Menghargai Rahim Bumi Lewat Pertanian Konservasi

Para petani belajar cara mengolah tanah tanpa mencangkul keseluruhan permukaan tanah (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)
Para petani belajar cara mengolah tanah tanpa mencangkul keseluruhan permukaan tanah (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)
Tanah tidak perlu dicangkul, tetapi cukup dibuat lubang permanen sehingga lebih efisien (dok. villagerspost.com/rahat adinata)
Tanah tidak perlu dicangkul, tetapi cukup dibuat lubang permanen sehingga lebih efisien (dok. villagerspost.com/rahat adinata)
Memenfaatkan sisa jerami jagung untuk pemulsaan alami (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)
Memanfaatkan sisa jerami jagung untuk pemulsaan alami (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)
Tumpukan jerami jagung sisa panen siap diolah menjadi mulsa alami (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)
Tumpukan jerami jagung sisa panen siap diolah menjadi mulsa alami (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)

Sumba Barat Daya, Villagerspost.com – Tanah atau bumi merupakan tempat berpijak seluruh makhluk di dalamnya. Jika tanah serta lingkungan rusak, maka kita pun akan ikut kena imbasnya. Kini kesadaran sudah mulai muncul di beberapa titik di Pulau Sumba, untuk mengembalikan harkat dan martabat tanah sebagai rahim bumi melalui teknik Pertanian Konsevasi Selaras Alam.

Semisal, Kelompok Tani Mesa Pada, Desa Kalembu Ndara Mane, Kecamatan Wewewa Timur, Kabupaten Sumba Barat Daya. Lewat dampingan Yayasan Pengembangan Kemanusiaan Donders, serta dukungan dari Organisasi Pangan Dunia FAO. Para petani mulai belajar teknik penerapan Pertanian Konservasi Selaras Alam.

“Awalnya hanya dengar tentang pertanian konservasi lalu menyaksikan hasil panen jagung kemarin, di desa Kadi Wano hasilnya sangat lumayan dengan teknik PK ini. Ya sudah kami juga mau belajar caranya,” cerita Alex Nani Bata, Ketua kelompok Mesa Pada, kepada Villagerspost.com, beberapa waktu lalu.

Menurut bapak tiga orang anak ini, petani merasa diringankan cara yang ditetapkannya, selain itu para petani dibebaskan dari penggunaan pupuk kimia. “Baru tahu sekarang kalau tanah dengan penggunaan pupuk kimia yang berlebihan bisa rusak serta akan menurunkan hasil produksi. Untungnya kami juga dibimbing cara pembuatan pupuk organik,” katanya, sambil mengumpulkan pohon jagung yang sudah ditebang.

Pendapat Solviana sebagai anggota, lain lagi. “Biasanya bekas pohon jagung dibiarkan begitu saja membusuk padahal jumlahnya cukup banyak, namun dengan Pertanian Konservasi bisa dimanfaatkan untuk sarana pemulsaan agar tanah selalu lembab,” ujar ibu penyemangat kelompok Mesa Pada itu.

“Ketika musim tanam jagung tiba, biasanya petani bingung harus mendatangkan mesin traktor untuk olah lahan. Namun dengan teknik PKSA petani tidak dipusingkan lagi, cukup buat lobang permanen. Tanah tidak perlu dibombardir seperti biasanya,dari sisi biaya pun meringankan mereka,” kata Pater Mike M. Keraf sebagai direktur Yayasan Pengembangan Kemanusiaan Donders, menjelaskan.

Laporan/Foto: Rahmat Adinata, Petani Organik, Anggota Gerakan Petani Nusantara

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *