Aksi Illegal Fishing di Taman Nasional Komodo

Labuan Bajo, Villagerspost.com – Aksi penangkapan ikan secara ilegal di kawasan Taman Nasional Komodo dikabarkan tengah marak. Video yang diterima redaksi Villagerspost.com, Selasa (30/5) menunjukkan, adanya penangkapan ikan oleh kapal nelayan di kawasan untuk menyelam (diving spot) Crystal Rocks, kawasan Pulau Komodo, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Video tersebut diambil oleh seorang kapten kapal bernama Nasrul Djudje, yang tengah mengantar para wisatawan untuk menyelam di kawasan itu. Video tersebut diambil tanggal 16 Mei 2017 lalu sekitar pukul 16.00 Waktu Indonesia Bagian Timur. Para pelaku illegal fishing itu tak nampak terganggu dengan kehadiran para wisatawan dan mereka meneruskan aksi menangkap ikan dengan menggunakan jaring.

Menurut kesaksian salah seorang warga Labuan Bajo Matheus Siagian, aksi ini selain ilegal juga disinyalir menangkap spesies yang juga dilarang untuk ditangkap yaitu Pari Manta (Manta birostris). Sayangnya, kata dia, aksi memancing dengan menggunakan jaring pukat yang bisa mengancam kelangsungan hidup spesies Pari Manta ini, kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah setempat.

Dia menilai, jika hal ini dibiarkan, maka upaya mempromosikan Pulau Komodo sebagai kawasan wisata dan cagar alam laut bisa sia-sia. “Obyek wisata utama di sini selain jalan ke Pulau Komodo adalah diving atau snorkeling. Turis-turis berdatangan untuk melihat komodo, dalam satu hari bisa selesai. Nah kalau wisata laut, bisa berhari-hari bahkan sampai berminggu-minggu,” kata Mattheus.

Aksi illegal fishing dengan tangkapan Pari Manta ini, kata dia, kerap terjadi di Pulau Mawan, salah satu pulau di kawasan Taman Nasional Komodo. “Di Pulau Mawan saya lihat orang taruh pukat, dan santer kabar bahwa pukat itu untuk tangkap manta, ini yang membuat saya sedih. Harus segera ada tindakan dari pusat,” jelas Matheus.

Para pelaku bisa melakukan aksinya dengan leluasa karena jarang ada patroli dari aparat keamanan setempat dan penjaga taman nasional. “Patroli jarang. Alasan yang paling sering mereka bilang adalah nggak ada BBM (bahan bakar minyak) atau kendala biaya lainnya,” ungkap Mattheus.

Pria yang kesehariannya menjalankan bisnis kuliner di Jalan Soekarno-Hatta, Labuan Bajo ini, mengimbau pemerintah pusat memberikan perhatian. Apalagi, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti sudah mengeluarkan Kepmen-KP Nomor 4 Tahun 2014 Tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Ikan Pari Manta.

Dalam beleid itu disebutkan, ikan pari manta yang terdiri dari manta birostris dan manta alfredi sebagai jenis ikan yang dilindungi dengan status perlindungan penuh pada seluruh siklus hidup dan/atau bagian-bagian tubuhnya.

“Dari pusat juga harus dukung dong! Masak tiket masuk naik terus tetapi penjagaan nggak di tambah? Tahun lalu saat tiket taman nasional dinaikan banyak dive operator dan guide-guide di sini mengeluh. Namun saya selalu membela dengan menyatakan bahwa penjagaan kan butuh biaya dan patroli butuh uang,” tegasnya.

Video Courtessy: Nasrul Djudje

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *