Ancaman Kelaparan di Tengah Pandemi Covid-19 | Villagerspost.com

Ancaman Kelaparan di Tengah Pandemi Covid-19

Ilustrasi pangan lokal pengganti beras. (dok. jabarprov.go.id)

Bogor, Villagerspost.com – Pandemi Covid-19 tidak hanya berpengaruh pada kondisi sosial, ekonomi dan budaya semata, tetapi juga berpengaruh hingga ke kedaulatan pangan. Kerawanan pangan menjadi ancaman yang paling nyata. Sebab, ada kemungkinan pandemi Covid-19 bisa menyebar ke desa-desa karena ada perpindahan orang dari zona merah Covid-19 di kota-kota, menuju ke desa. Dengan minimnya ketersediaan infrastruktur di desa, maka Covid-19 dapat mengancam para petani yang menjadi produsen pangan terbesar.

Ancaman kerawanan pangan bahkan sudah terjadi di beberapa wilayah. Lily Batara dari Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) mengungkapkan, di wilayah Depok, telah terjadi ancaman kerawanan pangan khususnya terhadap para pekerja di sektor informal. “Minggu lalu kami menemukan tiga rumah tangga mengalami perubahan pola konsumsi dan penurunan kualitas pangan di kalangan pekerja informal, akibat penurunan income secara drastis,” ujar Lily, pada diskusi secara daring Obrolin Pangan#9 bertajuk “Ancaman Kelaparan di Tengah Pandemi,” Kamis (9/4).

Salah satunya adalah seorang buruh cuci bernama Ibu Watiah. “Sejak 3 minggu lalu tidak ada panggilan sehingga pendapatan turun, sampai akhirnya terjadi perubahan pola makan dari nasi menjadi singkong itupun hanya satu kali sehari,” ungkap Lily.

Para pengurus RT tempat Ibu Watiah tinggal, telah melakukan tindakan mitigatif. “Akhirnya pekerja informal seperti Ibu Watiah mulai ada penghasilan dari kegiatan-kegiatan mitigatif tersebut. Saat ini adalah saat dimana kita melakukan solidaritas bersama agar bisa keluar dari ancaman wabah ini,” jelas Lily.

Roni Budi Sulistyo, Koordinator Bincang Pengembangan Kapasitas dan Kaderisasi PMD Ditjen PPMD Kemendesa PDTT mengatakan, pihak Kemendesa PDTT dalam mengantisipasi ancaman Covid-19 di desa-desa, telah mengeluarkan surat edaran (SE) pada akhri Maret lalu, yang berisi penegasan terkait pembentukan relawan Covid-19 di desa-desa yang diketuai oleh kepala desa. “Prosesnya dimulai dengan sosialisasi, pemahaman sikap yang harus dilakukan masyarakat untuk menanggulangi, misalnya penyemprotan disinfektan dan karantina warga yang datang dari kota atau luar negeri,” jelas Roni.

Untuk mendukung pemenuhan kebutuhan ekonomi warga terdampak, kata Roni, dalam SE tersebut juga dijelaskan terkait penggunaan dana desa untuk program padat karya tunai untuk mendukung ekonomi desa. “Sasarannya adalah masyarakat desa yang rentan dalam pelibatan pencegahan di level desa seperti untuk produksi masker, disinfektan, dan lainnya,” jelas Roni.

Sumber pendanaan utama program padat karya tunai ini adalah dana desa, sesuai Permendes 16 Tahun 2018 yang secara nasional dianggarkan sebesar Rp72 triliun. “Harapannya dana desa dapat dimanfaatkan untuk upaya penanggulangan Covid-19. Dana desa diarahkan ke ketahanan pangan, ketahanan masyarakat, dan bencana menjadi konsen dana desa. Saat itu (September) masih terbayang konsen hanya di bencana umum dan bencana alam,” ujar Roni.

Dia menjelaskan, untuk saat ini, diharapkan pada skala lokal desa, dampak Covid-19, khususnya terkait produksi pangan, dapat diintervensi dengan dana desa. “Prosesnya, dana ini ada di skala kebijakan nasional yang pilihannya bisa dilakukan di musyawarah desa,” jelas Roni.

Lantas bagaimana dengan penanganan pasca pandemi? “Kebijakan akan menyesuaikan situasi yang ada. Kementrian sosial, menkes, sudah merencanakan, penanganan pasca Covid-19. Bantuan tunai akan menjadi upaya ketahanan ekonomi. Kebijakan masih digodog,” ujar Roni.

Namun saat ini, kata dia, 80 persen dana desa masih mengarah ke pembangunan infrastruktur. “Harapannya bisa membuat recovery pasca Covid-19. Selain pangan, koordinasi antar sektor juga dilakukan untuk mendesain kebijakan untuk recovery termasuk untuk sektor wisata. Dirjen PPMD, secara nasional kebijakannya masih ditekan (nihil kunjungan wisata untuk mencegah penyebaran-red). Desain pengembangan pariwisata akan dilakukan kembali pasca Covid,” pungkasnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *