Siapapun Yang Terpilih, Jangan Lupakan Nelayan | Villagerspost.com

Siapapun Yang Terpilih, Jangan Lupakan Nelayan

Nelayan tradisional bersiap melaut. (dok. kotawaringinbaratkab.go.id)

Oleh: Hendra Wiguna, Humas Kesatuan Nelayan Tradisional (KNTI) Kota Semarang

Tatkala musim pemilihan umum datang, hampir semua energi bangsa ini tersedot ke arah agenda politik akbar lima tahunan tersebut. Hal ini bukan sepenuhnya negatif, hanya saja jangan sampai kita melupakan keberadaan atau keadaan sekitar kita.

Pemilu 2019 ini dirasa-rasa tetap sama saja, dimana para kandidat terutama calon legislatif lebih banyak membicarakan tentang pesona personal ketimbang gagasan apa yang akan ia bawa ketika ia menjadi bagian dari lembaga legislatif. Demikian pula dengan dua kandidat calon presiden dan wakil presiden yang dinilai belum memiliki visi yang jelas, terutama dalam menciptakan kesejahteraan bagi para nelayan.

Bangsa Indonesia mewarisi bagian bumi bak surga, tak ayal menjadi rebutan hingga sekarang. Indonesia memilki luas wilayah 7,81 juta km2, dengan luas lautnya mendominasi yaitu mencapai 3,25 juta km2, serta luas Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) 2,55 km2. Sedang daratanya hanya 2,01 juta km2.

Karenanya Indonesia perlu mengarahkan pandangannya ke pengelolaan laut. Bukan pengelolaan serta merta namun pengelolaan yang dapat dipertanggungjawabkan, karena di laut terdapat hajat orang banyak termasuk masa depan generasi penerus bangsa ini.

Jika menilik laut dengan seksama, maka disana kita dapati bahwa nelayan lah yang mewarisi laut Indonesia siang atau malam mereka bergantian bersama laut. Kehidupan mereka bergantung dengan laut, akan tetapi akhir-akhir ini jumlah nelayan kian berkurang. Kesejahteraan mereka pun dari tahun ke tahun semakin menurun.

Tak heran jika di Tambak Lorok, yang merupakan perkampungan nelayan terpadat di Kota Semarang, masih didapati nelayan-nelayan tradisional yang belum memiliki kapal. Mereka melaut ikut kapal tetangganya yang nantinya menerima bagi hasil.

Tentu hasil yang didapat oleh nelayan ini tidak seberapa, mengingat kondisi laut jawa terutama area yang berdekatan dengan aktivitas pabrik serta minim kesadaran akan pembuangan sampah menjadikan kondisi laut memprihatinkan. Hal ini cukup menjadi gambaran betapa kehidupan nelayan selama hampir lima tahun belakangan ini tidak beranjak membaik seperti yang dijanjikan pemerintah.

Selain tantangan kehidupan ekonomi yang buruk, nelayan juga menghadapi tantangan lain yaitu kondisi laut yang tak lagi menjadi rumah ikan yang baik serta keadaan cuaca yang tidak bisa diprediksi. Ditambah lagi dengan sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) untuk melaut.

Itulah sedikit uraian mengenai keadaan nelayan saat ini, mungkin beberapa caleg ada yang sudah mendapatinya ketika berkampanye di lapangan. Demikian pula dengan para kandidat presiden dan wakil presiden. Janji-janji politik menyejahterakan nelayan pun sudah ditebarkan dan ditunggu realisasinya oleh siapapun yang memegang mandat mengelola negeri ini nantinya.

Bagi nelayan, yang terpenting adalah bukan siapa yang bakal menang. Bukan siapa yang bakal menjadi presiden atau wakil presiden, atau bukan partai mana yang akan menjadi penguasa parlemen. Bagi mereka yang terutama adalah siapapun itu wajib, dapat menyelesaikan permasalahan tersebut ketika sudah terpilih nanti.

Karena sejatinya nelayan adalah penjaga kekayaan bangsa ini, karena upaya keras para nelayan lah kita bisa menikmati hasil laut hingga detik ini. Para nelayan lah yang tetap menjaga budaya leluhur kita yang konon katanya seorang pelaut. Mereka berada di paling depan wilayah negeri ini.

Jangan lupakan nelayan jika sudah terpilih nanti, ingat mereka rela libur melaut untuk ikut memilih anda. Jangan lagi nelayan dikecewakan. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *