Krande: Teknik Mengawetkan Bibit Jagung Lokal Khas Sumba Timur | Villagerspost.com

Krande: Teknik Mengawetkan Bibit Jagung Lokal Khas Sumba Timur

Inilah Sumba Broooo...... YouTube play
Sumba Timur, Villagerspost.com – Pohon kelapa berbuah jagung? Hal itu bukan aneh di kawasan bagian Utara dan Selatan Kabupaten Sumba Timur. Jika musim panen jagung tiba, kita akan disajikan pemandangan unik yaitu tongkol-tongkol jagung yang bergantungan di pohon-pohon seperti pohon kelapa. Tentunya bukan pohon kelapanya yang berbuah jagung, tongkol-tongkol jagung itu memang sengaja digantung di atas pohon untuk diawetkan sebagai bibit jagung.

Itulah “Krande” cara menyimpan bibit jagung ala Sumba Timur yang sangat khas. Cara ini juga sekaligus merupakan cara masyarakat Sumba Timur untuk menjaga kelestarian bibit jagung lokal. Pasalnya, selain jagung lokal Sumba, tak ada bisa diawetkan dengan cara seperti itu. Sistem penyimpanan bibit jagung khas Sumba, yang sudah berlangsung selama ratusan tahun yang dilestarikan secara turun temurun.

Sayangnya, saat ini, sistem penyimpanan bibit jagung lokal tersebut sudah nyaris punah akibat maraknya penggunaan bibit jagung hibrida. Beruntung di beberapa daerah masih menyimpan pola penyimpanan jagung lokal ini. Salah satunya adalah di Desa Laindeha, Kecamatan Kambera, Desa Kalambar Cuna dan Desa Napu di Kecamatan Haharu, Kabupaten Sumba Timur. Serta masih ada lagi di desa-desa terpencil wilayah Sumba Timur yang masih menjaga tradisi tersebut.

Kelebihan bibit lokal yang masih dilestarikan ini dibandingkan dengan bibit jagung hibrida adalah soal daya tahannya. Jagung-jagung yang disimpan di atas pohon itu memiliki daya tahan tinggi dan tidak akan busuk/rusak meski disimpan di ruang terbuka dan disirami hujan atau dipanggang di terik matahari. Karena itu, petani jagung Sumba Timur masih lebih suka menjalankan tradisi menyimpan bibit jagung di lumbung alami ini.

Sehabis dipanen jagung dililit seperti membentuk rantai diikat ujung ekornya hingga mengunci, yang disebut dengan nama krande. Satu krande itu bisa berisi sekitar 70 buah tongkol jagung atau berat dengan bobot 35 kilogram. Setelah dibuat dalam bentuk krande barulah jagung dinaikkan ke atas pohon. Biasanya krande diikat di atas pohon kelapa, pohon asam atau pohon-pohon. Sekali disimpan, jagung-jagung itu bisa bertahan tetap dalam kondisi baik hingga 8-9 bulan.

Nantinya, bibit-bibit jagung itu akan siap digunakan lagi pada masa tanam berikutnya, ketika musim hujan tiba. Lewat sistem lumbung ini, masyarakat juga bisa menyimpan cadangan makanan yang bisa digunakan untuk masa-masa sulit seperti musim kering dan saat gagal panen. Begitulah sistem ketahanan pangan model Sumba.

Laporan/Video: Rahmat Adinata, Praktisi Pertanian Organik, Anggota Gerakan Petani Nusantara, Jurnalis Warga untuk Villagerspost.com

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *