Empat Pebisnis Sosial Sulawesi Selatan Ikuti Bootcamp di Jakarta | Villagerspost.com

Empat Pebisnis Sosial Sulawesi Selatan Ikuti Bootcamp di Jakarta

Jakarta, Villagerspost.com – Empat orang pebisnis sosial (social entrepreneur) muda asal Sulawesi Selatan diundang untuk mengikuti Bootcamp di Jakarta 1-5 Juli 2019 yang di adakan oleh Platform Usaha Sosial (PLUS), bekerja sama dengan British Council dan Social Entrepreneur Akademi. Keempat pengusaha sosial Sulsel itu bergabung selama beberapa hari, bersama para impact inisiator yang berasal dari lima daerah, yakni Makassar, Medan, Pontianak, Padang, dan Jayapura sebanyak 20 orang.

Keempat social entrepreneur yang mengikuti bootcamp tersebut adalah, pertama, Jamaluddin Daeng Abu. Jamaluddin adalah pendiri Rumah Koran, penggagas Kampung Sayur di Desa Kanreapia Kecamatan Tombolo Pao Kabupaten Gowa.

Jamaluddin adalah sosok sarjana yang berani mengambil inisiatif untuk kembali ke kampung dan membangun kampung. Jamal–begitu dia biasa disapa–aktif mengedukasi petani di Desa Kanreapia, untuk menjadi petani organik. Lewat Rumah Koran, dia juga mengedukasi petani dan anak-anak petani untuk gemar membaca dan menghapus buta huruf dengan gerakan “Petani Literasi dan Petani Online”.

Kedua, adalah Muhammad Taufan Gunawan dari Lentera Negeri yang bergerak di bidang pendidikan dengan program utama beasiswa SAN (sekolah anak negeri) serta kelas non formal yang menggunakan sistem belajar kontekstual. Metode ini melibatkan pengalaman praktis sebagai sarana memahami dan menemukan ilmu.

Di Lentera Negeri, teks hanya dijadikan referensi, yang harus didialogkan dengan pengalaman praktis. Pengalaman praktis dapat berupa pengalaman yang dialami secara langsung hingga dengan melibatkan realitas persoalan praktis yang nyata terjadi.

Metode pembelajaran kontekstual, melibatkan penalaran siswa terhadap realitas kekinian. Siswa dilibatkan sebagai subjek yang mengalami, menemukan dan menganalisis. Oleh karena itu, metode ini mensyaratkan wacana yang dibedah adalah representasi dari persoalan hidup sehari-hari, yang dialami secara bersama.

Ilmu diproduksi bukan sesuatu yang terberi, dan memutlakkan pembuktian secara empirik, bertitik tolak pada realitas kehidupan itu sendiri. Secara metodologi, aksiologi, ontologi, dan epistemologi, semuanya bersandar pada konteks kehidupan itu sendiri, tidak terpisah atau tidak memisahkan diri dari persoalan kehidupan.

Ketiga adalah Andrew Kresna, Manager Tokosebelah, yang merupakan unit usaha dari “Perpustakaan Katakerja”. Tokesebelah merupakan gerai yang memproduksi dan menjual berbagai merchandise literasi, serta membuka jasa titip jual kepada berbagai produsen, pengrajin, seniman dan penulis yang hendak memasarkan produknya.

Keempat, adalah Rusmanhadi Takbir, CEO sekaligus Founder BINE, seorang mahasiswa asal Kabupaten Gowa, yang menimba ilmu di Universitas Muhammadiyah Makassar. Rusmanhadisaat ini begitu aktif dalam kegiatan sosial kepemudaan.

BINE merupakan sebuah organisasi kepemudaan yang bergerak dalam pemberdayaan pemuda membangun Indonesia melalui gagasan dan manuver inspiratif. Berfokus kepada tiga bidang yaitu entrepreneur, sosial dan edukasi.

Produk BINE ada dua, yaitu campaign product and services. Diharapkan melalui program Bootcamp ini, para pengusaha sosial muda tersebut mampu memperkuat jejaring antar social entrepreneur di Indonesia.

Editor: M. Agung Riyadi
Video: Jamaluddin Daeng Abu, Petani Muda Organik asal Desa Kanreapia, Tombolo Pao, Gowa, Sulsel, Jurnalis Warga untuk Villagerspost.com

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *