Siasat Petani Sumba Hadapi Musim Kemarau | Villagerspost.com

Siasat Petani Sumba Hadapi Musim Kemarau

Sumba Timur, Villagerspost.com – Hujan memang menjadi barang langka di Sumba Timur, khususnya di daerah Mauliru. Seingat saya, di Mauliru hujan pertama kali cukup besar turun tanggal 2 November 2019 lalu. Setelah itu hingga sekarang hujan tidak pernah turun lagi. Padahal di daerah lain, saat ini sudah masuk musim penghujan.

Bagi petani di Sumba Timur, ‘kelangkaan’ hujan ini merupakan tantangan yang harus dicarikan jalan keluarnya, agar usaha bertani bisa tetap jalan. Banyak berita mengabarkan, Sumba, memang sering dilanda kekeringan. Maklum, hujan kerap hanya turun selama 3 bulan, di musim penghujan dan selebihnya adalah musim kemarau yang berkepanjangan.

“Sekarang kita harus kerja keras Kang, bagaimana caranya supaya bisa tanam, biar nanti begitu hujan turun tanaman sayur sudah agak besar dan tidak perlu repot harus nyiram,” demikian usul seorang kawan di kebun Kanjonga Litang Organik, di Mauliru.

Usulnya disepakati. Maka aksi menyiasati musim kemarau pun mulai dilaksanakan dengan semangat. Para petani anggota Mauliru organik bekerja keras di ladang, dan tetap bersemangat sekalipun suara pacul dan tanah seperti beradu dengan batu saking kerasnya. Belum lagi debu yang kerap beterbangan mencekik jalan pernapasan.

Toh, kerja keras ini terbayar juga. Akhirnya tidak terasa beberapa bedeng persemaian sayuran sudah siap tanam. Mengingat hujan belum turun juga, otomatis petani di Mauliru Organik harus putar otak mencari air karena tanaman tetap butuh disiram.

Maka munculah ide-ide “gila”. Para petani Mauliru Organik memodifikasi motor bekas (yang tersisa hanya mesin dan rangka) agar bisa menaikkan air dari sumur dengan kedalaman 8 meter, kemudian dialirkan dengan menggunakan terminal besi pembagi air melalui selang plastik, agar bisa menggerakan kincir hingga menjadi seolah hujan buatan.

Hasilnya, mesin penyiram sederhana ini pun mampu menghidupkan lahan kering para petani. Bibit-bibit sayur bisa tumbuh dengan baik, sembari menunggu hujan turun dan ketika itu, tanaman sudah cukup baik untuk bisa bertahan. “Asssiiiiik aman euy..bisa hirup!” mungkin begitu teriak tanaman yang baru ditanam saat disiram dengan air “hujan buatan” ala petani Mauliru Organik.

Laporan/Video: Rahmat Adinata, penggerak pertanian organik, jurnalis warga untuk Villagerspost.com

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *