Blas Mengganas, Swasembada Beras Terancam Bablas | Villagerspost.com | Page 3

Blas Mengganas, Swasembada Beras Terancam Bablas

Diskusi "Penyelamatan Produksi Beras Nasional dari Ledakan Penyakit Blas" yang digelar Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB (dok. villagerspost.com/said abdullah)

Diskusi “Penyelamatan Produksi Beras Nasional dari Ledakan Penyakit Blas” yang digelar Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB (dok. villagerspost.com/said abdullah)

Kembali ke Pertanian Ekologis

Sementara itu, Direktur Klinik Tanaman, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB Dr. Ir. Widodo mengatakan, ada beberapa langkah penting yang harus diambil untuk mengatasi serangan blas. Hal terpenting, kata Widodo, adalah petani kembali ke pertanan ekologis atau pertanian selaras alam. “PHT (pengendalian hama terpadu-red) itu basisnya agroekosistem, lingkungan. Ini kalau kita kelola lebih dulu, sudah bisa menyelesaikan masalah,” katanya.

Bukti sahihnya adalah, persoalan seperti blas ini, pada beberapa tahun ke belakang tidak pernah terjadi ketika pertanian berjalan masih selaras alam. Dari literatur yang pernah ditelusuri, kata Widodo, catatan terkait blas pada tahun 1979 dan 1992, serangan blas di bawah 100 hektare dan itu hanya pada tanaman padi gogo atau padi ladang.

Kenapa hanya padi gogo? Secara teori, blas menyerang padi gogo karena lingkungannya memungkinkan yaitu, periode embun lebih panjang (lama), kandungan gula dan protein tanaman lebih tinggi, Kadar K (kalium) tersedia lebih rendah dan N (nitrogen) dalam bentuk NO3 karena air terbatas. Namun perubahan pola tanam ternyata membuat blas mengembangkan “wilayah kerja” hingga ke padi sawah.

Widodo mengatakan, tahun 1993 ditemukan serangan blas pada varietas atomita di padi sawah di kecamatan Darmaja, Sumedang. Kenapa bisa terjadi? Ternyata pola pertanian dengan menggunakan pupuk kimia tak seimbang, herbisida, fungisida, dan pestisida telah membuat lingkungan sawah menjadi serupa dengan lingkungan padi gogo yaitu kadar K tersedia lebih rendah, N dalam bentuk NO3 karena air terbatas, Pupuk N berlebihan, dan Mikroba menguntungkan dalam tanah tidak berkembang baik karena bahan organik kurang.

Berlebihannya penggunaan nitrogen ini sebenarnya, agak sedikit berbau kekonyolan. Unsur yang bisa membuat padi terlihat lebih hijau ini dipergunakan berlebihan karena petani senang melihat sawahnya menghijau. “Apalagi pupuk urea yang mengandung nitrogen harganya murah karena disubsidi,” kata Widodo.

Untuk mengatasi masalah ini ada beberapa langkah yang bisa dilakukan semisal menggunakan bibit tahan blas, melakukan pemupukan seimbang dan lain-lain. Namun sebelum itu semua dilakukan, kata Widodo, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengembalikan unsur hara tanah sesuai dengan alur alamiahnya.

Terkait penggunaan varietas tahan blas misalnya, akan berisiko. “Karena kita akan mengadakan perlombaan adu cepat antara perakitan varietas tahan versus kecepatan perubahan populasi varian genetik Pyricularia. Beranikah kita?” tanyanya.

Karena itu, jawaban terbaik adalah mengelola lingkungan agar tidak sesuai bagi berkembangan penyakit. Misalnya mengembalikan unsur kalium dan silikat serta mikroorganisme yang menguntungkan ke dalam tanah. Untuk mengembalikan unsur kalium dan silikat di tanah misalnya, sebenarnya ada cara yang paling mudah yaitu menggunakan jerami sisa panen yang dibiarkan membusuk secara alami di alam.

Atau dalam konteks persawahan di dekat peternakan, jerami diberikan untuk pakan ternak, namun kotoran hewan tersebut dikembalikan ke sawah sebagai pupuk alami untuk meningkatkan kadar kalium dan silikat dalam tanah. Selama ini, petani di beberapa daerah memberikan jerami untuk pakan ternak tetapi kotorannya tidak dikembalikan ke sawah. Atau jerami dibakar.

Membakar jerami ini menghilangkan unsur penting yang dibutuhkan tanah. Nitrogen akan hilang, unsur phospat berkurang 25%, kalium berkurang 20%, dan sulfur hilang 5-10%. Mikroba di tanah pun terpengaruh kehidupannya. Jika unsur-unsur yang hilang itu “dirupiahkan” dalam bentuk pembelian pupuk, kata Widodo, petani yang membakar jerami akan kehilangan uang senilai Rp1,7 juta per hektare lahan.

Jika seluruh luas sawah di Indramayu yang luasnya 120 ribu hektare misalnya, jeraminya dibakar, bisa dihitung sendiri berapa kerugian petani akibat kehilangan unsur-unsur hara yang diperlukan tanah itu. Padahal jika jermai dikembalikan ke tanah, maka petani di Indramayu tidak memerlukan subsidi pupuk yang menghabiskan dana hingga Rp66 miliar.

“Uang sebesesar itu bisa digunakan untuk hal lain semisal memberikan asuransi bagi pertanian. “Jika ini bisa kita lakukan swasembada Insya Allah tercapai,” pungkas Widodo. (*)

Laporan: Aldilla Rachmawati, Tim Jurnalis Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *