Kampung Darim: Upaya Beradaptasi Dengan Perubahan Iklim | Villagerspost.com

Kampung Darim: Upaya Beradaptasi Dengan Perubahan Iklim

Diskusi bersama masyarakat Kampung Darim, terkait upaya beradaptasi dengan perubahan iklim di Bogor (m. agung riyadi/villagerspost.com)

Bogor, Villagerspost.com – Kabupaten Indramayu adalah salah satu kawasan lumbung pangan nasional, dengan luas lahan persawahan mencapai lebih dari 200 ribu hektare. Namun, seperti juga kawasan lumbung pangan lainnya di Indonesia, Indramayu merupakan kawasan yang rentan terhadap dampak perubahan iklim.

Lahan-lahan persawahan di Indramayu mengalami berbagai ancaman mulai dari kekeringan, banjir, intrusi air laut, hingga serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Jika berbagai persoalan ini tidak diantisipasi, maka akan berdampak pada penurunan produksi padi.

Untuk itu, para petani di Indramayu, saat ini mulai tergerak untuk meningkatkan kapasitas dan pengetahuan mereka dalam menghadapi ancaman perubahan iklim. Salah satunya dengan cara beradaptasi dengan perubahan iklim. Saat ini, kemampuan petani dalam beradaptasi dengan perubahan iklim memang masih rendah. Dengan demikian daya tahan (resiliensi) petani meningkat.

Kepala Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, IPB University Dr. Suryo Wiyono mengatakan, saat ini petani di desa-desa memang masih rendah sensitivitasnya terhadap perubahan iklim yang terjadi di lingkungannya. Banyak penyebab terjadinya masalah ini, salah satunya adalah kurangnya informasi dan pengetahuan petani.

“Rendahnya kapasitas adaptasi dengan perubahan iklim ini memerlukan upaya peningkatan kemampuan petani beradaptasi dengan berbagai cara mulai dari modifikasi budidaya, varietas, pupuk dan input lainnya,” kata Suryo, dalam acara kick-off meeting program “Penguatan Daya Lenting Masyarakat Desa Kendayakan Menghadapi Perubahan Iklim”, di Bogor, Sabtu (15/8).

Desa Kendayakan, salah satunya di kawasan Kampung Darim, merupakan salah satu kawasan desa, yang masyarakatnya kini sudah mulai menyadari pentingnya upaya adaptasi terhadap perubahan iklim. Desa Kendayakan sendiri secara umum memiliki luas areal persawahan semi teknis mencapai 441 hektare dan 39 hektare lahan sawah irigasi tersier, dan 32% penduduknya bekerja sebagai buruh tani.

Khususnya di Darim, menurut Dul Fattah, tokoh pemuda setempat, kawasan ini sendiri merupakan salah satu kawasan yang unik di Indramayu. Pasalnya, Kampung Darim sendiri tidak seluruh wilayahnya ada di wilayah administrasi Desa Kendayakan. “Kampung Darim adalah kampung yang posisi administratifnya ada di wilayah dua desa dan dua kecamatan yaitu Kendayakan, Kecamatan Terisi dan Desa Puntang, Kecamatan Losarang,” ujarnya.

Posisi unik Kampung Darim ini sendiri tidak terlepas dari sejarahnya di masa lalu. Dul bercerita, kawasan Darim dahulu merupakan dataran tinggi yang memang terletak di antara dua desa tersebut. Kawasan itu disepakati warga dari dua desa tadi untuk dijadikan tempat penimbunan padi sementara setelah panen.

“Kenapa namanya Kampung Darim, karena konon dulunya yang tinggal di kampung tersebut adalah Bapak Darim. Kawasan itu dulunya dinamakan Bunen atau tempat menimbun padi sementara, karena lahan sawah jauh mereka terpaksa membuat tempat tersebut. Penjemuran juga dilakukan di Bunen sebelum dibawa ke desa masing-masing,” jelas Dul.

Lama-lama, Ki Darim yang merupakan buruh tani, berinisiatif untuk tinggal disana, dan tidak mempunyai keturunan. Tetapi ada beberapa warga yang mengikuti, sehingga akhirnya lama kelamaan menjadi kampung yang letaknya di antara dua desa. Nama Bunen sendiri lama kelamaan tidak dikenal berganti menjadi nama Kampung Darim.

Di Darim, total areal persawahan mencapai 68 hektare dimana sebanyak 62 hektare milik warga Puntang, dan 6 hektare milik warga di Kendayakan. penduduk Darim saat ini berjumlah 438 jiwa (data sensus 2019) terdiri dari 281 laki-laki dan 220 perempuan.

Petani di Darim, kata Dul, memang menghadapi beragam persoalan mulai dari pendidikan yang rendah, hingga rentan terhadap kekeringan di musim kemarau dan ancaman banjir di musim penghujan. “Di Darim belum ada sarana pendidikan, kesehatan, pasar dan sebagainya,” ujar Dul.

Karena itu, untuk memajukan kampungnya, Dul bersama beberapa anak muda di Darim membentuk Forimber (Forum Darim Bersatu) di tahun 2009. “Forum ini digagas untuk mempersatukan masyarakat Darim secara budaya dan sosial untuk kemajuan bersama,” tegasnya.

Melalui Forimber, Dul berharap, masyakarakat Darim bisa bekerjasama dengan berbagai pihak untuk bisa meningkatkan kapasitas mereka baik dalam masalah pertanian maupun pengetahuan lainnya. Terkait pertanian, ujar Dul, saat ini kapasitas petani di Darim masih terhitung rendah. “Pengolahan lahan masih sangat sederhana/mengikuti kultur orang dulu, pembenihan juga masih kurang. Masih ada yang asal, mengikuti yang sedang booming tanpa mengetahui fakta yang ada. Dan di indramayu masih seperti itu, misalnya menanam benih yang belum teruji,” paparnya.

Untuk pemeliharaan tanaman pun, kata Dul, masyarakat masih minim pengetahuannya. “Saat nyemprot masih apa kata teman, ini harus disemprot atau nunggu yang lain. Tidak ada hitungannya. Upaya preventif atau penanggulangan masih sulit. Agar bagus mengikuti pupuk maka akan bangkrut karena harga pupuk mahal. Kalau tidak membeli pupuk maka hasil akan menurun,” ujar Dul.

Kemudian masalah irigasi. Di Darim memang ada sungai, namun nyaris tidak ada air yang mengalirinya di musim kemarau. Di musim penghujan, airnya mebanjir. Mengandalkan irigasi pun sulit karena selain irigasi tersier, juga letak Darim yang ada di ketinggian, membuat mustahil untuk mengalirkan air dari saluran induk, dan sekunder ke irigasi yang ada di Darim.

Pun demikian dengan adaptasi iklim. “Tidak ada akses pengetahuan terhadap iklim,” ujarnya. Karena itu, Dul berharap, dengan adanya kerjasama dengan pihak KRKP yang didukung oleh Yayasan TIFA dan ahli-ahli dari IPB, bisa memberikan harapan bagi warga Darim khususnya, dan Desa Kendayakan umumnya. “Harapannya ada perubahan setelah satu tahun program kerja. Karena dari iklim sendiri kita tidak bisa menentukan akan menanam apa. Asal ada tanah kosong di tanam saja tanpa tau soal iklim,” jelas Dul Fattah.

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *