manusia. Pupuk sintetis juga dianggap sebagai sumber logam berat seperti Hg, Cd, As, Pb, Cu, Ni dan Cu, dan radionuklida alami (Stewart et al., 2005).

Pestida juga merupakan polutan yang berbahaya. Selain racun bagi panen, pestisida juga membunuh musuh alami dan memutus rantai jejaring makan di dalam ekosistem pertanian.

Praktik Pertanian Ekologis (Agroekologi)

Integrasi tanaman dan ternak merupakan paduan yang pas untuk mengurangi polutan ke dalam tanah. Kompos dan residu ternak merupakan sumber nutrisi yang penting. Kedua hal tersebut berkontribusi untuk mengurangi modal awal bertani (mengurangi modal pembelian pupuk sintetis), mengurangi dampak lingkungan dari limbah dan meningkatkan bahan organik dan kandungan nitrogen dalam tanah sambil mengurangi masukan eksternal ke dalam agroekosistem. Pola kandang di lahan pertanian selain meningkatkan ekonomi petani kecil juga merangsang pengetahuan dan aplikasi baru di dalam praktek agroekologi.

Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) yang pernah digagas seharusnya mampu juga melakukan transformasi menjadi sekolah Integrated Farming. Sekolah tersebut melakukan transformasi dari penyediaan daging dan tabungan peternak menjadi pelopor praktek integrasi tanaman dan ternak. Selain mengangkat 4,2 juta peternak kecil juga mampu menjadi penyedia kompos terbesar bagi petani.

Integrasi ternak dengan produksi tanaman dapat memperketat siklus nutrisi dan diversifikasi produksi, terutama untuk keluarga petani kecil dan peternakan rakyat. Dalam sistem pertanian campuran, hasil sampingan tanaman adalah diumpankan ke ternak sementara pupuk diterapkan ke lahan pertanian mempertahankan manfaat dari bahan organik tanah dan nutrisi tersedianya.

Sistem ini sudah sangat banyak praktiknya di Jawa terutama di Yogjakarta dan Jawa Timur. Bahkan ungkapan awal mula dari pertanian adalah akhir dari peternakan dan begitu juga sebaliknya akhir dari pertanian merupakan awal mula peternakan.

Prinsip utama agroekologi adalah memperbaiki kesehatan tanah dan tanaman untuk menghasilkan pangan sehat yang berkelanjutan. Bahan-bahan alami yang dimasukan ke tanah hanya dapat lahir dari proses yang alami.

Peternakan sebagai salah satu sumber bahan untuk dimasukan ke dalam tanah seharusnya terbebas dai bahan kimia yang menjadi polutan tersendiri bagi peternakan. Rasanya sudah saatnya seluruh komponen bangsa ini melihat pertanian dan peternakan memiliki sisi kemuliaan yang harus dijaga, dipelihara dan dikombinasikan. Atau kita masih belum bergerak dari dogma lama bahwa pertanian dan peternakan adalah dua sisi mata uang?

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *