Covid-19: Disruptor atau Innovation Driven untuk Pangan Kita? | Villagerspost.com

Covid-19: Disruptor atau Innovation Driven untuk Pangan Kita?

Petani memanen semangka (villagerspost.com/runatin)

Bogor, Villagerspost.com – Pandemi Covid-19 memang menghadirkan tantangan yang pelik bagi berbagai negara dalam konteks menjaga ketersediaan pangan. Namun di sisi lain juga membuka peluang bagi adanya perubahan sistem pangan yang lebih baik.

Dr. Ir. Djuara P. Lubis dari Departemen Sains Komunikasi Pengembangan Masyarakat (SKPM) IPB mengatakan, survei di Asia menunjukkan suatu yang menggembirakan untuk kedaulatan pangan, karena konsumsi raw food meningkat, walaupun harga pangan menurun. Karena rantai pasok bermasalah dan menurunnya permintaan, maka banyak masyarakat yang berinisiatif melalui perangkat teknologi informasi mencoba menjembatani rantai pasok ini yang sekaligus bisa memperpendek rantai pasok pangan yang terlalu panjang, yang menyebabkan harga di tingkat konsumen tinggi.

“Kelompok WA langsung mendatangkan sayur, buah dari daerah produksi dan harga turun, sehingga langsung menjadi agen buah-buahan. Ini bisa jadi modal sosial yang selama ini tidak kita manfaatkan,” ujarnya, dalam webinar bertajuk: ‘Terus, Desa dan Petani Kudu Piye: Pasca COVID-19?‘, yang digelar beberapa waktu lalu.

Kondisi ini, kata dia, mendorong terjadinya perubahan pada pasar pangan baik lokal maupun dunia. “New normal pangan kita adalah de-globalisasi. Nggak ada lagi globalisasi pangan. Karena itu kita melakukan kemandirian pangan dengan memperhatikan pangan lokal,” jelasnya.

Alih-alih menjadi masalah, kata Djuara, pandemi Covid-19 ini justru bisa merangsang kita untuk melakukan inovasi sistem pangan. “Kalau selama ini kita agak bingung dengan bagaimana membangkitkan kedaulatan pangan, inilah saatnya. Kita membuat strategi kedaulatan pangan dalam berbagai tingkatan,” tegasnya.

Dia mengatakan, buruknya sistem pangan, saat ini lebih banyak dipengaruhi buruknya sistem komunikasi, terlebih di masa pandemi. “Informasi yang kita percaya jadi aneh-aneh. Karena kita tidak memiliki informasi yang benar dan baik tentang bagaimana menghadapi new normal tadi. Karena sosial media begitu cepat dibandingkan media tradisional, itu yang menurut saya yang membuat sistem informasi kita itu menjadi kacau. Kalau kita berbicara sistem komunikasi, syaratnya, keterpercayaan, kecepatan, kelengkapan, paparnya.

Bagaimana membangun sistem yang terpercaya, cepat, dan lengkap? satu hal yang perlu selalu dikomunikasikan adalah Covid adalah krisis. “Itu dasar utamanya dan kita harus berdampingan dengan Covid, dan itulah kehidupan yang dikatakan new normal,” ujar Djuara.

Dalam hal pangan new normal bisa berarti banyak hal. Pertama, edukasi tentang normal baru. Bahwa Covid berbahaya. “Yang masih agak berantakan, pemahaman Covid bukan pekerjaan individu, satu orang. Saya tiap hari cuci tangan, menjaga diri saya dari Covid, saya pergi ke pasar dan pasar tidak berbeda dari hari-hari sebelumnya. Ada dua arah dalam komunikasi, gerakan sosial, ini yang belum digarap dengan baik. Gerakan hidup sehat,” ujarnya.

Kedua, edukasi tentang pangan sehat. Bukan saja dari sudut pandang ekonomi, tapi juga kesehatan. “Pangan lokal sekarang menjadi pilihan. Susah mencari temulawak, jahe, jambu menjadi 30 ribu sekilo,” ujar Djuara.

Ketiga, korporasi petani adalah mutlak, tapi tidak harus berbasis korporat. Korporasi petani bisa berbasis komunitas dan komoditi. “Kita perlu berpikir korporasi petani berbasis sistem informasi. Kami pernah berkoordinasi dengan petani di Sebatik. Ini bagus jadi mereka tahu dimana ada pisang sehingga bisa memperjualbelikannya. Dimana produksi dan konsumsi bisa kita ketahui dengan cepat,” jelasnya.

Dengan cara seperti ini, maka pemasaran akan menjadi efisien. “Saya nggak tahu, tidak melihat bahwa Bulog satu-satunya yang harus bergerak memperbaiki rantai pasok kita. Bagaimana kalau melibatkan kantor pos kita menjadi terlibat dalam rantai pasok? Kantor pos kita sistemnya paling bagus di dunia lho, semua desa terjangkau. Mengapa ini tidak kita libatkan? Kalau terjadi hilirisasi dan distribusi pangan kantor pos pasti bisa menangani,” paparnya.

“Terakhir, modal sosial harus bisa kita bangun untuk merancang kemandirian pangan dan berbasis komunitas,” pungkas Djuara.

Editor: M. Agung Riyadi

Baca juga:
Meraba Nasib Desa Pasca Pandemi Covid-19

Pandemi Covid-19, Apa Dampaknya Pada Ketahanan Pangan?

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *