Sejarah Budidaya Padi: Teknologi Budidaya Padi Sawah Berasal dari Pulau Jawa | Villagerspost.com

Sejarah Budidaya Padi: Teknologi Budidaya Padi Sawah Berasal dari Pulau Jawa

Generasi muda petani melakukan praktik tanam padi ramah lingkungan (villagerspost.com/rahmat adinata)

Oleh: Suryo Wiyono, Kepala Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB

Ada pepatah, sejarah adalah milik yang menang, dan dalam konteks yang lebih luas adalah milik yang memenangkan wacana ilmiah. Ilmuwan Barat dan China menyatakan, budidaya padi sawah berasal dari lembah Sungai Yangtze di China pada tahun 4500 SM. Dalil ini didasari pada pada kajian paleobotany dan archaeology, yang di antaranya menggunakan prakiraan rantai karbon C-14 (Jin et al dalam jurnal Archaeological and Anthropological Sciences, 2018).

Dalil inilah yang sekarang diklaim sebagai kebenaran, dan sering diajarkan dalam sejarah pertanian seperti di dalam kuliah-kuliah budidaya padi maupun dalam tulisan populer. Tetapi sangat mungkin klaim seperti itu menjadi “kebenaran” hanya karena ilmuwan Barat dan China menguasai publikasi ilmiah di tingkat global, yang tentunya didukung riset yang serius. Dengan kata lain, belum ada kajian mendalam tentang sejarah budidaya padi dan padi sawah di Indonesia.

Landasan sejarah yang benar tentang pertanian di Nusantara akan memberikan landasan teori dan inspirasi yang lebih tepat tentang pengembangan pertanian Indonesia. Pendapat penulis, budidaya padi sawah, akarnya justru berasal dari Jawa. Walaupun perlu penelitian lebih dalam tentang hal tersebut, namun saat ini sudah terdapat banyak bukti kuat bahwa tradisi budidaya padi sawah yaitu teknik budidaya dengan tanah yang dijenuhi air berasal dari Jawa.

Lima indikasi utama dalah sebagai berikut: Pertama, keanekaragaman genetik yang tinggi. Nusantara merupakan salah satu center of diversity padi, dan banyak sekali jenis-jenis varietas lokal nya. Sebagai contoh saat ini di salah satu tempat di Kalimantan Tengah terdapat lebih kurang 200 padi. Menurut teori Vavilov, tempat di mana keragaman genetik banyak dan banyak jenis liarnya merupakan tempat asal budidaya tanaman tersebut.

Kedua, peninggalan sejarah berupa gambaran prosesi pertanaman padi pada relief Candi Borobudur termasuk ada hama tikusnya. Majalah Historia dalam edisi tanggal 14 Feb 2019 dengan artikelnya “Nasi Sejak Dulu Kala” mengungkap adanya gambaran pertanaman padi pada relief Karmawibhangga Candi Borobudur (abad 9), dan bentuk persawahan pada relief Candi Minak Jinggo (abad ke-9).

Ketiga, budaya terkait padi yang kuat. Hal pertama adalah cerita rakyat yang berkaitan dengan padi sangat banyak di berbagai daerah seperti cerita tentang Dewi Sri. Hal kedua adalah upacara adat berkaitan dengan budidaya padi sangat lengkap. Di pedesaan JawaTengah dan Jawa Timur tahun 70-an pada satu siklus pertanaman padi bisa dilakukan empat kali upacara.

Selain itu, Bahasa Jawa memiliki istilah yang sangat detail tentang beras, misalnya untuk menggambarkan bulir padi. Bulir: gabah (bulir berkulit), beras (bulir sudah dikupas), menir (beras yang pecah-pecah ukurannya kecil), katul (kulit ari beras), brambut (kulit gabah), sega (nasi- sudah dimasak), upa (satu butir nasi), karak (nasi sisa yang dijemur). Bandingkan dengan Bahasa Inggris yang hanya kenal satu kata untuk menggambarkan padi yaitu rice.

Keempat, persawahan ala Indonesia di Madagaskar. Landskap persawahan yang ada di Madagaskar sangat mirip dengan yang ada di Jawa- Bali/Indonesia. Saat ini sudah diterima bahwa penduduk Madagaskar secara dominan berasal dari Jawa. Itu, bisa dilihat dari segi kemiripan bahasa, dan bentuk rumah kayu limasan, dan dikuatkan dengan kajian molekuler (DNA) orang Madagaskar. Migrasi orang Nusantara ke Madagaskar (8000 km dari kepulauan Nusantara) diperkirakan terjadi tahun 2500 sebelum masehi.

Fakta-fakta tersebut tersebut sangatlah kuat, dan untuk memperkokoh pengakuan ilmiah di forum ilmiah internasional perlu kajian mendalam dan holistik tentang sejarah budidaya padi di Indonesia, secara lintas disiplin yang meliputi, pertanian, genetika tanaman, antropologi, arkeologi, paleobotani, geologi. Kejayaan masa lalu Nusantara ini merupakan modal untuk merancang masa depan.

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *