Semangat Petani Sumba Belajar Pertanian Selaras Alam

Petani Sumba belajar membuat sistem pemulsaan dengan daun daun alami untuk menjaga kelembaban tanah (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)
Petani Sumba belajar membuat sistem pemulsaan dengan daun daun alami untuk menjaga kelembaban tanah (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)
Belajar mmebuat lubang ukuran 40x40x40 cm (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)
Belajar membuat lubang ukuran 40x40x40 cm (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)
Belajar pemupukan dasar dengan pupuk organik (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)
Belajar pemupukan dasar dengan pupuk organik (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)
Pembuatan lubang lahan, lahan tidak perlu dipacul semuanya (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)
Pembuatan lubang lahan, lahan tidak perlu dipacul semuanya (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)
Beristirahat usia melakukan praktik (dok. villagerpost.comj/rahmat adinata)
Beristirahat usia melakukan praktik (dok. villagerpost.comj/rahmat adinata)

Sumba Timur, Villagerspost.com – Istilah pertanian konservasi selaras alam (PKSA) memang masih terdengar asing di telinga para petani Sumba, Nusa Tenggara Timur secara umum. Namun itu tak menyurutkan para petani di Sumba, untuk mempelajarinya. Selasa (20/12) kemarin, para petani di Wewewa Timur, Sumba Barat Daya misalnya, mulai belajar cara bertanam yang kerap disebut dengan pertanian selaras alam itu.

Pimpinan FAO untuk wilayah Sumba Elvans Delon Purba mengatakan, sistem PKSA dari FAO ini sebenarnya mulai diterapkan sejak dua tahun lalu. “Sistem PKSA dari FAO mulai diterapkan di Pulau Sumba kerja sama dengan Yayasan Pengembangan Kemanusiaan Donders, YPKD Sumba Barat Daya, sejak Februari 2014 di beberapa titik wilayah, mulai dari Kabupaten Sumba Timur hingga Kabupaten Sumba Barat Daya,” ujarnya kepada Villagerspost.com.

Pola pertanian konservasi bertujuan bagaimana petani mengembalikan harkat dan martabat tanah sebagai rahim bumi, dimana tanah tidak dibombardir dengan pemberian pupuk kimia, pestisida kimia, atau gempuran alat meskin pertanian seperti traktor dan sebagainya seperti dalam sistem pertanian konvensional. Dengan pola ini, kondisi tanah tidak akan mengalami kerusakan dan tidak akan tererosi ketika hujan turun, terutama lahan kering yang posisinya miring.

“Kita lebih konsen di lahan kering agar petani bisa panen maksimal serta tidak dibuat ketergantungan nantinya. Sebab semuanya mengandalkan bahan yang ada di sekitar alam,” kata Purba menambahkan.

Staf Yayasan Donders Liu Kulla mengatakan, ada beberapa wilayah dampingan Donders dukungan dari FAO, sudah merasakan hasil dari penerapan sistem pertanian konservasi ini. “Mereka belajar cara membuat pupuk organik, pestisida organik serta membuat lubang permanen untuk tanaman jagung ukuran 30x30X30 cm. Jadi tidak dipacul semuanya, ini bisa menekan biaya dan meringankan kerja petani, namun hasil bisa lebih maksimal,” Liu Kulla.

Sementara itu seorang petani Wewewa Timur Theresia Loda, Kabupaten Sumba Barat Daya sebagai pelaku langsung, mengakui keunggulan sistem PKSA. “Dari sisi hasil produksi, jagung yang ditanam dengan pola PKSA jauh lebih meningkat ketika panen, dibanding dengan pola yang sebelumnya. Ini hasilnya besok sudah bisa dipanen, ini tanam bulan September saat kemarau,” kata Theresia Loda, saat ditemui di kebunnya, di desa Kadi Wanno, sambil menunjukan jagung kebanggaannya.

Selain di Sumba Barat Daya, pola PKSA juga diterapkan di Kabupaten Sumba Timur, Sumba Tengah dan Sumba Barat. Pengetahuan cara bertani selaras alam ini menyebar seperti virus positif baru bagi petani Sumba. Hal ini didasari kesadaran, sistem selaras alam ini justru meringankan beban petani.

Terutama untuk wilayah Sumba Timur yang terkenal dengan lahar kering disertai bebatuan. Hal itu diakui Darius Dadi dan Franky Landukara, penggerak Pertanian Konservasi Selaras Alam dari Kabupaten Sumba Timur. “Dengan pola pertanian konservasi tanaman bisa bertahan sebab ada kapasitas mengikat airnya dari lubang permanen yang sudah diberikan pupuk organik,” kata Darius.

Sementara menurut Franky, bagi petani Sumba, pertanian selaras alam atau agroekologi merupakan kebutuhan sekaligus tantangan. “Sebab selama ini para petani kita sudah dibina secara instan dengan hal-hal yang serba mudah, namun sangat berdampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan. Hingga detik ini pola pertanian dengan asupan kimia katanya mampu meningkatkan produksi.Buktinya, malah meningkatkan hama serta penyakit,” tegasnya. (*)

Ikuti informasi terkait pertanian organik Sumba Timur >> di sini <<

Laporan/Foto: Rahmat Adinata, Petani Organik, Anggota Gerakan Petani Nusantara, Sumba Timur, NTT

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *