Darurat Serangan Belalang Kembara di Sumba Timur

Waingapu, Villagerspost.com – Serangan belalang kembara kembali mengganas menerpa wilayah Sumba, khususnya di Kota Waingapu, Sumba Timur. Serangan ini mirip dengan serangan yang terjadi tahun 2016 lalu antara bulan Mei hingga Agustus. Saat itu, koloni belalang menyerbu di sekitaran padang Savana wilayah Yubuwai, lalu terbang ke arah Laindeha dan sebagian terbang ke arah kecamatan Pahungalodu, kabupaten Sumba Timur.

Untuk serangan Juni 2017 ini, koloni tersebut mulai merangsek terbang ke wilayah ibu kota kabupaten Sumba Timur, Waingapu. Tipikal jenis belalang kembara ini jumlahnya sudah bukan ratusan lagi, tapi sudah ratusan ribu hingga bisa membuat alam sekitar menjadi gelap. Mereka juga bersifat merusak tanaman, khususnya tanaman pertanian seperti jagung, karena mereka akan memakan tanaman apa saja yang ditemui selama melakukan migrasi.

“Mereka makan rerumputan, daun pisang dan bunga-bunga tanaman yang dilewatinya,” kata Rooslinda Rambu Lodji penduduk kelurahan Prailiu, Waingapu, kepada Villagerspost.com, Senin (12/6).

“Butuh penanganan yang kompak dari semua elemen masyarakat, jika sudah begini bukan tugas pemerintah saja. Ini kan sudah masuk dalam KLB (Kejadian Luar Biasa).” ujarnya lagi.

Penanggulangan sangat diharapkan, namun juga tentunya harus dihindari dengan penggunaan bahan-bahan kimia sintetis yang akan berdampak negatif pada lingkungan. “Tahun lalu dinas terkait pun melakukan penanggulangan dengan obat kimia, namun karena sebarannya banyak serta penanganannya masih relatif manual, akibatnya bisa disebut kurang berhasil. Ini butuh kerjasama semua pihak dengan kearifan lokal, agar alam semakin tidak murka,” kata Rooslinda menambahkan.

Annisa Yuniar warga Bogor Jawa Barat yang kebetulan sedang berada di Kota Waingapu, merasa aneh sekaligus kaget dengan adanya fenomena alam yang terjadi di Sumba ini.
“Aneh sekaligus merinding lihat gerombolan belalang yang begitu banyak. Ini baru saya alami seumur hidup. Selama ini belum ada keluhan warga petani yang diserang tanamannya, entahlah besok lusa. Semoga tidak terjadi,” kata pegiat tanaman warna alami di Sumba Timur ini.

Sementara itu, pakar penyakit tanaman dari Institut Pertanian Bogor Hermanu Triwidodo mengatakan, meski untuk menanggulangi serangan belalang ini bisa dilakukan dengan pestisida, dia tidak menyarankan agar hal itu dilakukan. “Penggunaan pestisida bisa merusak lingkungan sekitarnya seperti tanaman dan tumbuhan,” ujarnya.

Dia mengetakan, sebelumnya pada serangan tahun 2016, sudah menyarankan agar pihak pemerintah kabupaten dan provinsi, serta pusat melakukan monitoring karena dia memprediksi akan terjadi serangan kembali di tahun ini. “Ini siklus yang tadinya panjang yaitu 10 tahunan namun semakin ke sini semakin pendek, semakin panjang musim kemarau, telur belalang semakin banyak, ini yang menjadi penyebab ledakan karena di NTT musim hujan rata-rata hanya 2 bulan,” ujarnya.

Lantaran serangan sudah parah akibat tak ada monitoring dari daerah dan pusat, menurut Hermanu yang bisa dilakukan saat ini adalah bergantung pada iklim. “Kalau sudah sepert ini ya sebaiknya tinggal tunggu hujan saja karena telur mereka ini kan menetas di tanah lembab,” ujarnya.

Laporan/Video: Rahmat Adinata, Praktisi Pertanian Organik, Anggota Gerakan Petani Nusantara

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *