Modal Nekat, Abadikan Kehidupan Bantaran Sungai Jawa-Bali

Bogor, Villagerspost.com – Para aktivis lingkungan yang tergabung dalam Yayasan Lintas Sungai Abadi (Yalisa) baru saja menyelesaikan sebuah ekspedisi. Eskpedisi yang dilakukan untuk menyusuri sungai lintas Pulau Jawa, dan Bali itu ditujukan untuk membuat sebuah film dokumenter tentang sungai dan kehidupan di bantarannya. Tim ekspedisi yang terdiri dari Fuad Abdullah, Imaduddin, dan Irfan Ramadhan itu bertugas untuk mengabadikan aktivitas di setiap sungai yang mereka jumpai.

Mengendarai Vespa bermesin 150 CC, mereka menempuh jarak ribuan kilometer selama dua bulan perjalanan. “Ini perjalanan nekat, tanpa bantuan, dan tanpa modal,” ujar Imaduddin, Jumat (28/7) saat ditemui Villagerspost.com di markas Yalisa, Bojong Gede, Bogor, Jawa Barat.

Menyusuri bantaran Sungai Ayung, Jembrana, Bali (dok. yalisa)

Sejak berangkat, mereka hanya membawa modal uang senilai Rp250 ribu. Perjalanan ini juga ditujukan sebagai riset dan eksperimen sosial. “Kami bawa uang hanya Rp250 ribu. Mengendarai dua Vespa. Selama perjalanan kami bermalam di pom bensin, atau rumah warga,” ungkap Imad.

Beruntung, mereka mendapatkan sambutan hangat dari pegiat lingkungan yang ditemui di bantaran sungai. Mereka dipersilakan bermalam, bahkan diberi stok logistik untuk melanjutkan perjalanan. “Kami sempat berkunjung ke kali Pemali, Brebes. Di sana kami bertemu aktivis lingkungan. Mereka mengizinkan kami bermalam, dan makan,” jelasnya.

Di wilayah Pemali, para aktivis sungai ini terkesan dengan upaya pemuda mengangkat perekonomian masyarakat bantaran sungai dan pesisir. Imad mengatakan, pegiat lingkungan di Brebes memiliki usaha telur asin yang lumayan besar. “Di Kali Pemali paling banyak pengalaman. Mereka memiliki usaha telur asin yang lumayan hasilnya untuk perekonomian warga bantaran sungai dan pesisir. Kami juga bisa menyusuri sungai menumpang perahu warga hanya dengan Rp2000,” urai Imad.

Mewawancarai warga di bantaran Sungai Brantas, Jawa Timur (dok. yalisa)

Perjalanan ini rupanya tak semulus yang dipikirkan. Ke tiga pemuda ini sempat mengalami kehabisan bahan bakar di wilayah Probolinggo, Jawa Timur. Walhasil, mereka pun harus bermalam dan mendirikan tenda seadanya. “Kami kehabisan bensin di Probolinggo. Kebetulan itu kawasan hutan, akhirnya kami mendirikan tenda dan bermalam di sana,” tutur Imad lagi.

Tak hanya itu, perjalanan yang panjang juga menguras logistik dan biaya. Mereka pun terpaksa mengamen dan meminta sumbangan kepada pengguna jalan yang melintas. “Saat itu masuk bulan puasa. Kami kehabisan bekal, terpaksa mengamen, dan meminta sumbangan. Alhamdulillah ada saja yang memberi rezeki,” jelas pemuda berambut gondrong itu.

Menyusuri Sungai Pemali di wilayah Brebes, Jawa Tengah (dok. yalisa)

Berbagai rintangan yang dihadapi, tak menyurutkan niat mereka untuk melanjutkan perjalanan sampai tujuan akhir, Pulau Dewata, Bali. Walaupun sempat berdebat dengan petugas di Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali, mereka pun berhasil menuju Sungai Ayung, sebagai tujuan akhir mereka.

“Di pelabuhan ada masalah, biasa karena kendaraan kami. Vespa butut berplat Jakarta pula. Tapi setelah sedikit bernegosiasi akhirnya kami diizinkan jalan,” seloroh Imad mengisahkan perjalanan.

Dari ekspedisi ini, tim Yalisa berhasil mengunjungi 12 sungai di pulau Jawa dan Bali. Sungai yang dikunjungi termasuk Sungai Citarum, Pemali, Comal, Brantas, sampai tujuan akhir Sungai Ayung.

Hasil dari dokumentasi ini akan disajikan dalam bentuk film dokumenter yang masih dalam proses pengerjaan. Film dokumenter yang mereka produksi akan mengulas tentang kondisi terkini sungai di Indonesia, termasuk kondisi sosial dan ekonomi masyarakat di sekitar bantaran sungai. (*)

Laporan: F. Rizaldi, Jurnalis Warga untuk Villagerspost.com
Video/Foto: Dok. Yalisa

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *