Suriah, Setelah Empat Tahun Konflik, Kisah Dibalik Berita | Villagerspost.com

Suriah, Setelah Empat Tahun Konflik, Kisah Dibalik Berita

Anak-anak korban konflik Suriah (dok. oxfam/Sam Tarling)

Anak-anak korban konflik Suriah (dok. oxfam/Sam Tarling)

Oleh: Maya Mailer, Oxfam’s Head of Humanitarian Policy and Campaign

Jakarta, Villagerspost.com – Jika anda mengetik kata “Suriah” di Google News, di kepala berita yang umumnya akan muncul adalah tentang serangan udara, hukum pancung dan Jihadi John (eksekutor para terhukum mati). Lebih kurang dramatis, ongkos manusia setiap hari yang terjebak dalam krisis itu semakin jarang dimunculkan. Barangkali ini sangat tidak menguntungkan.

Saat konflik memasuki tahun kelima, perasaan lelah dan tak berdaya pun muncul. Kawan media saya yang keras kepala bilang, kita perlu menemukan sesuatu yang baru untuk dikatakan. Penderitaan manusia setiap hari bahkan dengan magnitude seperti itu, jelas-jelas tidak menghentikannya (konflik-red). Saat perhatian dunia internasional semakin memudar, penderitaan terus berlanjut dalam skala yang luar biasa.

Seperti dilaporkan dalam sebuah dokumen bertajuk “Failing Syria” (Suriah yang Gagal-red) yang dirilis hari ini dari sejumlah 21 organisasi kemanusiaan dan hak asasi manusia, termasuk Oxfam, warga Suriah mengalami tingkat kematian dan kehancuran yang terus meningkat. Warga sipil tanpa pandang bulu terus diserang, terlepas dari adanya imbauan di bulan Februari 2014 dari resolusi Dewan Keamanan PBB yang meminta serangan-serangan itu dihentikan.

Kenyataannya, tahun 2014 menjadi tahun yang paling mematikan dari konflik tersebut dengan dilaporkan sekitar 76.000 orang terbunuh. Terlalu banyak untuk tuntutan besar dari kekuatan besar yang duduk di Dewan Keamanan PBB.

Di negara yang tadinya adalah negara ekonomi menengah, 11,6 juta orang saat ini membutuhkan air bersih. Sejumlah 3,7 juta menjadi pengungsi. Apa yang saya coba bertahan, dan saya akui itu tak selalu mudah adalah dibalik angka-angka luar biasa itu, terdapat jutaan lagi kehidupan individu yang hancur. Mereka adalah petani, guru, pelajar, musisi–orang-orang biasa seperti saya dan anda— berjuang untuk bertahan hidup dan bertarung untuk menjalani kehidupan normal.

Orang seperti Ayham, seorang pianis yang konsernya di sebuah jalanan yang hancur penuhi puing di Yarmouk, sebuah distrik di Damaskus dipancarluaskan via Skype, atau Noor seorang pengungsi yang mengajarkan anak-anak pelajaran bahasa Arab di sebuah tenda di Lebanon.

Seperti umumnya pengungsi Suriah, Noor tinggal di tempat penampungan tak resmi. Jargon bantuan tidak menciptakan keadilan pada tempat semodel tersebut, sebuah area yang kotor, dipenuhi orang yang tinggal di bawah tenda terpal dimana orang berusaha untuk merasa tinggal selayaknya di rumah di tengah kesulitan. Dalam sebuha kunjungan ke tempat penampungan dimana Oxfam menyediakan air bersih, selimut dan bantuan dana, saya duduk bersama keluarga pengungsi di tenda mereka, berhimpitan mengelilingi sebuah perapian untuk menghangatkan badan.

Tenda itu adalah “rumah” bagi delapan orang, anak-anak mengenakan sendal jepit di tengah hawa dingin yang mengigit, berlarian keluar masuk saat kami berbicara. Ayah dari keluarga itu berkata mereka sangat mengalami kecemasan terkait status mereka di negara tersebut, namun segera menghapus segela harapan untuk kembali ke Suriah dalam waktu dekat. “Mungkin dalam lima atau sepuluh tahun, siapa tahu?” ujarnya.

Hal ini menjadi tema yang berulang dari setiap perjalanan, di satu sisi kembali ke Suriah sepertinya menjadi sesuatu yang tak mungkin lagi dipertanyakan tetapi di sisi lain meningkatnya pembatasan bagi pengungsi membuat mereka mengalami kecemasan akut soal apa yang akan mereka hadapi di masa depan di negara yang menampung mereka.

Saya terpukul dengan pilihan yang tidak masuk akal yang dihadapi para pengungsi. Dengan mayoritas tinggal di luar penampungan formal seperti di Zaatari di Yordania, kebanyakan pengungsi harus membayar sewa dari tuan tanah setempat. Tentu seorang pemilik lahan di utaea Lebanon akan menyebut tempat penampungan sementara mereka sebagai ‘hotel’. Tetapi di Yordania dan Lebanon pengungsi menghadapi tembok tebal untuk mendapatkan izin untuk bekerja.

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *