Generasi Muda Sumba Bendung “Aliran Sesat” Pertanian

Kaum muda Sumba melakukan praktik membuat pakan ternak organik (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)
Kaum muda Sumba melakukan praktik membuat pakan ternak organik (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)
Meracik bahan bahan alami untuk pakan ternak dan nutrisi ternak organik (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)
Meracik bahan bahan alami untuk pakan ternak dan nutrisi ternak organik (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)
Praktik bertanam sayur organik (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)
Praktik mencari bahan-bahan pembuatan pestisida organik (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)
Anak muda Sumba bertekad melawan "aliran sesat" dunia pertanian (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)
Anak muda Sumba bertekad melawan “aliran sesat” dunia pertanian (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)
Praktik membuat pestisida organik (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)
Praktik membuat pestisida organik (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)
Menyimak pemaparan teori dalam kelas (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)
Menyimak pemaparan teori dalam kelas (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)

Sumba Barat Daya, Villagerspost.com – Bagi generasi muda Sumba, pertanian konvensional yang mengandalkan bahan-bahan kimia baik untuk pemupukan maupun memberantas hama, adalah “aliran sesat” dalam dunia pertanian. Alasannya, sederhana saja: “Karena merusak lingkungan yang mengakibatkan unsur hara mati, sedangkan dari sisi hasil produksi pun makin merosot. Sedang dengan penanganan kimia sintetis juga tidak menyelesaikan masalah di tingkat lapangan, kami menyebutnya sebagai ‘aliran sesat’,” Ujar Asrin Djama, pengurus Gerakan Petani Nusantara (GPN) Kabupaten Sumba Tengah, kepada Villagerspost.com.

Asrin mengucapkan hal itu saat memberikan materi dengan tema “Pelatihan Pertanian Organik Bagi Remaja Dampingan SID-Mitra Child Fund Wilayah Sumba Barat Daya”, yang berlangsung 3-5 Maret lalu. Acara tersebut berlangsung di kantor desa Homba Karipit, kecamatan Kodi Utara, kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur.

Sebanyak 24 generasi muda berkumpul, dan bersepakat untuk membendung “aliran sesat” secara bersama-sama dalam dunia pertanian. Koordinator Child Fund Indonesia (CFI) wilayah Sumba Barat Daya Albert mengatakan, memperkenalkan pertanian yang ramah lingkungan sejak dini akan lebih bermakna bagi anak-anak muda. Apalagi bahan-bahan lokal yang digunakan tersedia.

“Sebagian besar peserta masih sekolah di SLTA, ada juga yang kuliah. Mereka kadang sering mengeluh, setelah lulus nanti mau kerja apa sebab tidak memiliki keahlian. Tapi dengan adanya pelatihan praktik langsung ini sepertinya akan memiliki pegangan. Entah mau kerja atau bisa juga berwiraswasta,” kata Albert.

Pelatihan yang terselenggara berkat kerjasama dengan Gerakan Petani Nusantara (GPN) wilayah provinsi NTT itu memaparkan beragam materi pertanian organik. Diantaranya Uji Kadar Mineral (UKM) pupuk organik, pembuatan nutrisi ternak organik, pembuatan pupuk dan pestisida organik, seleksi benih padi sehat metode SRI, dan pembuatan Zat Perangsang Tumbuh(ZPT) untuk tanaman.

“Sebelum melakukan praktik para remaja ini disuguhi dulu nonton bareng tentang pertanian organik yang sudah dilakukan di wilayah Sumba, untuk menambah wawasan. Semoga menjadi bekal mereka kedepan selama mengikuti praktik langsung ini,” kata Asrin, yang merupakan sarjana lulusan Fakultas Peternakan Universitas Nusa Cendana.

Para siswa yang mengikuti pelatihan itu sendiri mengaku sangat senang bisa mendapatkan ilmu pertanian organik. “Mengikuti pelatihan dengan praktik langsung sangat mengasyikan, sebab tidak banyak teori hingga membosankan. Selain itu bahan-bahan organik yang dibutuhkan sangat mudah. Kuncinya mau tidak melakukannya. Ini merupakan bekal yang sangat berharga bagi kami sebagai generasi muda,” ujar Erin, salah satu peserta perempuan dari kecamatan Loura, kabupaten Sumba Barat Daya.

Materi praktik yang diberikan seputar pertanian yang berorientasi pada pola pertanian secara agroekologis. Para generasi ini dibekali dari mulai wawasan dan sekaligus praktik bagaimana menyelamatkan serta menghargai tanah sebagai rahim bumi dari kerusakan bahan-bahan kimia sintetis yang mengancam kestabilan ketahanan pangan daerah dan nasional, sebagai dari rusaknya lingkungan.

Yang menarik dari pelatihan ini, sebagian besar pesertanya adalah kaum perempuan. “Sebagian besar peserta merupakan generasi perempuan, kenapa sebab kedepannya mereka akan menjadi seorang ibu yang dekat dengan anak-anaknya, kemudian kaum ibu lebih paham akan kebutuhan rumah tangga. Jadi hasil dari praktik ini bisa dijadikan juga sebagai lahan usaha mereka dalam meningkatkan ekonomi keluarga,” kata Albert. (*)

Laporan/Foto: Rahmat Adinata, Petani Organik, Anggota Gerakan Petani Nusantara

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *