Gelar Pawai Laut, Nelayan Masalembu Tolak Cantrang

Aksi pawai laut nelayan Masalembu menolak cantrang (dok. kiara)

Maselembu, Villagerspost.com – Nelayan di Kepulauan Masalembu menggelar pawai laut menolak kehadiran kapal dengan alat tangkap cantrang yang merusak, Minggu (28/2). Aksi tersebut digelar Persatuan Nelayan Masalembu (PNM) sebagai reaksi atas dibiarkannya kapal-kapal cantrang di kawasan penangkapan ikan para nelayan.

Sebelum acara pawai laut dimulai, pada Sabtu (27/2), para anggota PNM melakukan konsolidasi dengan beberapa kelompok nelayan lainnya. Di forum itu, mereka saling berbagi pengetahuan tentang persoalan nelayan akibat kehadiran kapal-kapal cantrang yang semakin hari semakin merajalela di laut Masalembu.

Nelayan Masalembu mempersiapkan poster menolak cantrang untuk aksi pawai laut (dok. kiara)

Setelah mengadakan konsolidasi, para nelayan PNM kemudian mengadakan siaran keliling dengan menggunakan mobil pick up. Lewat siaran tersebut PNM mengajak semua nelayan untuk ikut berpartisipasi dalam acara pawai laut yang akan di adakan.

Sekretaris Persatuan Nelayan Masalembu Moh. Zehri mengatakan, pawai laut hanyalah salah satu cara yang dilakukan oleh nelayan Masalembu untuk menolak Permen KP No. 59 Tahun 2020 yang memperbolehkan cantrang beroperasi di Laut Jawa.

“Kami menolak keberadaan cantrang dilaut Masalembu karena mengganggu wilayah tangkap nelayan Masalembu yang notabene masih menggunakan alat tangkap tradisional,” ujar Zehri dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Senin (1/3).

Sebelum melakukan aksi pawai laut, nelayan juga menggelar aksi tolak cantrang di bibir pantai (dok. kiara)

“Kami tidak mau laut Masalembu dirusak oleh cantrang. Berkaca dari sejarah dulu, sudah banyak rumpon nelayan Masalembu yang hilang akibat cantrang,” tambahnya.

Zehri mengatakan, selain merusak rumpon dan gugusan karang dasar laut, jika cantrang terus dibiarkan maka, dikhawatirkan akan menimbulkan konflik sosial antara nelayan Masalembu dengan nelayan cantrang. “Sebagaimana kita ketahui bersama, nelayan Masalembu memiliki sejarah konflik yang sangat Panjang,” papar Zehri.

Nelayan Masalembu menolak cantrang karena merusak ekosistem laut (dok. kiara)

Pada tahun 1982 nelayan Masalembu sudah menolak masuknya nelayan luar yang menggunakan alat tangkap besar dan modern. Dalam konflik tersebut, kisah Zehri, salah satu nelayan dari luar Masalembu ada yang terluka terkena celurit nelayan Masalembu.

“Pada tahun 2000 juga ada satu kapal purse seine dari Jawa Tengah yang dibakar oleh nelayan Masalembu,” jelas Zehri.

Oleh sebab itu, dengan adanya pawai laut ini, nelayan Masalembu berharap agar pemerintah bisa mendengarkan suara serta aspirasi mereka. “Kami sebagai nelayan kecil dan tradisional mendesak agar Permen KP No. 59 Tahun 2020 yang memperbolehkan cantrang beroperasi di laut Jawa segera dicabut,” tegas Zehri.

Dia juga meminta pemerintah melakukan penindakan hukum terhadap aktivitas cantrang di laut Masalembu yang semakin hari semakin meresahkan nelayan Masalembu. “Mari kita jaga laut kita demi masa depan anak cucu kita, Masalembu menolak cantrang,” pungkasnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published.