Pola Tanam SRI “Menyerbu” Desa Tamma

Tempat persemaian bibit padi pola SRI dari balai bambu (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)
Tempat persemaian bibit padi pola SRI dari balai bambu (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)
Lahan siap tanam setelah dicaplak atau dibuat alat ukur jarak tanam (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)
Lahan siap tanam setelah dicaplak atau dibuat alat ukur jarak tanam (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)
Dalam pola SRI, padi ditanam dengan pola maju, bukan mundur (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)
Dalam pola SRI, padi ditanam dengan pola maju, bukan mundur (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)
Kelompok tani Pro Iklim Desa Tamma, berdoa sebelum mulai menanam (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)
Kelompok tani Pro Iklim Desa Tamma, berdoa sebelum mulai menanam (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)

Sumba Timur, Villagerspost.com – Para pendamping program Program Strategic Planning and Action to strengthen climate Resilience of Communities in Nusa Tenggara Timor province (SPARC)-UNDP, kembali “blusukan” memperkenalkan pola tanam padi ramah lingkungan System of Rice Intensification (SRI), Senin (26/9). Kali ini pengenalan pola tanam SRI menyerbu Desa Tamma, Kecamatan Pahungalodu, Sumba Timur.

Namanya memperkenalkan sistem baru, tanggapan para petani terhadap pola tanam SRI pun beragam. Ketika praktik tanam padi pola SRI dimulai, berbagai macam ragam pendapat dari anggota kelompok tani Pro Iklim (Proklim) Desa Tamma bermunculan. Ada yang bilang rumit, sangat hemat, bagus dan berbagai pendapat lainnya.

Namun pendapat para petani mulai bergeser pelan-pelan. Mereka mulai bisa memahami keunggulan pola SRI yang ditandai dengan pola tanam maju dan pemakaian bibit yang hemat yaitu satu lubang satu bibit. “Dengan pola yang baru ini bisa dilakukan serba sendiri, sebab tidak perlu tali dan cabut bibit, langsung tanam asal sudah bisa buat caplak (alat ukur jarak tanam),” kata seorang petani kepada Villagerspost.com.

Awalnya para petani kaget karena dengan usia semai 10 hari, bibit padi langsung bisa ditanam. Mereka hanya perlu menanam satu anakan padi setiap lubang, dengan kebutuhan benih hanya 8 kg/hektare. “Kebiasaan kami jika tebar benih berblek-blek baru puas, sedangkan tanam bisa 5 sampai 7 anakan padi setiap tancapan,” ujar Felix, petani tertua anggota kelompok Proklim Desa Tamma.

“Ini hal yang baru bagi warga desa Tamma,” tambahnya.

Nani Praing, pendamping petani Desa Tamma pun mengaku gembira dengan antusiasme para petani mempraktikkan pola tanam padi ramah lingkungan ini. Sebab dalam pola tanam SRI, selain hemat bibit, juga hemat air karena sawah tidak harus tergenang air selama masa pertumbuhan awal. “Padi bukan tanaman air, tapi tanaman yang membutuhkan air,” begitu kata Nani, menyimpulkan prinsip tanam padi pola SRI.

Ikuti informasi terkait pertanian organik Sumba Timur >> di sini <<

Laporan/Foto: Rahmat Adinata, Petani Organik, Anggota Gerakan Petani Nusantara, Sumba Timur, NTT

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *