Gerakan Mengembalikan Burung ke Ekosistem Sawah di Desa Nunuk, Indramayu | Villagerspost.com

Gerakan Mengembalikan Burung ke Ekosistem Sawah di Desa Nunuk, Indramayu

Kegiatan melepas burung ke alam liar oleh Komunitas Pecinta Lingkungan Desa Nunuk (villagerspost.com/runatin)

Indramayu, Villagerspost.com – Burung-burung yang biasa beterbangan di areal persawahan, sejatinya merupakan bagian dari ekosistem persawahan itu sendiri. Ketika burung-burung tersebut menghilang, maka hama pun merajela. Hal itulah yang saat ini sedang dialami oleh para petani di Desa Nunuk, Kecamatan Lelea, Indramayu, Jawa Barat.

Saat ini, hama wereng, ulat dan penyakit blas tengah menyerang areal persawahan di desa tersebut. Menyadari pentingnya menghadirkan kembali burung-burung ke habitat sawah, pada tanggal 16-17 Mei, masyarakat dan petani yang tergabung dalam Komunitas Pecinta Lingkungan Desa Nunuk, melaksanakan aksi melepaskan burung ke alam liar.

Dari dua hari kegiatan tersebut anggota Komunitas Pecinta Lingkungan Desa Nunuk, melepaskan sekira 55 ekor burung. “Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk melestarikan jenis burung yang hampir punah serta untuk menjaga keseimbangan ekosistem alam di sekitar wilayah Desa Nunuk,” kata Abas Waskana (44 tahun), yang merupakan penggerak kegiatan ini, kepada Villagerspost.com.

Anggota Komunitas Pecinta Lingkungan Desa Nunuk memasang papan larangan berburu burung (villagerspost.com/runatin)

Dalam kegiatan tersebut, para anggota komunitas melepasliarkan burung seperti jalak kebo, perkutut, cici karang, kutilang. “Burung-burung ini kami beli, dananya patungan dari masyarakat,” jelas Abas Waskana.

Burung-burung ini merupakan musuh alami hama seperti wereng yang sedang meledak di Desa Nunuk. “Burung-burung ini juga memang hampir punah dari areal persawahan di desa-desa di sini,” tegasnya.

Agara kegiatan ini tak sia-sia dan bisa memberikan dampak berkelanjutan, anggota komunitas tak sekadar melepaliarkan burung-burung, tetapi juga melakukan aksi edukasi. “Kami mendatangi mendatangi tukang pemburu burung memberi pengertian supaya jangan memburu burung disekitar Desa Nunuk,” jelas Waskana.

Papan peringatan larangan berburu burung di kawasan Desa Nunuk (villagerspost.com/runatin)

Kegiatan ini, kata dia, juga akan diperkuat dengan akan dikeluarkannya peraturan desa (perdes) tentang larangan memburu burung. Anggota komunitas juga masih terus berupaya menggalang dana agar makin banyak burung yang bisa dikembalikan ke alam liar.

“Diharapkan nantinya bisa ada efek positif untuk sektor pertanian terutama bisa meminimalisir serangan hama ulat dan penyakit pada tanaman,” kata Taryama (45) salah satu anggota komunitas.

Laporan/video: Runatin, petani pemulia benih asal Desa Nunuk, Jurnalis Warga untuk Villagerspost.com

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *