Safari Organik: Memacu Pertanian Ekologis Di Tanarara

Sumba Timur, Villagerspost.com – Pertanian organik sebenarnya hanyalah istilah saja, bukan jenis ternak atau varietas tanamannya. Andai kita bernostalgia 80 tahun ke belakang, sebenarnya nenek moyang kita sudah menerapkannya. Sebab pada zaman itu mereka tidak mengenal bahan-bahan kimia sintetis untuk budidaya pertaniannya.

Sejak tahun 1970-an mulailah dibangun pabrik Pupuk Kujang di Cikampek Jawa Barat dengan tujuan bisa meningkatkan hasil produksi pertanian. Alasannya sudah jelas, semakin bertambahnya populasi penduduk, secara otomatis persediaan pangan harus terpenuhi. Sejak saat itu maka bermunculanlah pabrik-pabrik pupuk kimia di Nusantara ini.

Seiring dengan dibangunnya pabrik-pabrik pupuk kimia, dibarengi pula dengan banyaknya impor obat-obatan kimia untuk menanggulangi hama dan penyakit tanaman. Namun aneh bin ajaib sejak adanya penggunaan bahan kimia sintetis dunia pertanian kita malah terdegradasi. Hingga detik ini pencanangan “Swasembada Pangan” hanya satu kali saja pernah dicapai yaitu pada tahun 1986.

Setelah itu cita-cita swasembada pangan seolah lenyap tertiup ke samudera lepas. Semakin ironis, karena sebutan sebagai negara agraris juga sudah hampir punah dari bumi pertiwi ini, sebab kondisi tanah sudah semakin rusak diakibatkan gempuran bahan-bahan kimia sintetis. Hasil panen pun semakin hari semakin merosot.

Berkaitan dengan hal di atas, yayasan MASSTER dalam kegiatan Safari Organik Sumba, kini memacu para petani di Sumba Timur, salah satunya di desa Tanarara, Kecamatan Lewa, Sumba Timur, untuk melakukan proses penyadaran menuju pertanian ekologis yang ramah lingkungan. Dengan perlakuan kimia biaya semakin tinggi, namun dari sisi produksi semakin merosot, menurut John Pati Ndamung Direktur Yayasan MASSTER Sumba, petani juga dibuat semakin tergantung.

“Kami sesama anggota lembaga Konsorsium DAS Kadahang, bagaimana para petani tidak dibuat ketergantungan,” tegas John, saat menyaksikan pelatihan praktik pupuk organik di desa Tanarara,Lewa Sumba Timur.

“Kita ini sudah dididik serba instan satu generasi dengan adanya bahan-bahan kimia sintetis, jadi begitu mendengar organik seperti barang baru. Padahal orang tua dulu tidak kenal yang namanya urea, NPK,TSP dan KCL tapi produksi tetap stabil hingga bisa melaksanakan PARINAH (injak padi sambil menari semalam suntuk). Sekarang…? Hemmm…,” pungkasnya setengah mencibir.

Video/Teks: Rahmat Adinata, Praktisi Pertanian Organik, Anggota Gerakan Petani Nusantara

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *