Inovasi Petani Muda: Genjot Pertanian, Selamatkan Ekonomi Dari Krisis

Para Duta Petani Muda di acara peluncuran buku “Mencari Petani Muda” (dok.oxfam/irwan firdaus)

Bogor, Villagerspost.com – Krisis ekonomi-sosial yang terjadi pada masa pandemi Covid-19 ini, ternyata menunjukkan betapa pentingnya sektor pertanian. Ketika sektor ekonomi lainnya seperti sektor finansial, jasa dan industri lainnya jatuh, sektor pertanian justru memainkan peran siginifikan mendongrak perekonomian agar tetap berjalan.

Contoh di lapangan membuktikan, sektor pertanian justru banyak menolong masyarakat untuk bisa bertahan dalam situasi krisis, mulai dari sebagai produsen maupun terlibat dalam rantai distribusi. Hebatnya lagi, sektor pertanian di masa pandemi ini juga lebih banyak digerakkan oleh anak-anak muda dan kaum perempuan.

Maya Stolastika Boleng, petani muda yang berkibar dengan usaha pertanian organik Twelve’s Organic mengatakan, situasi pandemi justru menjadi berkah tersembunyi bagi para pengusaha pertanian organik, khususnya para petani. “Ketika pandemi, pertanian organik tidak terlalu terdampak, secara produktivitas kita masih bisa melakukan kegiatan di kebun,” ujar Maya, dalam konferensi pers bertajuk: ‘Petani Muda, Pejuang di Masa Pandemi, dan Tonggak Sistem Pangan di Indonesia‘, yang dilaksanakan secara daring, Sabtu (24/10).

Bahkan, kata Maya, mulai awal pandemi sejak Maret hingga Juni atau awal Juli, produk pertanian organik mengalami lonjakan permintaan. “Baik di Asia maupun Indonesia mengalami kenaikan, kita melihat ini sebagai blessing in disguise, ketika masyarakat concern pada isu kesehatan, mereka melirik produk organik,” katanya.

Bahkan ketika situasi pandemi membuat perekenomian masyarakat memberat dan daya beli menurun, usaha pertanian yang dilakoni Twelve’s Organic tetap bisa berjalan dengan melakukan berbagai inovasi. “Untuk mengatasi daya beli yang menurun, kami begabung dengan komunitas, salah satunya Garda Pangan.

Lewat kerjasama dengan Garda Pangan, Twelve’s Organic memetakan pangsa pasar mulai dari masyarakat menengah ke atas hingga menengah ke bawah. Hasilnya, produk pertanian organik yang tadinya identik dengan kelas menengah ke atas, justru bisa masuk ke kalangan menengah ke bawah.

Caranya, Maya melakukan kesepakatan dengan petani dan konsumen untuk menetapkan di titik mana harga produk organik yang dijual, bisa diterima konsumen tetapi dari sisi produksi tidak merugikan petani. Hasilnya didapat kesepakatan yang semula harga satu paket berada di angka Rp14 ribu, turun menjadi Rp10 ribu.

Harga itu tetap membuat petani mendapatkan margin yang menguntungkan, namun tidak memberatkan konsumen yang turun daya belinya. “Yang menarik dengan harga tersebut, kalangan menengah ke bawah yang tadinya tidak tertarik membeli, kemudian karena merasa harga terjangkau, jadi mampu membeli, sehingga yang terjadi justru perluasan pasar,” ungkap Duta Petani Muda tahun 2016 itu.

Hal serupa juga dirasakan Catur Rini Cahyadiningsih, Female Food Heroes dan trainer hidroponik. Pada masa pandemi, kata Catur, banyak orang mencari sayuran hidroponik sehingga ada kebutuhan untuk memproduksi sayuran. Dalam situasi ini, Catur yang banyak memberikan pelatihan hidroponik, pun menghimpun para ‘muridnya’ yang juga mengikuti jejaknya untuk bertanam sayur hidroponik agar produksi mereka bisa dibantu penjualannya.

“Saya kan menanam di roof top, sehingga hasilnya lebih untuk kebutuhan keluarga, karenanya saya membantu yang lain agar panen mereka bisa diserap, supaya mereka juga bisa merasakan hasil dari bercocok tanam,” jelasnya.

Rici Solihin, Duta Petani Muda 2016 yang sukses dengan usaha budidaya paprika lewat Paprici Farm punya pengalaman sedikit berbeda. Dia mengakui, situasi pandemi sangat memukul usaha pertanian seperti yang dilakukannya karena dia menyasar hasil pemasaran ke pasar-pasar umum seperti pasar induk di Jakarta.

Situasi pandemi mempersulit pemasaran karena banyak angkutan logistik yang terhenti. “Bagi pertanian konvensional terdampak, karena konvensional targetnya ke pasar seperti pasar induk Jakarta. Logistik terhenti, penyerapan petani berkurang,” ujarnya.

Tetapi dalam situasi seperti ini, kata Rici, anak-anak muda justru memanfaatkan momentum tersebut untuk membantu petani. “Sebagai anak muda, duta petani muda kita tidak patah semangat ketika krisis kemarin justru kita memberikan dampak kepada petani yang membutuhkan kreativitas mengubah model bisnis, ketika pasar ditutup, dibatasi aksesnya langsung kita gencar pemasaran ke konsumen, akhir,” jelasnya.

Konsumen pun menyambut baik karena di masa pandemi mereka takut keluar rumah, dan di sisi lain ada layanan yang membantu mereka mendapatkan produk petani. Petani pun ikut terbantu menjual produknya. Bahkan beberapa inovasi anak muda ikut membantu petani bisa memasarkan produknya yang tadinya terdampak.

Misalnya ada kreasi membuat olahan jeruk lemon peras, lemon crust, dan sebagainya. “Tidak hanya membantu petani tetapi juga membantu yang tadinya tidak punya pekerjaan menjadi punya pekerjaan,” jelas Rici.

Pada masa sulit, dimana banyak anak muda kehilangan pekerjaan akibat pemutusan hubungan kerja, pertanian justru memberikan peluang kerja. “Banyak yang diputus kontrak dari pekerjaannya kemudian beralih menjadi re-seller produk pertanian,” ujarnya.

Petani pun juga bisa membuka peluang usaha lain di luar bertanam. Ketika semua bekerja dirumah, work from home, banyak yang memanfaatkan waktu dengan melakukan urban farming. Petani pun berinovasi tidak hanya menanam dan menjual produk pertaniannya, tetapi juga menjadi penyedia media tanam untuk para hobbyist seperti menjual pupuk organik, menyediakan pelatihan online dan lainnya.

“Jadi krisis memberikan dampak positif bagi mereka yang mampu memanfaatkannya,” pungkas Rici.

Koordinator Nasional Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) Said Abdullah menegaskan, masa depan pertanian Indonesia jelas ada di tangan perempuan dan petani muda. “Pandemi memberikan ruang baru, krisis akan selalu ada sisi baiknya, apakah kita bisa mengoptimalkan krisis menjadi opportunity, pikiran cerdas soal pemanfaatan situasi krisis ada pada pikiran anak-anak muda,” tegasnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Baca Juga:

Perempuan dan Petani Muda, Tulang Punggung Sistem Pangan Nasional

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *