Menebar Ilmu Tanam Padi Pola Maju di Praimadita

Petani menanam bibit padi pola maju sistem SRI (villagerspost.com/rahmat adinata)
Petani menanam bibit padi pola maju sistem SRI (villagerspost.com/rahmat adinata)
Bertanam padi moteode baru dengan cara maju (villagerspost.com/rahmat adinata)
Bertanam padi moteode baru dengan cara maju (villagerspost.com/rahmat adinata)
Bertanam dengan cara lebih efektif dan hemat bibit, satu anakan dalam satu tancapan (villagerpost.com/rahmat adinata)
Bertanam dengan cara lebih efektif dan hemat bibit, satu anakan dalam satu tancapan (villagerpost.com/rahmat adinata)
Mengambil bibit dari tempat persemaian, persemaian padi pola SRI lebih singkat dari pola konvensional (villagerspost.com/rahmat adinata)
Mengambil bibit dari tempat persemaian, persemaian padi pola SRI lebih singkat dari pola konvensional (villagerspost.com/rahmat adinata)

Waingapu, Villagerspost.com – Pola tanam padi System Rice of Intensification (SRI) memang belum banyak dikenal oleh umumnya petani di Indonesia, terlebih lagi petani di luar pulau Jawa seperti di Sumba Timur. Padahal, dengan pola tanam padi yang ditemukan oleh Henri de Laulanie pada tahun 1983 ini, hasil yang dipanen bisa lebih maksimal dengan penggunaan bibit lebih sedikit dan lebih ramah lingkungan.

Pola SRI merupakan cara tanam padi yang hemat bibit karena hanya membutuhkan 8 kilogram bibit per hektare. Kemudian cara tanam ini juga hemat air, karena sawah tidak digenangi terus menerus. Pola ini juga tanpa biaya cabut, tanam tunggal (hanya satu anakan padi), tanam muda(hanya 8-10 hari setelah semai). Dan yang terutama adalah hanya menggunakan pupuk dan pestisida organik, dengan potensi hasil mencapai 8-12 ton per hektare.

Karena itulah, pada Sabtu (20/8) lalu, Kelompok Tani Pro Iklim (Proklim) Desa Praimadita, Kecamatan Karera, Sumba Timur, berlatih untuk menanam padi menggunakan sistem SRI ini. Acara pelatihan itu sendiri dihelat melalui program SPARC (Strategic Planning and Action to strengthen climate Resilience of Communities in Nusa Tenggara Timor province) yang digagas UNDP yang bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Memperkenalkan metode sebuah metode baru seperti cara bertanam SRI yang dicirikan dengan pola menanam maju ini–berlawanan dengan sistem tandur atau tanam mundur– memang tak mudah. Para petani peserta praktik tanam maju ini, banyak melontarkan pertanyaan terutama terkait penggunaan bibit yang lebih hemat.

Sudah menjadi kebiasaan petani setempat menggunakan 5-7 anakan padi dalam satu tancapan. Sementara dengan pola SRI, hanya cukup satu anakan saja. Persemaian pun yang biasanya dilakukan selama satu bulan, lewat pola SRI hanya dilakukan dalam waktu 8-12 hari untuk siap tanam.

Pertanyaan juga muncul saat menanam dengan cara maju dan tidak menggunakan tali sebagai acuan jarak tanam. Biasanya para petani bertanam dengan cara mundur dan menggunakan tali acuan. Namun semua pertanyaan, rasa kaget dan ketidakpercayaan itu bisa terjawab dengan sendirinya setelah praktik berlangsung.

“Mulanya heran dan tidak percaya, namun setelah melakukan langsung tidak ada hambatan,” ujar Martha Lengga Wandal, sebagai bendahara Proklim Desa Praimadita, kepada Villagerspost.com.

“Pola ini baru pertama kali kami kenal di wilayah Selatan,dan sangat sederhana sekali,” tambah Dewa, anggota Kemas Proklim Praimadita

Umbu Nenggi Rutung, Kepala Desa Praimdita menyatakan: “Jika pola ini yang diterapkan oleh Kemas Proklim sekarang ini berhasil, masyarakat saya wajib menerapkan sistem ini sebab serba irit, dari mulai kebutuhan benih, tidak ada biaya cabut. Sepertinya petani sangat semangat dengan cara ini,” ujarnya. (*)

Teks/Foto: Rahmat Adinata, Anggota Gerakan Petani Nusantara, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *