Ulee, Disabilitas, dan Semangat Pelestarian Satwa Langka | Villagerspost.com

Ulee, Disabilitas, dan Semangat Pelestarian Satwa Langka

Ulee bersama Samsudin dan kaos dongeng keliling perlindungan satwa langka yang digagas Ulee (dok. samsudin)

Oleh: Samsudin, Pendongeng Keliling Pelestarian Satwa Asal Indramayu

Ulee. Demikian namanya. Singkat saja, sesingkat nama aslinya Yuliana. Panggilan Ulee sendiri berasal dari keinginan Yuliana sendiri yang merasa namanya sangat ‘perempuan’. Ulee adalah plesetan dari panggilan akrabnya ├Łuli’. Saat pertama mengenalnya, di 2018 lalu, perasaan yang pertama hadir di hati saya adalah iba.

Ya, Ulee adalah seorang penyandang disabilitas yang kata orang Indramayu, mengalami lumpuh layu. Dia nyaris tak bisa menggerakkan seluruh anggota tubuhnya. Penyakit itu dia alami sejak kelas 1 SMP. Kondisi tubuhnya yang makin melemah membuat Ulee terpaksa putus sekolah, sebab jika dia memaksa ingin terus sekolah akan sangat merepotkan keluarganya yang tergolong miskin.

Begitulah kondisi kehidupan Ulee. Tetapi, semakin lama saya mengenal dia, perasaan iba itu pelan-pelan bergeser menjadi rasa kagum. Di tengah keterbatasannya, Ulee ternyata merupakan sosok yang energik.

Dia banyak terlibat dalam berbagai kegiatan penggalangan amal untuk korban bencana. Saya sering bertemu dengan Ulee di acara-acara tersebut. Ulee yang merupakan penggemar Slank, namun dia sering terlibat dalam kegiatan penggalangan dana bersema para penggemar Iwan Fals, anak-anak punk dan club motor di seputaran Indramayu. Ulee tak sekadar ikut-ikutan. Justru dialah inisiator berbagai kegiatan penggalangan dana dan aksi sosial itu.

Sebagai penggemar Slank, Ulee tetap akrab dengan kawan-kawan penggemar Iwan Fals yang tergabung di OI (dok. samsudin)

Dari kegiatan itu pula aktivitas Ulee sebagai penyandang disabilitas sedikit terbantu. Sekitar dua tahun lalu, Ulee dihadiahi kursi roda layak pakai dari penggemar Iwan Fals agar lebih bisa bergerak dan mengikuti acara musik komunitas Slank yang dia sukai serta acara acara sosial yang digagas organisasi/komunitas pemuda.

Nah, sebulan yang lalu, seorang kawan Ulee, seorang penggemar Iwan Fals, mengadakan penggalangan dana untuk santunan memalui musik. Ulee merasa tergerak untuk melakukan hal yang sama. Bukan dengan genjrang-genjreng gitar dan alunan vokal seperti yang dilakukan temannya, tapi dengan menjual kaos.

Uniknya, ternyata Ulee melihat profil saya menarik dan layak untuk dijadikan sebagai obyek untuk dipajang di kaos tersebut. Mungkin karena saya, merupakan seorang pendongeng keliling pelestarian satwa dan saya sering mendorong Ulee untuk mengembangkan kemampuan bercerita.

Saya sering berkata pada Ulee: “Tangan dan kakimu sangat susah untuk digerakkan, bahkan untuk menekan keypad di screen hanya bisa dengan satu jari dengan posisi smartphone diletakkan di lantai, jangkauan tanganmu hanya beberapa senti dari tubuhmu tapi kamu masih dikaruniai otak dan kemampuan berpikir serta lancar berbicara. Maukah kamu belajar mendongeng? Agar makin banyak orang yang bisa mengingatkan anak-anak untuk ikut melestarikan satwa langka Indonesia,” kata saya.

Maka, Ulee pun beberapa kali sempat belajar mendongeng dari saya. Hanya saja, hasilnya memang belum maksimal. Maklum, rumah kami memang berjauhan. Terpisah jarak sekira 23 kilometer. Ulee, tinggal di Desa Plosokerep, Kecamatan Trisi. Saya di Desa Karanganyar, Kecamatan Pasekan. Butuh waktu 1 jam buat saya bermotor ke rumah Ulee.

Tapi ada sedikit hal membanggakan juga dari Ulee. Dia sudah pernah mencoba menjadi MC di sebuah acara musik untuk santunan kepada anak-anak yatim di Indramayu, bersama saya. Acara musik untuk santunan itu, digagas musisi lokal Aron Key, yang juga penggemar Iwan Fals dan anggota OI.

Saya berharap suatu saat bisa melatih Ulee bercerita lebih sering lagi. Maklum, saya sudah beranjak tua, sementara Ulee lumayanlah, masih terhitung muda. Usianya baru mengancik 33 tahun. Dia lahir tahun 1988.

Untuk saat ini, saya mendorong Ulee untuk berkonsentrasi menggalang donasi untuk dongeng pelestarian satwa lewat penjualan kaos. Dia pun mengambil foto profil saya hasil jepretan wartawan Kompas, untuk pajangan di kaos tersebut.

Ulee juga ikut belajar mendongeng kepada Samsudin (dok, samsudin)

Mendengar Ulee memilih gambar tersebut saya segera minta izin pada Kompas dan meminta Ulee memasang tulisan kecil, nama fotografer Kompas tersebut, di bagian bawah gambar profil saya.

Tak mudah memang memasarkan kaos untuk donasi ini. Malah banyak kritik yang mampir, kebanyakan dari kawan-kawan Ulee sendiri. Tulisan “Dongeng Keliling Nusantara”di bagian belakang kaos, desainnya dibilang mirip desain kelompok buruh tanam padi di Indramayu.

Tapi, saya pikir malah bagus. Ada sentuhan “Indramayu”-nya di kaos tersebut. Lagi pula saya memang norak, kadang bengal, iseng dan kampungan, biarlah gaya itupun tercetak di kaos yang didesain Ulee.

Selanjutnya saya bersama Ulee bekerja keras agar kaosnya laku. Sampai saat ini penjualan masih di bawah target. Ulee bilang mungkin cukup jika anak yang disantuni sekitar sepuluh orang.

Saya bilang ke Ulee, sebaiknya kita fokus di promosi kaos, kita harus minta banyak pihak untuk mempublikasikan kaos tersebut di media sosial. Tidak bisa membeli karena tidak pegang uang ya tidak apa-apa, kita minta mereka ikut menyebarkan foto foto kaos tersebut di akun mereka di media sosial.

Saya berharap dan yakin jika makin banyak yang mengangkat foto kaos tersebut makin besar kemungkinan orang untuk melihat dan tertarik membeli. Saya sendiri berpartisipasi membeli beberapa helai kaos yang saya hadiahkan pada cucu keponakan yang mau belajar mendongeng dengan wayang kardus saya.

Apresiasi pada mereka yang mau belajar mendongeng dan mengembangkan imajinasi mereka. Kini Ulee ingin bertemu dengan pihak yang bekerja di pemerintahan Indramayu. Harapannya, agar usaha saya dan dia mencari dana untuk dongeng keliling pelestarian satwa langka ini mendapat perhatian pihak pemerintah.

Tetapi kok saya sendiri ragu. Maklum, saya dan Ulee relatif bukan siapa-siapa di Indramayu. Akankah pihak-pihak tersebut mau menerima Ulee? Kita lihat saja nanti. Toh, Ulee menyadarkan saya untuk tetap optimis. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *