Ketahanan Pangan Model Sumba

Waingapu, Villagerspost.com – Di daerah Sumba, Nusa Tenggara Timur, sehabis musim panen jagung, bukanlah hal aneh jika kita menemukan deretan jagung yang tergantung di atas pohon-pohon tinggi. Itu memang merupakan sistem penyimpanan bibit jagung khas Sumba, yang sudah berlangsung selama ratusan tahun yang dilestarikan secara turun temurun.

Sayangnya, saat ini, sistem penyimpanan bibit jagung lokal tersebut sudah nyaris punah akibat maraknya penggunaan bibit jagung hibrida. Beruntung di beberapa daerah masih menyimpan pola penyimpanan jagung lokal ini.

Salah satunya adalah di Desa Laindeha, Kecamatan Kambera, Desa Kalambar Cuna dan Desa Napu di Kecamatan Haharu, Kabupaten Sumba Timur. Serta masih ada lagi di desa-desa terpencil wilayah Sumba Timur yang masih menjaga tradisi tersebut.

Menurut Kepala Desa Laimbonga, Umbu B Taragela, kelebihan bibit lokal yang masih dilestarikannya ini dibandingkan dengan bibit jagung hibrida adalah soal daya tahannya. Jagung-jagung yang disimpan di atas pohon itu memiliki daya tahan tinggi dan tidak akan busuk/rusak meski disimpan di ruang terbuka dan disirami hujan atau dipanggang di terik matahari.

“Bibit lokal sangat tahan simpan, sedangkan bibit hibrida tidak tahan simpan. Setelah panen bibit hibrida hanya satu bulan mengalami bubuk. Berbeda sekali dengan bibit lokal bisa tahan beberapa tahun. Selain itu bibit lokal sudah adaptasi dengan iklim di sini,” katanya, kepada Villagerspost.com, beberapa waktu lalu.

Karena itu, di Laimbonga, petani jagung masih lebih suka menjalankan tradisi menyimpan bibit jagung di lumbung alami ini. Sehabis dipanen jagung dililit seperti membentuk rantai diikat ujung ekornya hingga mengunci, yang disebut dengan nama krande.

Satu krande itu bisa berisi sekitar 70 buah tongkol jagung atau berat dengan bobot 35 kilogram. Setelah dibuat dalam bentuk krande barulah jagung dinaikkan ke atas pohon. Biasanya krande diikat di atas pohon kelapa, pohon asam atau pohon-pohon. Sekali disimpan, jagung-jagung itu bisa bertahan tetap dalam kondisi baik hingga 8-9 bulan.

Nantinya, bibit-bibit jagung itu akan siap digunakan lagi pada masa tanam berikutnya, ketika musim hujan tiba. Lewat sistem lumbung ini, masyarakat juga bisa menyimpan cadangan makanan yang bisa digunakan untuk masa-masa sulit seperti musim kering dan saat gagal panen. Begitulah sistem ketahanan pangan model Sumba.

Teks dan Video: Rahmat Adinata, anggota Gerakan Petani Nusantara, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *