Dilema Bibit Kentang Di Pangalengan | Villagerspost.com

Dilema Bibit Kentang Di Pangalengan

Pangalengan, Villagerspost.com – Bibit merupakan rohnya petani, ketika lahan siap ditanami namun bibit tak tersedia, tentu akan menjadi bencana bagi petani. Situasi inilah yang kini tengah dialami para petani kentang di Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Para petani kentang di Pangalengan mengalami kesulitan bibit kentang karena harganya melambung tinggi.

Harga bibit kentang ukuran G-3 misalnya, melambung hingga mencapai kisaran Rp35.000 per kilogramnya. Padahal biasanya hanya sebesar Rp20.000,-/kg nya. Itu pun sudah masuk harga tertinggi. “Pangalengan sebagai sentral produksi bibit kentang hingga bisa memasok kebutuhannya ke seluruh pelosok Nusantara, namun dengan kondisi langkanya bibit ini otomatis memacu harga naik dari biasanya,” kata salah seorang petani kentang Asep Denny Sabani Parat.

Dia mengatakan, kelangkaan yang memicu naiknya harga kentang sebenarnya dipicu oleh kecerobohan petani itu sendiri, dan ada kaitannya dengan ketersediaan stok bibit tahun lalu. “Kebutuhan bibit untuk tingkat pasar hanya 100 ton, yang tersedia di penangkar ada 1.000 ton otomatis waktu itu bibit yang ada dijual murah atau dicuci gudangkan (diobral dengan harga sangat murah-red). Dampaknya sekarang harga melonjak tinggi, sebab stok bibit sudah langka,” terang Denny.

Dari sisi harga kentang konsumsi pun saat ini bisa dikatakan mahal di kisaran Rp11.500 per kilogramnya dari petani. Namun menurut Yuzz Sabani petani kentang dari Kampung Ranca Gede Pangalengan, meski harga mahal, tetapi produksi berkurang sekitar 25%. “Ini diakibatkan oleh faktor perubahan iklim yang terjadi. Ini jadi dilematis juga bagi kami sebagai petani hortikultura,” paparnya.

Saat ini, kebutuhan bibit kentang untuk satu hektare tanam sekitar 2.000 kg. Bila dikalikan dengan harga bibit kentang Rp35.000/kg, berarti petani harus mengeluarkan Rp70 juta hanya untuk belanja bibit saja, belum kebutuhan yang lainnya. Dengan biaya membengkak sedemikian, toh petani terpaksa bertanam juga. “Terpaksa dilakukan daripada kebun dibiarkan kosong,” kata Asep Denny.

Dia khawatir kelangkan bibit kentang dan menurunnya produksi kentang Pangalengan ini mendatangkan pukulan lain bagi petani, yaitu adanya mafia pangan yang memanfaatkan situasi untuk mendatangkan kentang impor dari luar seperti pernah terjadi beberapa tahun ke belakang, dimana kentang konsumsi didatangkan dari Banglades. “Dalihnya untuk menstabilkan harga pasar, ujung-ujungnya petani negeri sendiri jadi terpuruk, semoga tidak terjadi,” pungkasnya.

Laporan/Video: Rahmat Adinata, Praktisi Pertanian Organik, Anggota Gerakan Petani Nusantara

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *