Saya, Artis dan Panggung | Villagerspost.com

Saya, Artis dan Panggung

Samsudin tengah mendongeng di sebuah sekolah (dok. pribadi)

Oleh: Samsudin, Pendongeng Keliling Pelestarian Satwa dan Lingkungan, asal Indramayu

Tahun lalu saya diundang mendongeng di acara ulang tahun sebuah komunitas dongeng di Yogyakarta. Tawaran itu datang mungkin karena pemberitaan yang dibuat saat saya mendongeng keliling Jawa dan mampir di Yogya untuk berkeliling mendongeng di beberapa tempat. Karena saya melihat kebanyakan generasi muda memakai instagram maka dengan terpaksa saya pun membuka akun instagram. Kontak-kontakan tawaran mendongeng pun terjadi lewat instagram.

Sebelumnya ada dua rencana kegiatan mendongeng yang batal dikarenakan ada ketidaksepakatan diantara pihak kedua dan pihak ketiga. Saya pihak pertama dong. Malas sudah menerima tawaran dongeng, apalagi untuk luar kota saat dompet saya kering-kerontang. Saya bilang, saya akan ke Yogya jika saya ada dana, biar tidak menyusahkan pihak lain. Tapi yang menghubungi saya ngotot, ya sudah saya iyakan sambil tetap cemas karena dua kegagalan sebelumnya.

Terus-terang saya hanyalah pendongeng jalanan, kalaupun diberitakan, bagi saya itu supaya pesan pelestarian satwa langka saya bisa tersebar lebih luas. Apalagi waktu itu judulnya keliling Jawa modal nekat gara-gara susah dapat dukungan di Jakarta. Boleh dibilang kegiatan dongeng saya lebih banyak asal menemukan tempat, mendapatkan izin, ya mendongenglah. Saya menghindari kerumitan. Toh judulnya dongeng gratis, meski tetap menerima donasi jika mereka rela membantu.

Kalaupun saya kehabisan uang hanya dua opsi, pulang atau minta tolong ke teman-teman aktivis/peneliti di lembaga konservasi satwa secara pribadi. Nah undangan mendongeng di Yogya itu rupanya sangat terorganisir. Apalagi KPK ikut serta mendukung kegiatan tersebut. Temanya sendiri disesuaikan dengan misi KPK, dongeng integritas. Salah satu pendongeng sudah saya kenal sebelumnya, di sosial media, yang lain sama sekali tidak saya kenal, termasuk Agus PM TOH, pendongeng asal Aceh, yang hanya saya ketahui dari berita di televisi. Kalaupun nama Saut Situmorang sebagai salah satu pimpinan KPK saat itu, itupun saya tahu dari pencarian google. Saya terus berfikir kenapa saya ikut diundang di acara tersebut?

Sampailah saya di Yogya, dengan kereta api yang karcisnya dibayari panitia kegiatan, panitia yang belum saya kenal. Disambut dengan baik dan diajak menikmati sudut lain kota Yogya yang belum saya datangi sebelumnya. Malamnya semua berkumpul, ada satu gadis Jakarta yang berusaha ingin tahu tentang saya, dia juga didaulat untuk mendongeng. Jelas saya minder, saya hanya menjawab samar-samar dan berusaha tidak jadi perhatian khalayak.

Kembali ke penginapan pun saya tetap bingung mau melakukan apa. Naik turun tangga atau lift sendiri, meskipun saya dapat pendamping / volunteer tapi mereka kan harus istirahat juga dan kamar mereka berada di lantai lain. Saya benci penginapan, tidur di tempat itu membuat saya terasing. Yang bisa dilakukan paling hanya menonton televisi di kamar atau menyapa pegawai hotel, tidak bisa melakukan hal-hal yang biasa saya lakukan sebelumnya saat saya berkelana dengan sepeda atau jalan kaki, bisa mengamati orang-orang di jalanan atau menikmati makanan murah di pinggir jalan.

Acara pun selesai dan masing-masing kembali atau melanjutkan rencana perjalanan. Saya kembali ke rumah. Kami, para pendongeng, kecuali Pak Saut Situmorang, saling bertukar akun instagram. Kehidupan saya kembali seperti sediakala, sibuk mencari dukungan atau mendongeng secara mendadak jika memungkinkan.

Tiba-tiba gadis Jakarta itu pamer foto ayah-ibunya di instagram. Saya baru sadar dengan nama belakangnya, Fawzi. Rupanya anak Ikang Kawzi dan Marissa Haque. Oh, jadi waktu itu saya satu panggung dengan artis, saya tertawa sendirian di kamar. Saya ceritakan ke anak saya yang duduk di kelas terakhir di sekolah menengah pertama, dia malah lebih tahu anaknya Ikang Fawzi tersebut daripada saya.

Saya benar-benar berada di dunia yang berbeda. Saya hanya berusaha ingin tahu tokoh-tokoh seusia saya atau yang lebih tua, sama sekali tidak tahu orang-orang terkenal yang berusia muda, kecuali Greta Thunberg atau Malala Yousafzai. Sampai sekarang saya masih tidak percaya jika saya pernah sepanggung dengan artis muda, bukan dengan demonstran muda yang biasa saya temui di arena demonstrasi.

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *