Sayangi Ibu Bumi: Kolaborasi Dongeng Pelestarian Alam dan Gamelan Topeng Mimi Rasinah | Villagerspost.com

Sayangi Ibu Bumi: Kolaborasi Dongeng Pelestarian Alam dan Gamelan Topeng Mimi Rasinah

Pementasan virtual kolaborasi seniman Indramayu bertajuk ‘Sayangi Ibu Bumi’

Indramayu, Villagerspost.com – Samsudin, pendongeng keliling pelestarian satwa dilindungi asal Indramayu, tak bisa menyembunyikan rasa gembiranya. Kolaborasinya dengan sanggar milik Yayasan Tari Topeng Mimi Rasinah yang menghasilkan pentas dongeng dan musik gendang-suling tradisional bertema perlindungan satwa akhirnya berhasil dilaksanakan pada Minggu (5/7).

Pementasan bertajuk “Sayangi Ibu Bumi” itu dilaksanakan secara online dan dipentaskan langsung di sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah, dengan dukungan penuh dari Pertamina. Untuk diketahui, Yayasan Tari Topeng Mimi Rasinah, di Desa Pekandangan, Indramayu, merupakan salah satu penerima CSR Pertamina dan menjadi mitra binaan perusahaan minyak pelat merah itu.

Kolaborasi antara pihak yayasan dengan seniman lokal Indramayu, termasuk Samsudin sendiri, terlaksana bermula dari ide Aerli, penari topeng yang merupakan cucu mendiang Mimi Rasinah. Aerli dan Ade, suaminya, berinisiatif mengumpulkan para seniman yang kegiatan berkeseniannya terhenti akibat pandemi Covid-19.

“Mereka khirnya membuat inisiatif untuk membuat kegiatan kunjungan ke seniman yang terdampak Covid-19, terutama seniman dan pengrajin yang hanya menggantungkan hidupnya di situ,” kata Samsudin, kepada Villagerspost.com, Senin (6/7).

Dari kegiatan kunjungan itu, Ade dan Aerli membeli karya para seniman seperti topeng dan bentuk kerajinan lain. Disamping itu, mereka juga mengajak sanggar/seniman yang dikunjungi untuk melakukan pertunjukan kecil (istilah Aerli, membeli karya) dan disiarkan secara langsung lewat media sosial.

Bentuk bentuk kegiatan tersebut sebagai bentuk kepedulian Aerli dan Ade sebagai pelaku seni kepada seniman lain yang sama-sama terdampak covid-19. Awalnya mereka belum mendapat dukungan dari Pertamina. Namun, setelah beberapa kali melakukan kegiatan tersebut akhirnya Pertamina setuju untuk ikut terlibat.

“Nah mengenai kolaborasi saya dengan Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah terjadi spontan, saat saya berkunjung karena ingin tahu kondisi sanggar yang harus menghentikan kegiatan pelatihan tari topengnya. Saya kemudian ditawari untuk jadi salah satu ‘bintang tamu’ program yang mereka namai Geliat Seni,” papar Samsudin.

Kebetulan karena, Samsudin sendiri ingin berkolaborasi dengan Walan–anak dari Aerli dan Ade– akhirnya Samsudin menyetujui tawaran mereka. Maka jadilah sebuah kolaborasi seni yang menggabungkan dongeng dengan musik tradisional khas pengiring tarian topeng, seperti pertunjukan “Sayangi Ibu Bumi”. Dalam kolaborasi ini, Samsudin mendongeng tentang pentingnya menjaga kelestarian bumi, diiringi musik tradisional yang terdiri dari kendang, saron (sejenis gamelan) dan suling.

Para penabuhnya adalah nayaga cilik yang merupakan anak dan keponakan dari Aerli dan Ade yaitu Walan dan Surya. Walan yang penabuh kendang adalah anak dari Aerli dan Ade, usianya sekitar 12 tahun, murid kelas 7 SMPN 1 Sindang, Indramayu. Surya adalah keponakan Aerli, berusia sekitar 13 tahun, juga siswa SMP di Indramayu.

Mereka belajar gamelan di Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah. “Saya kalah dengan walan. Walan sudah pernah ikut lawatan seni budaya ke Jepang. Saya masih seputar wilayah Indonesia saja,” ujar Samsudin.

Walan dan Surya sendiri tergabung dalam program ‘Nayaga Cilik’, salah satu program yang sudah pernah diajukan ke Pertamina . “Saya tidak tahu persis kapan program itu berjalan dan berapa anak usia sekolah yang dilibatkan,” kata Samsudin.

Pementasan “Sayangi Ibu Bumi” ini sendiri, menurut Samsudin, merupakan kolaborasi ketiganya dengan Walan. Kolaborasi pertama dan kedua terjadi, saat Walan masih kelas 5 SD. “Hanya kolaborasi dadakan di sanggar dan tanpa penonton dan pertunjukan di SD tempat belajar Walan,” ujar Samsudin.

Di pementasan sebelumnya, dan juga pementasan teranyar mereka, Samsudin mengaku memang sengaja memilih Walan sebagai penggendang. “Saya memilih Walan sebagai pengendang karena Walan mampu ‘membaca’ gerak saya. Meski Surya juga bisa menabuh gendang, dikarenakan performance dongeng yang tanpa pakem dan sering berubah, banyak melakukan improvisasi baik dialog maupun gerak, butuh pengendang yang peka dengan perubahan dialog dan gerak tubuh saya,” jelas Samsudin.

Terkait pementasan “Sayangi Ibu Bumi”, semula hanya akan dipentaskan secara sederhana. Semula alat untuk menyiarkan langsung kegiatan hanya menggunakan smartphone dan untuk pemusik, hanya melibatkan Walan sebagai penggendang dan Surya sebagai penabuh saron.

Lalu Ade–suami Aerli– mengatakan akan meminta pak Wata ikut terlibat sebagai pemain suling. Tata panggung dan lighting juga rencananya hanya dibuat secara sederhana. Di hari terakhir persiapan pergelaran akhirnya disepakati jika tata panggung dan pencahayaan memakai standar pertunjukan meski tetap sebagai pertunjukan virtual/penonton diminta melihat siaran langsung lewat media sosial.

“Dan dari semula yang hanya ingin memanfaatkan smartphone, oleh pihak Pertamina, siaran langsung diminta memakai kamera besar bahkan memakai dua kamera. Dari semula hanya melibatkan satu dua pengatur panggung, tiga orang nayaga, termasuk Walan dan Surya sebagai nayaga cilik serta hape sebagai alat penyiar akhirnya berubah. Lampu dipasang diatas depan panggung yang semula cukup dari bawah depan panggung,” papar Samsudin.

Logo pendukung kegiatan juga dipasang. Tim dokumentasi dan penyiaran menggunakan pihak luar, sekitar 6 kru. “Alat musik yang semula cuma ingin memakai saron, kendang dan seruling akhirnya dipakai semua dan otomatis pemain musik gamelanpun bertambah dari yang semula 3 orang menjadi 9 orang. Saluran penyiaran yang semula hanya pakai satu, akun Aerli di facebook akhirnya pakai 3 saluran, termasuk saluran yang dipunyai Pertamina,” tambah Samsudin.

Pihak Pertamina memantau langsung walau tidak dari lokasi. “Saya senang, banyak orang yang akhirnya ‘kecipratan rejeki’ di pementasan tersebut meski tanpa penonton. Dan beberapa wartawan mau hadir untuk mendokumentasikan dan membuat berita pergelaran tersebut,” pungkasnya.

Editor: M. Agung Riyadi
Video: courtesy Pertamina

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *