Tanam Kentang Organik Unggul Cara Petani Pangalengan | Villagerspost.com

Tanam Kentang Organik Unggul Cara Petani Pangalengan

Bandung, Villagerspost.com – Tujuan bertani tentunya adalah memetik hasil panen yang melimpah. Terlebih, seperti petani kentang di kawasan Pangalengan, Bandung, Jawa Barat, yang dianugerahi tanah yang subur. Namun, bagi Abdul Rozak Hamzah, modal tanah yang subur saja tidak cukup untuk bisa menghasilkan penen kentang yang unggul.

Selain pemilihan bibit, kata Rozak, perlakuan atas tanah juga harus dijaga agar tanah bisa terjaga kesuburannya. “Kuncinya tanah sebagai media tempat tanam harus sehat, bibit walau lokal harus unggul kemudian yang tidak kalah penting dari sisi perawatan dan cara pemberian makannya untuk pertumbuhan tanaman harus diperhatikan,” Rozak, petani sekaligus pemilik kebun kentang di daerah Legok Iso, Desa Sukamanah, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, kepada Villagerspost.com, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, bertani tidak sekadar tanam saja, namun yang harus diperhatikan kondisi karakter tanaman serta tanah yang akan digunakan, sebab akan berdampak pada hasil produksi nantinya. “Ada kebun, bibit, air, serta pemeliharaan lanjutan,” tuturnya

Untuk saat sekarang jika ingin budidaya kentang, kata Rozak, dari sisi pembiayaannya bisa dibilang mahal. Untuk modal menanam ada di kisaran Rp120 juta untuk setiap hektarenya. Namun juga bukan hal mustahil biaya tersebut bisa ditekan dengan tidak mengurangi hasil produksi panen. Caranya adalah dengan menerapkan sistem organik.

“Sudah masuk jalan dua tahun ini biaya penggunaan bahan kimia semisal pupuk dikurangi hingga 65 %. Gantinya ada intervensi aplikasi pupuk organik. Buktinya hasil bisa tetap bahkan naik, mungkin karena tanah kembali sehat, lihat saja pertumbuhan kentang ini,” terang Lalit, pengelola kebun kentang milik Rozak.

Dari semua jenis budidaya tanaman hortikultura, mungkin hanya kentang yang pembiayaan produksinya paling mahal dibandingkan dengan tanaman yang lainnya. Sedangkan jika produksi hanya mengandalkan input serba kimia sintetis, secara otomatis biaya meningkat, namun produksi semakin merosot. “Sebab kondisi tanah semakin rusak, unsur hara yang menyuburkan mati,” ujarya.

Laporan/Video: Rahmat Adinata, Praktisi Pertanian Organik, Anggota Gerakan Petani Nusantara, Jurnalis Warga untuk Villagerspost.com

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *