Berokan: ‘Barongsai Indramayu’ Yang Nyaris Punah | Villagerspost.com

Berokan: ‘Barongsai Indramayu’ Yang Nyaris Punah

Jakarta, Villagerspost.com – Tak banyak yang bisa dilakukan Karsidi (60 tahun), di masa pandemi Covid-19 ini. Sebagai seniman, dia tidak lagi bisa mementaskan, salah satu kesenian khas Indramayu yang dikuasainya. Berokan. Kesenian ini adalah sejenis atraksi barongsai khas Indramayu, yang di masa lalu dipentaskan secara berkeliling.

Sebelum pandemi melanda, Karsidi, merupakan satu-satunya seniman Indramayu yang rutin mementaskan Berokan, agar tidak punah. Demi mendapatkan jam pentas, Karsidi bergabung dengan dua sanggar seni yaitu Sanggar Singa Depok dan Sanggar Jaka Baru, di Gadingan, Indramayu.

“Saya tidak punya berokan sendiri, hanya memainkan berokan milik sanggar atau grup kesenian yang mengajak pentas,” ujar Karsidi kepada Villagerspost.com, Senin (3/8).

Karsidi mulai memainkan seni Berokan sejak umur kurang lebih 17 tahun. Dia menjadi pelanjut seniman Berokan Indramayu bernama Rasmin yang tak lain adalah kakeknya sendiri. “Pada saat itu seni Berokan melakukan pertunjukan keliling (ngamen),” kata Karsidi.

Selain Karsidi yang memainkan Berokan, ada juga seniman lain yang menjadi pengiring. Alat musik pengiring Berokan yaitu alat musik terbang (berupa lingkaran dari kayu dilapisi kulit) dengan ukuran kecil dan besar, kendang, klenang (alat musik pukul berbahan logam mirip alat musik bonang) dan kecrek.

Jalan hidup berkesenian Berokan terus dijalani Karsidi, hingga kemudian dia terpaksa berhenti sementara akibat pandemi. Tetapi, kata dia, tanpa pandemi pun, kesenian Berokan sudah mulai ditinggalkan masyarakat Indramayu.

Pementasan Berokan Karsidi bersama Sanggar Jaka Baru (courtesy: sanggar jaka baru)

“Mulai sepinya kesenian Berokan di tahun 70-an akhir. Karena pelakunya sudah banyak yang sepuh dan kurangnya minat keturunan mereka menekuni seni Berokan tersebut. Seni berokan akhirnya hanya muncul di acara festival dan kegiatan seni tahunan,” jelas Karsidi.

Kini, untuk menghidup keluarganya, Karsidi berjualan mainan anak-anak berbahan plastik. Profesi ini memang menjadi usaha sampingannya manakala tidak ada pementasan. Karsidi hidup bersama istrinya Rami (50) dan anaknya, Jatala (25), yang juga mengikuti jejak seni bapaknya dengan menjadi penabuh gamelam untuk pertunjukan wayang kulit.

Hari-hari ini, kehidupan Karsidi secara ekonomi memang sangat berat. Pandemi Covid-19 tidak hanya membuat acara pementasan seni ditutup. Tetapi juga arena pasar rakyat yang merupakan tempat favorit Karsidi untuk berdagang mainan. Penutupan pasar rakyat membuat Karsidi kelimpungan.

Untuk menutupi kebutuhan hidup karena tidak bisa berdagang mainan dan sepinya pementasan Berokan, membuat Karsidi terpaksa terbelit utang. Dia meminjam uang di pimpinan Sanggar Singa Depok, dimana Karsidi menjadi anggotanya, sebanyak dua juta rupiah. “Sampai sekarang saya belum bisa mengembalikan utang-utang tersebut,” katanya.

Meski hidup sulit secara ekonomi, dedikasi Karsidi dalam berkesenian, khususnya melestarikan Berokan, tak pernah surut. Bersama Sanggar Jaka Baru, Karsidi terus berupaya melestarikan dan tetap mengenalkan seni Berokan ke masyarakat.

Adhiem, salah seorang pengurus Sanggar Seni Jaka Baru mengatakan, pihaknya saat ini tengan berusaha mengangkat sosok Karsidi sebagai maestro untuk seni Berokan ke pemerintah Provinsi Jawa Barat.

“Harapan Sanggar Jaka Baru berkaitan dengan seni Berokan salah satunya adalah ada pihak pemerintah atau lembaga swasta yang bisa mengupayakan adanya festival tahunan seni Berokan sehingga sanggar-sanggar seni Berokan, terutama di Indramayu bisa tetap terus dikenal oleh masyarakat luas,” ujar Adhiem.

Karsidi sendiri menegaskan akan terus berusaha mempertahankan seni Berokan sepanjang hayatnya. “Saya berharap seni Berokan bisa hidup lagi seperti saat saya muda dulu. Mumpung saya masih sehat waras saya ingin terus berkecimpung di seni Berokan,” pungkasnya.

Laporan/Video: Samsudin, pendongeng lingkungan keliling asal Indramayu, jurnalis warga untuk Villagerspost.com

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *